Salam Semangat Calon Pemimpin

Restu

Rasanya baru kemarin lantunan lagu “Gaudeamus Igitur” mengiringi saya menuju dunia perkuliahan. Ternyata itu sudah lima tahun lalu, sejak SMART Ekselensia Indonesia mewisuda saya bersama kawan-kawan angkatan ketiga, Genesis. Kini pengalaman lima tahun di SMART sedang saya sambung dengan cerita perjuangan saat ini di kampus.

Sebelumnya perkenalkan nama saya Restu Muhammad Adam, biasa dipanggil Restu. Saat ini saya tengah menjalani pendidikan kedokteran di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Awalnya saya terdaftar sebagai mahasiswa teknik Unhas. Namun karena beberapa hal, saya memutuskan untuk  mencari kampus lain meskipun perkuliahan baru beberapa bulan berjalan. Saat itu, mencari tempat kuliah baru ataupun tetap sama-sama perlu pertimbangan. Saya banyak berkonsultasi dengan kakak alumni juga guru-guru di SMART. Syukur saya bisa melewati keputusan berat itu. Setidaknya sekarang saya bisa menasihati diri saya sendiri, mungkin juga orang lain, untuk terlebih dahulu memiliki informasi yang rinci sebelum memutuskan sesuatu terutama tempat kuliah.

Saya pun pindah kuliah setahun kemudian. Masih di kota yang sama, saya lulus tes untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Unhas. Fakultas yang disebut sebagai hierarki tertinggi pendidikan di Indonesia Timur. Fakultas ini menuntut banyak hal, termasuk kemampuan finansial. Padahal saya sama sekali tidak punya dana saat itu. Beasiswa bidikmisi saya telah hangus sejak saya pindah fakultas. Singkatnya tidak ada beasiswa apapun yang membantu kekurangan finansial saya saat itu.

Saya tetap berusaha mencari cara untuk melanjutkan kuliah. Kondisi tersebut berlangsung mulai dari pengumuman kelulusan hingga detik-detik menjelang perkuliahan dimulai. Saya mulai kesulitan menemukan jalan keluarnya. Sampai suatu waktu usai magrib saya menerima panggilan telepon dari seorang ibu. “Nak, insyaallah saya akan membantu sampai kamu lulus,” katanya. Saya girang sekali. Kehadiran beliau sebagai orang tua asuh memberikan saya dukungan tidak hanya secara materil namun juga secara moril.

Tibalah saatnya perkuliahan dimulai. Hari pertama kuliah teman-teman menunjuk saya sebagai ketua kelas, memimpin 250-an mahasiswa lain. Awalnya semuanya berlagsung tanpa ada masalah berarti. Memasuki minggu kedua, jadwal menjadi sangat padat. Kesibukan kuliah serta ospek membuat saya biasa tidur 2-3 jam sehari. Kesibukan seperti itu berlangsung hingga satu tahun. Yah, ternyata mahasiswa itu di tuntut untuk jadi nokturnal juga.

Meskipun sudah dapat orangtua asuh, saya tidak lantas meminta untuk segala keperluan saya. Hal itu menuntut saya untuk berkembang sebagai mahasiswa maupun sebagai pribadi. Di sinilah letak krusialnya. Saya perlu mengatur pengeluaran saya yang hanya cukup untuk makan satu bulan. Kadang kurang jika ada keperluan mendadak. Tanpa uang transport, apalagi untuk keperluan lain, seperti buku. Oh iya, sampai semester 6 ini saya hanya memiliki 2 buah buku. Keduanya pun hadiah. Sebab buku-buku kedokteran umumnya mahal dan sering kali hanya dipakai untuk satu mata kuliah. Jadilah saya perlu untuk merumuskan metode belajar sendiri. Hasilnya tidak begitu buruk tapi tidak sempurna juga. Pembelaan saya, “Paling tidak, nilai indeks prestasi (IP) saya masih di atas tiga”.

Tidak adil rasanya jika saya hanya membagi pengalaman repot-repotnya saja. Banyak juga pengalaman yang menyenangkan. Salah satunya adalah bakti sosial. Kegiatan blusukan ini biasanya dilakukan di daerah yang agak terpencil dan relatif membutuhkan bantuan medis.
Kegiatan ini sangat menyenangkan. Saya masih ingat saat pertama kali melakukan sirkumsisi (khitanan). Di samping saya berdiri dokter penanggung jawab, sedang didepan saya seorang anak berbaring menahan perih. Tangan saya yang belepotan darah dan betadine sedikit gemetaran. Saya harus beradu cepat dengan anastesi yang nampaknya mulai habis. Keringat menambah tegang suasana. Jahitan demi jahitan sampai akhirnya selesai. Perasaan saya luar biasa lega campur senang. Sirkumsisi pertama saya berjalan lancar.

Selain dapat mengasah keterampilan medis, saya juga dapat menambah wawasan. Melihat tempat baru, budaya baru, makanan khas baru, semua hal yang serba baru.

Sebenarnya keadaan setiap mahasiswa mungkin akan berbeda-beda. Tapi saya percaya selalu ada jalan keluar dari setiap masalah. Beruntung, saya juga tidak sepenuhnya asing di tanah rantau ini. Di sini, saya masih memiliki keluarga, tiga orang Genesis (angkatan 3 SMART EI), dan tiga orang Expert (angkatan 1 SMART EI). Masa-masa sulit ataupun senang lebih terasa dengan kehadiran mereka. Kami tidak bosan melanjutkan persaudaraan selama di Smart dan akan saling mendukung sampai cita-cita kami tercapai.

Sebenarnya saya lebih senang jika dapat berbagi pengalaman secara langsung. Semoga kita memiliki kesempatan itu. Sekian dulu. Tetap semangat menuntut ilmu, bagaimana pun susahnya.  Salam semangat calon pemimpin.