,

Salahku, Susah Bangun Sahur

Salahku, Susah Bangun Sahur

Oleh: Muhammad Habibur Rohman

Alumni SMART Angkatan IX berkuliah di Universitas Diponegoro

Saya terjaga dari mimpi aneh yang tak lagi saya ingat tanpa menelan setetes air atau secuil makanan sama sekali padahal lima tusuk sate plus lontong sudah saya siapkan sejak malam dan rupanya dan sialnya dua belas alarm yang saya pasang tidak berfungsi dengan baik sebab saya lupa membunuh mode sunyi pada telepon genggam saya.

Saat itu juga, ingin saya telepon malaikat yang biasanya teliti mencatata kata-kata saya, atau laku saya, sekadar ingin bertanya apakah kalau baca niat sekarang puasa saya akan diterima, atau apakah tanpa perbekalan sama sekali, saya akan diberi kekuatan tak kasat mata untuk bisa melampaui hari, dan saya sadar diri: tak punya kuota, dan wifi kos yang mahal harganya itu cuma 28 mbps dan lajunya seperti gerobak angkringan yang di dorong lelaki tua, yang padahal, untuk menelpon malaikat sinyal harus secepat cahaya,

Ya, sayalah yang bersalah atas semua ini. Bukan telepon genggam, bukan mode sunyi.