Rahasia kecerdasan siswa SMART Ekselensia Indonesia

Rahasia kecerdasan siswa SMART Ekselensia Indonesia

Saya pernah meminta siswa untuk membuat cerita tentang pengalaman mereka bersama Al-Qur`an. Ternyata isi tulisan mereka hampir sama. Mereka mengenal Al-Qur`an saat sudah masuk SMART Ekselensia Indonesia. Ini tentu menjadi perjuangan yang berat untuk mereka, baik dalam membaca (tilawah) maupun menghafal. Lain halnya jika proses berinteraksi dengan Al-Qur`an sudah dimulai sedini mungkin, saat mereka masih kecil. Sebagian mereka bercerita bahwa tidak ada yang sulit dalam berinteraksi dengan Al-Qur`an. Kisah mereka bersama ibu-ibu mereka dulu pun menjadi kenangan indah saat mereka jauh dari keluarga dan bertemu kembali dengan Al- Qur`an di SMART.

Fenomena ini membuat saya semakin merindukan bahwa Al-Qur`an memang harus menjadi yang pertama dan utama untuk diajarkan pada siswa-siswa SMART Ekselensia Indonesia dan buah hati kita di rumah. Fokus mengajari mereka, terutama dalam kemampuan ber-Qur`an yang mumpuni. Tidak terbayangkan bila kemampuan mumpuni ini sudah ada sejak kecil, maka ilmu-ilmu lain pun terserap oleh otak mereka bagai tarikan magnet.

Fakta ini merupakan janji Allah. Terbukti dalam sejarah, bahkan penelitian masa kini pun semakin menguatkan. Ulama-ulama Islam terdahulu tidak menerima apa pun untuk belajar sebelum membaca, menghafal, dan mempelajari Al-Qur`an. Hasilnya tidak hanya berupa kecerdasan, tapi juga akhlak. Dari tradisi ini, dihasilkanlah orang-orang pintar seperti Imam Syafi’i (pakar ilmu fikih), Ibnu Sina (ahli kedokteran), al-Jabar (ahli matematika), dan masih banyak nama lainnya.

Bukan proses yang sebentar dan mudah guna menuju cita-cita itu. Proses ini merupakan jalan panjang yang harus terus diperjuangkan. Bukan hanya sampai siswa-siswa dinyatakan lulus, tapi juga sampai mereka menghadap Allah. Selama bersama Al-Qur`an, Allah akan menjaga mereka, meliputi keberkahan dunia dan akhirat. Adakah nikmat yang lebih besar daripada jaminan masuk surga?

Keberhasilan siswa ada pada usaha orangtua, selain juga guru. Seorang ibu adalah sosok yang seharusnya bersama anak lebih lama dibandingkan sosok yang lain. Bagaimana dengan siswa SMART yang hidup tidak bersama ibu dan ayah? Peran orangtua sehari-hari memang nyaris diwakili oleh para guru, baik di kelas maupun asrama. Namun, ini tidak berarti menihilkan andil orangtua. Walaupun dipisahkan oleh jarak, orangtua dapat mengajarkan anak secara tidak langsung.

Misalnya saat orangtua menelepon, anak-anak selalu ditanyai perkembangannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur`an. Orangtua terus memberikan dorongan dan motivasi yang kuat agar buah hatinya terus mencintai Al-Qur`an. Bila saat berjauhan saja disarankan untuk terus menguatkan anaknya, lebih-lebih saat siswa bersama mereka pada saat liburan di rumah. Intinya, pengawasan pada anak harus selalu ada, dalam hal ini memantau interaksi siswa SMART dengan Al- Qur`an.

Di sinilah salah satu cara SMART sebagai lembaga pendidikan menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa Al-Qur`an sebagai pedoman hidup mereka selaku insan beriman di Indonesia perlu diakrabi. Sejak selepas subuh hingga subuh kembali, aktivitas sehari-hari di sekolah dijalankan dengan tetap berinteraksi dengan Al-Qur`an di waktu-waktu tertentu yang diprogramkan. Tidak langsung banyak, yang penting bertahap dan berkesinambungan. Dari sini, cinta kepada Al-Qur`an dipupuk tanpa henti. []

Kontributor : Saifullah Amin (Guru SMART Ekselensia Indonesia)