Roti Panggang Penuh Cinta

img-20170105-wa0017

Telah satu minggu berlalu sejak kepulanganku ke kampung halaman. Tahun ini Pulang Kampungnya SMART 2017 terasa sedikit berbeda. Berbeda, karena saat ini aku telah duduk di kelas XI Jurusan IPA, berarti ini kali keempat aku mengikuti kegiatan Pulang Kampung.

Banyak sekali perubahan yang terjadi di kampungku. Dari kepala Rukun Tetangga (RT) baru, teman-temanku yang sudah dewasa, sampai rumahku juga sudah berpindah lokasi. Pulang Kampung selalu menjadi momen yang mengasyikkan karena aku bisa bertemu kembali dengan keluargaku tercinta, teman-teman baikku, dan juga guru-guru SD (Sekolah Dasar) yang mengajarku dulu. Selain hal-hal yang kusebutkan, aku memanfaatkan waktu pulang kampung untuk jalan-jalan ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan ke Martapura yang terletak di utara Banjarbaru untuk melihat Patung Bekantanpur (rupanya mirip dengan Merlion di Singapura) dan banyak kegiatan lainnya.

Namun Pulang Kampung kali ini tidak hanya kugunakan untuk berlibur, tetapi juga kugunakan untuk belajar, belajar banyak hal dari orang-orang disekitarku. Pertama aku belajar mengendarai motor (karena sebelumnya aku belum bisa); kedua belajar mengurus rumah dengan bekal yang sudah kudapat di SMART; ketiga belajar ilmu agama dari kakak laki-lakiku yang lulusan Pondok Pesantren Darussalam Martapura; keempat belajar memasak dan belajar membuat makanan untuk keluarga.

Ada kisah menarik ketika aku belajar membuat makanan untuk keluarga, beberapa waktu lalu (Alhamdulillah) keluargaku mendapat rezeki untuk membeli pemanggang roti, jadilah setiap pagi kami sarapan roti panggang. Aku biasa membeli roti tawar di minimarket dekat rumah, untuk isian roti biasanya aku membeli susu kental manis coklat di warung. Aku memvariasikan isian roti panggang dengan pisang manis.

img-20170106-wa0001

Aku dan kakakku pun sama-sama belajar membuat roti panggang isi pisang coklat. Alhamdulillah keluargaku sangat suka dengan roti panggang buatanku untuk sarapan. Ibuku terkejut dengan perubahanku yang menurutnya signifikan, ada gurat bangga ketika ia mengatakan bahwa aku telah menjadi lelaki mandiri yang memukau. Aku hanya bisa tersipu, padahal memasak roti panggang seperti ini hanya bisa kulakukan setahun sekali. Aku bertekad untuk belajar membuat roti panggang lebih baik lagi, siapa yang tahu jika di masa depan aku menjadi pengusaha roti bakar kenamaan ya kan?

Melihat keluargaku tersenyum bahagia ketika menyantap roti panggang buatanku menjadi penyemangat tersendiri. Aku akan terus berjuang di tanah rantau sebaik mungkin, tak ingin aku mengecewakan mereka. Semoga di Pulang Kampung tahun depan, aku bisa membawa kejutan lain. (MBN x AR)

 

Salam hangat sehangat roti panggang buatanku dari Banjarbaru,

Ahmad Basyir Najwan

#PulangKampungnyaSMART