Oleh: Uci Febria, Guru SMART

 

“Anak perempuan itu terlihat khusuk mendengarkan ceramah Ustaz Darami. Sambil sesekali menggoreskan pena di buku yang dipegangnya. Setelah Ustaz  Darami menyelesaikan tausiyahnya, anak perempuan itupun bangkit dan malu-malu maju kedepan menuju kerumunan anak-anak yang lain. Setiap anak itu memegang buku yang kemudian dikumpulkan dan diberikan kepada Ustaz Darami untuk ditanda tangani. Setelah di tanda tangani, buku itu akan dikembalikan kepda anak-anak. Sebuah senyum kecil muncul di muka anak perempuan itu saat ia menerima kembali bukunya. Tuntas sudah tugasnya hari ini, saatnya pulang dan istirahat untuk bangun pagi dan melaksanakan sahur bersama keluarganya.”

 

Aktivitas pada penggalan cerita di atas adalah aktivitas rutin yang selalu terjadi di malam Ramadan di desa kami, waktu saya masih sekolah. Buku apakah yang kami bawa tiap malam ke masjid saat shalat tarawih? Buku itu adalah buku wajib yang selalu ada saat Ramdhan, judul bukunya adalah buku Kegiatan Ramadan. Itu adalah satu diantara sekian banyak hal yang pasti ada di Ramadan kami. Apa saja ya? Simak yuk

  1. Buku Kegiatan Ramadan

Buku ini berisi rekaman setiap kegiatan yang dilakukan selama bulan Ramadan. Isinya mulai dari sahur sampai berbuka. Shalat fardhu, shalat sunnah, sahur, berbuka, catatan ceramah ustaz. Bahkan apakah hari itu kami puasa atau tidak harus dicacat di buku itu. Buku ini mengajarkan pentingnya kejujuran dan keberanian. Berani menuliskan apa adanya yang terjadi di hari itu. Bukan akhirnya diisi chelkist semua, padahal tidak dikerjakan. Buku ini juga melatih kesungguhan dan kesabaran. Sungguh-sungguh saat mendengarkan ceramah ustaz dan menuliskan kembali di buku masing-masing. Sabar menunggu saat antri meminta tanda tangan. Apa lagi kalau ustaz yang mengisi ceramah saat itu berasal dari luar desa. Adanya buku ini, mengharuskan setiap anak untuk melaksanakan shalat Taraweh di Masjid. Walau tidak sedikit juga yang akhirnya menitipkan buku mereka ke kakak atau orangtua mereka saat memasuki hari-hari akhir Ramadan.

 

  1. Lilin dan Tempurung Kelapa

Dua benda ini pasti selalu menemani hari-hari Ramadan kami. Di tahun 1990an desa kami belum ada listrik. Tidak ada penerangan di jalan. Jadilah kami harus mencari alat yang bisa menerangi jalan kami menuju masjid. Orang dewasa biasanya pakai senter, anak-anak seperti kami lebih memilih lilin kecil warna warni yang ditempelkan di tempurung kelapa, yang sekaligus juga berfungsi menampung sisa lilin hasil pembakaran. Bagi yang kreatif, setelah nanti tempurungnya penuh maka akan dipanaskan sampai lilinnya mencair kemudian diberi benang kasur yang berfungsi sebagai sumbu. Dan jadilah lilin tempurung kelapa. Ada keseruan tersediri ketika kami berangkat bersama sama menuju masjid dan masing-masing membawa lilin dalam tempurung.

 

  1. Obor minyak tanah

Selain lilin, alat penerangan lain yang sering kami gunakan adalah Obor minyak tanah. Obornya dibuat dari bambu dan kaos bekas. Biasanya yang sering memakai obor adalah anak laki-laki. Selain untuk menerangi saat perjalanan menuju masjid, obor ini juga digunakan untuk menerangi bagian luar masjid karena lampu petromax hanya cukup untuk menerangi bagian dalam masjid. Saat ini mungkin agak sulit ya untuk membuat obor, karena minyak tanah sudah susah untuk ditemukan.

 

  1. Boardgame jadul

Kalau sekarang kita mengenal begitu banyak jenis boardgame. Kalau dulu, jenisnya itu itu saja dan rata-rata kami memainkannya di bulan Ramdhan atau lebaran. Halma, Ular Tangga dan Ludo menjadi pilihan kami untuk menunggu waktu berbuka puasa. Tentunya setelah menyelesaikan target tilawah saat itu. Tapi jangan dibayangkan target tilawah kami sama seperti anak-anak saat ini. Dulu target tilawah kami hanya sekedar untuk bisa checklist di buku kegiatan Ramadan kami. Jaulah dari anak-anak sekarang yang sudah punya target untuk bisa khatam minimal satu kali. Bahkan anak SMART bisa khatam lebih dari 5 kali selama Ramadan.

 

  1. Kembang Api

Kembang Api dulu merupakan barang mewah di desa kami. Biasanya Kembang Api baru dijual di  bulan Ramadan. Di keluarga kami, kembang api menjadi reward di akhir pekan jika puasa selama pekan itu penuh. Bermain kembang Api menjadi salah satu hiburan bagi kami saat pulang taraweh atau di waktu sahur.

 

  1. Bedil

Sistem kerjanya seperti meriam. Dibuat dari bambu. Salah satu ujungnya dibuat bolongan untuk memasukkan minyak tanah dan garam. Jika lubang tersebut disulut dengan api maka akan terdengar bunyi dentuman seperti meriam. Permainan itu juga umumnya dimainkan saat Ramadan oleh anak laki-laki setelah pulang taraweh dan tadarus di masjid. Walaupun saat itu bagi sebagian orang suara dentuman bedil ini menggangu, tapi sekarang menjadi hal yang dirindukan. Sekarang banyak anak laki-laki lebih senang menghabiskan malam dengan bermain games.

 

  1. Menjadi Ustad/Ustazah sehari

Inilah momen yang paling menegangkan. Jadi di setiap bulan Ramadan itu di masjid desa kami selalu ada kultum setelah shalat Isya. Dan yang mengisi kultum tidak hanya Ustaz. Anak-anak sekolah mulai dari SD kelas 5 – SMA yang ada di desa kami ditantang untuk bisa memberikan kultum di depan masjid. Dihadapan orangtua kami.   Pastinya setiap kami yang tampil selalu ada hal seru. Dari yang tiba-tiba saat ada di depan tidak bisa mengucapkan apa-apa, lupa salam pembuka sampai ada yang mandi keringat.

 

Nah itulah hal-hal seru di bulan Ramadan waktu saya kecil di era 1990an. Keseruan yang mungkin akan sulit ditemukan sekarang. Jamannya sudah beda, tantangan dan keseruannya juga beda. Begitu juga pastinya dengan Ramadan kita tahun ini. Di masa pandemi covid-19, dimana semua dianjurkan untuk dilaksanakan di rumah. Tidak ada kegiatan yang boleh dilaksanakan di Masjid sebagaimana Ramadan kita di tahun-tahun sebelumnya. Tapi pastinya tetap ada hal yang bisa kita lakukan untuk membuat Ramadan tahun ini menjadi Ramadan terbaik kita.