Ramadan, Bulan yang Istimewa

Oleh: Retno, Guru SMART

Ramadan adalah bulan yang paling istimewa.

Alhamdulillah, Ramadan sudah di depan mata. Bagaimana tidak dicinta, bagaimana tidak dirindu, bagaimana tidak istimewa, pada bulan ini Allah melipatgandakan amalan dan pahala untuk makhluk-Nya. Saat semua segera berlomba mendekatkan diri pada Allah, hening, syahdu, terasa teduhlah yang tercipta. Di antaranya juga terasa benang-benang riang dan gembira seiring kalimat-kalimat kecintaan pada Allah, kitab Allah, serta Rasul Allah.

Tak terkecuali pula pada siswa SMART. Hari sibuk siswa SMART akan lebih sibuk daripada biasanya. Di pojok masjid, di sudut taman bundar, di bilah anak tangga, di teras laboratorium, di antara rak buku perpustakaan, di antara pergantian pelajaran, tidak hanya pelajaran atau masalah dunia yang mereka tuntaskan. Terkadang satu atau dua siswa menyempatkan diri menuntaskan tilawah agar target Ramadan ini segera dapat dilampaui.

“Siapa yang sudah khatam?”

“Saya, Zah.”

“Saya, Zah.”

“Saya, Zah.”

Bangga, kadang malu bukan main kalau mengetahui capaian tilawah mereka. Baru seminggu Ramadan, banyak yang sudah khatam, bahkan sudah mulai khataman berikutnya. Siswa SMART memang paling bersemangat amalan tilawah dan tasmi.

Kalau tentang puasa, tidak perlu ditanya. Siswa SMART sudah terbiasa puasa sunnah pada Senin dan Kamis. Puasa sebulan insya Allah bukan hambatan. Mereka dapat melewati pelajaran dengan penuh tawa atau menuntaskan proyek serta produk dengan memuaskan.

Lelah, iya. Setiap hari demikian pun saat Ramadan mereka mulai dengan ibadah qiyamul lail. Setelah sahur, mereka melanjutkan dengan tilawah menunggu azan subuh. Sholat subuh berjamaah disambung dengan zikir pagi. Kemudian, mereka mulai persiapan sekolah atau kembali bertilawah sambil menunggu antre kamar mandi.

Letih, iya. Biasanya mereka membebaskan rasa letih dan lelah itu bada sholat jamaah zuhur dan tilawah. Saat itu suasana masjid akan hening. Sebagian besar siswa bukan ke mana-mana. Mereka tetap di masjid, hanya mimpi mereka sudah sampai ujung dunia. Mungkin menjadi seseorang yang membahagiakan keluarga dan kedua orang tua mereka, mungkin menuntaskan keinginan untuk bertualang ke pantai yang belum pernah dikunjungi, atau sedang menebar kebaikan kepada yang membutuhkan, begitu mungkin mimpi mereka saat istirahat siang di tengah ibadah puasa.

Gampang-gampang, susah ya, dalam menyadarkan dari mimpi mereka. Kalau sudah bangun pun, terkadang ada beberapa yang masih termangu-mangu, membawa badan yang lemas. Kalau sudah demikian, kelas perlu ice breaking. Alhamdulillah kalau ada games, akan lebih cepat lagi mereka tersadar. Sesudah itu, mereka tertawa, ceria, dan siap untuk belajar.

Bada sholat berjamaah ashar dan zikir sore merupakan waktu bebas mereka. Jika ada yang masih lelah, mereka menutup mata kembali. Namun, tak sedikit yang beraktivitas kembali. Ada yang bertilawah dan bertasmi, setoran dengan ustaz. Ada yang kembali ke kelas untuk berbagai keperluan. Ada yang menyelesaikan tugas. Ada yang sedang menutup nilai dengan remedial. Ada yang membantu mempersiapkan buka bersama kalau kelasnya mengadakan buka bersama dengan teman satu angkatan. Ada yang persiapan lomba untuk lomba dari sekolah di luar SMART. Ada pula yang berlatih untuk penampilan di dalam maupaun di luar SMART.

Nah, inilah yang istimewa dari kegiatan siswa SMART pada bulan Ramadan.

Sudah tahu, kan kalau ada sebagian siswa SMART yang berbakat di bidang kesenian? Ada yang terampil menari saman serta tari indang. Ada yang pandai memainkan musik ensambel dan musik hadrah atau marawis. Bahkan, ada yang piawai bermain musik perkusi dengan alat musik barang bekas. Kelompok musik ini terkenal dengan sebutan trashic atau trash music.

“Zah, sudah ada undangan?”

“Kapan diundang lagi, Zah?”

“DD ada acara, Zah?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sering mereka tanyakan kalau sudah lama tidak ada undangan untuk tampil, terutama undangan pada kegiatan DD. Memang selain terampil, mereka juga jago menampilkan kepiawaian mereka, baik pada acara SMART, DD Pendidikan, DD, maupun undangan dari sekolah atau lembaga yang lain.

