Ramadan dan SMART. Sebuah Kisah di Masa Lalu

Ramadan dan SMART. Sebuah Cerita

Syahrizal Rachim. Alumni SMART Angkatan 10. Berkuliah di UNPAD Jurusan Hukum

 

Ini adalah kisahku selama menjalani Ramadan di SMART, sebuah kisah yang tak akan pernah aku lupa walau sudah tak lagi bersekolah di sana. Beberapa bagian dari kisah ini mungkin sudah tak relevan, tapi aku harap kamu bisa menikmatinya.

“… waktu telah menunjukan pukul empat pagi. Segera bangun dan santap sahur di kantin!,” seru seorang wali asrama kami yang membangunkan siswa-siswa tercintanya untuk santap sahur melalui pelantang suara.

Hari itu masihlah sangat gelap. Ayam-ayam pun belum sempat berkokok tanda mentari masih malu-malu menampakan dirinya. Akan tetapi,kami sudah harus bangun dan bersemangat memulai aktivitas di bulan penuh ampunan ini. Santap sahur secara bersama-sama mengawali aktivitas harian kami di bulan ini. Sebenarnya tidak ada perasaan sahur yang berbeda dengan sahur di bulan-bulan lainnya karena di asrama pun kami sudah dibiasakan sahur untuk menjalankan puasa sunnah. Lantas,setelah dirasa cukup kenyang, kami langsung bersiap menuju masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. Banyak siswa yang memaksimalkan waktu untuk mencapai target tilawah di bulan penuh berkah.

Kegiatan belajar di sekolah secara reguler tetap dilaksanakan walau ada sedikit perbedaan kegiatan di siang hari,yaitu kultum yang disampaikan oleh para ustad. Mereka tidak bosan-bosan untuk memotivasi siswa agar memaksimalkan potensi ibadah kita. Matahari yang semakin menuruni langit menjadi tanda akan dilaksanakannya  buka puasa bersama. Buka puasa bersama menjadi momen menjalin silaturahim dan melepas penat secara menyenangkan setelah berpuasa seharian penuh. para siswa biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan nama sahabat rasul dari kelas satu hingga lima.

Momen kece selanjutnya adalah salat tarawih. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti salat tarawih secara tertib dan berjamah. Hampir tidak ada yang berbeda dari pelaksanaan salat tarawih kebanyakan, kami tidak luput untuk menambah tabungan tilawah setelahnya. Buku-buku pelajaran sekolah telah menanti untuk dibaca sebelum kami beristirahat menutup hari yang indah di bulan penuh rahmat ini. Kebetulan, pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun bertepatan dengan ramadhan. Akan tetapi, kami tetap bersemangat dan fokus meraih hasil ujian yang terbaik.

Setelah bergulat dengan soal-soal ujian, akhirnya, tiba juga liburan akhir semester. Dalam liburan kali ini, diisi dengan berbagai kegiatan menyemarakkan Ramadan. Dari sisi kreativitas dan seni, terdapat lomba menghias kamar dan asrama dan menghias parsel . Setiap siswa saling bekerja sama mengembangkan kreativitas dan potensi untuk meraih hasil yang terbaik. Tak pelak, seluruh sudut asrama penuh dengan dekorasi bertema Ramadan, sahabat nabi, kota-kota bersejarah, dan lainnya. Parsel-parsel lebaran juga disulap menjadi rapi dan menarik serta memilliki nilai yang lebih tinggi.

Dari sisi olah suara,terdapat lomba azan. Para muazin-muazin terbaik SMART saling beradu kemampuan untuk menjadi yang terbaik dalam kompetisi ini. masing-masing pemenang lomba mendapatkan hadiah menarik dan pastinya memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dalam semarak Ramadan.

Setelah asik berkecimpung dalam dunia lomba-lomba, pada malam 17 Ramadan, diadakanlah sebuah acara untuk memperingati pertama kali diturunkan Al-Quran, Nuzulul Quran. Setiap siswa dibagi menjadi beberapa halaqoh untuk menuntaskan tilawah 30 Juz. Setelah tilawah usai, ustad-ustad memberikan kajian tentang keutamaan Al-Quran dan memberikan penghargaan kepada siswa dengan tilawah terbanyak. Tak disangka, banyak diantara teman-temanku mendapatkan penghargaan tersebut. Hal ini semakin menguatkan semangatku untuk selalu berusaha terbaik.

Disaat sepuluh malam terakhir,terdapat sebuaha kegiatan yang menjadi rutinitas ku selama Ramadan, Itikaf. Dalam kegiatan Itikaf, siswa-siswa disebar ke berbagai masjid untuk melaksanakan sunnah nabi tersebut. Di sana kami tidak hanya sekadar beristirahat melainkan menambah keberkahan Ramadan dengan mengikuti kajian-kajian, bertilawah, dan salat tarawih serta tahajud berjamaah. Banyak diantara kami saling bercengkrama dengan sesama peserta itikaf ldari berbagai untuk saling menebar keceriaan dan pesan-pesan Ramadan.  Malam yang paling kami nantikan dan harapkan akan tiba, Lailatul Qadar. Walaupun tidak ada yang tahu persis kapan ada Lailatul Qadar, tetapi beberapa sumber banyak yang menyebutkan bahwa malam yang lebih baik daripada 1000 bulan tersbut jatuh pada tanggal ganjil di 10 malam terakhir Ramadan. Banyak peserta Itikaf yang bersungguh-sungguh dalam beribadah untuk mendapatkan kesmpatan malam yang penuh dengan kedamaian tersebut

Selain mengikuti Itikaf, beberapa teman kami terpilih untuk mengikuti kegiatan Homestay. Dalam kegiatan Homestay,dipilihlah beberapa siswa menginap bersama kelurga donatur untuk saling berbagi keceriaan di bulan penuh kemuliaan. Selain itu, dengan mengikuti Homestay, diharapkan mendapat  inspirasi-inspirasi untuk menggapai kesuksesan di masa depan.

Di masa pengujung bulan kemuliaan, sebuah aktivitas yang kami nantikan akhirnya tiba, takbiran. Seluruh siswa bersuka cita menyambut datangnya Idul Fitri sekaligus sedih ditinggal bulan yang penuh dengan rahmat dan hidayah. Semoga Ramadan-Ramadan selanjutnya kita lebih maksimal beribadah dan banyak menebar keceriaan serta senyuman impian sesama umat manusia.