Terkhusus pada bulan Ramadan, para siswa yang berbakat ini hampir selalu tampil. Biasanya mereka mengisi acara dalam kegiatan safari Ramadan DD. Mungkin penampilan ensambel, mungkin tari saman, namun lebih sering trashic yang diminta tampil, bahkan sampai dua atau tiga kali tampil.

Tidak mengherankan jika diiyakan, pertanyaan mereka akan berubah.

“Tampil kapan, Zah?”

“Tampil di mana, Zah?’

“Acaranya apa, Zah?”

Kalau sudah demikian, mereka akan sibuk latihan. Alhamdulillah, mereka sudah paham kalau mereka harus latihan. Mereka juga disiplin berlatih walaupun sedang berpuasa.

Terbayang, bukan? Tanpa puasa saja, badan sudah letih setelah seharian belajar di sekolah. Rasanya pasti letih bukan main kalau masih harus berlatih tari saman. Kaki ditekuk, badan menopang, tangan dihentak, dan teriakkan wibawa tari saman. Demikian diulang sampai kompak dan sempurna.

Yang berlatih trashic juga tidak dapat santai. Tertinggal satu ketukan saja, musik mereka tidak akan kompak. Kalau sudah begitu, lagu harus diulang. Tidak sekadar pukul yang keras atau serasikan dengan melodi, mereka juga sempat variasikan gaya supaya jadi ciri khas band mereka.

Beda lagi, nih cerita dari tim ensambel. Mereka hanya latihan bersama pada hari libur sekolah. Jadwal ini menyesuaikan jadwal Bunda Ery sebagai pelatih tim ensambel.

Tahulah mood ketika hari libur, rasanya ingin bebas rebahan, apalagi pada hari libur. Alhamdulillah, sebagaian besar anggota tim hadir. Namun, tampaknya mereka menggunakan sisa tenaga. Karena sangat lelah, lama kelamaan, mereka berlatih sambil merem melek, sandar ke dinding, lama-lama tertidur. Ada pula yang pasrah rebah di karpet ruang musik. Setelah dibangunkan, lanjut tiup rekorder lagi, lanjut gesek biola lagi lanjut pukul bass lagi. Demikian sampai latihan berakhir.

Yang lucu sewaktu Bunda Ery kehilangan salah seorang pemukul gambang.

“Gambang? Mana gambang, ya?”

Karena tidak ada sahutan, saya dan siswa yang lain turut membantu.

“Jevin! Jevin!” Sambil celingak-celinguk, bahkan ke luar.

Ternyata, Jevin, siswa Kelas IX SMP SMART ini ditemukan sedang asik bermimpi sambil rebahan di antara kaki gambang sehingga tidak terlihat.

Jerih payah latihan itu terbayar ketika tampil. Alhamdulillah, sejauh ini para siswa dapat menampilkan yang terbaik untuk pada tamu. Seperti misalnya keriuhan trashic dapat mengundang kerumunan. Suara berisik di tengah mal itu membuat para pengunjung mal penasaran. Lalu, mereka datang ke asal suara dan menikmati alunan musik bersama.

Demikian pula dengan penampilan tari saman. Penampilan para siswa selama ini selalu menarik perhatian. Bukan saja kenyataan bahwa mereka adalah laki-laki yang dapat menari saman bersama, tetapi juga variasi gerak, suara, serta kekompakan para siswalah yang membuat mereka selalu menjadi pusat perhatian.

Tentu saja para siswa memperoleh banyak hal dari kegiatan ini. Di antara pengalaman tampil di panggung, mereka dapat bertemu dengan orang banyak orang. Selain itu, mereka dapat pergi ke tempat yang belum pernah ditemui, sampai mendapati menu buka puasa yang tidak biasa.

“Bunda pasti menegur kalau tahu saya minum minuman bersoda untuk buka.” Ujar Agung, siswa Kelas XII SMA SMART yang sekarang sudah lulus dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri lewat jalur undangan, sewaktu mendapatkan takjil sore itu.

Kurang dan lebih dari pelaksanaan tiap kegiatan selalu para siswa syukuri. Alhamdulillah, mereka bahagia setelah tampil. Mungkin karena membuat bahagia orang lain yang menyaksikan mereka, mereka juga mendapatkan yang serupa. Berharap, pengalaman yang membahagiakan ini akan membawa berkah sehingga menambah istimewa bulan Ramadan.

Apapun itu, Ramadan tetap bulan yang paling istimewa.

Ramadan ini barangkali akan berbeda. Kalaupun Ramadan ini para siswa belum dapat beraksi di panggung dan membahagiakan pengunjung, tak apa. Jika Ramadan ini tak ada kemeriahan, rasanya Ramadan tetap istimewa.

Malahan, siswa SMART dapat beribadah dengan lebih khusyuk. Ada banyak waktu lebih sehingga lebih banyak lagi kesempatan mendekatkan diri kepada Allah. Ramadan ini kurang istimewa apa, coba?