,

Sebuah Harapan Besar Guru Komputer Kami

Sebuah Harapan Besar Guru Komputer Kami

Oleh: Ari Kholis Fazari Guru TIK SMART Ekselensia Indonesia

 

Awal semester sebentar lagi akan dimulai,  tak ada yang berbeda masih sama seperti dulu ketika pertama kali saya berada di SMART Ekselensia Indonesia. Masing-masing anak di SMART mempunyai karakteristik berbeda, bahkan kemampuan tentang penguasaan teknologi juga berbeda; terutama kemampuan mereka tentang komputer khususnya pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mata pelajaran yang saya ajarkan untuk anak-anak kelas 1 dan 2.

Saat memulai pelajaran pun jelas terlihat kebingungan mereka ketika berkenalan dengan komputer.

“Ustaz gimana cara nyalain TV-nya?” salah seorang anak bertanya kepada saya.

“TV yang mana, Dik?”

Anak tadi kemudian menunjuk ke monitor komputer. Itulah sebagian dari keawaman anak SMART ketika baru pertama kali masuk ke kelas komputer. Ketika pertama kali saya berada di sini, saya pun sempat kebingungan mulai dari mana saya harus mengajar. Sebabnya, masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang berbeda tentang komputer, mulai dari yang benar-benar tidak tahu nama masing-masing hardware komputer sampai yang sudah tahu komputer. Apalagi, SMART mempunyai target yang cukup tinggi terhadap siswanya dalam hal penguasaan komputer.

Tantangan lain, sistem operasi komputer yang digunakan di SMART berbeda dengan sistem operasi komputer yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, yakni menggunakan open source software. Otomatis saya harus membuat sendiri administrasi pembelajaran mulai dari silabus sampai ke Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebab saya belum menemukan sekolah setingkat SMP yang belajar sistem operasi dan program-program yang sama seperti yang ada di SMART ini.

Ada suatu pengalaman yang tidak mudah saya lupakan ketika awal saya bekerja di sini sebagai guru komputer. Ketika itu, saya dihadapkan oleh komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswanya, dalam arti jumlah komputer yang bisa digunakan hanya separuh dari jumlah siswa yang ada. Terlebih lagi komputer komputer tersebut tampak sudah jadul di eranya. Jadi, secara otomatis banyak masalah ketika mulai digunakan oleh siswa yang notabene siswa kelas 1 yang masih belum mengerti sama sekali tentang komputer, apalagi pada saat itu warnet atau rental-rental komputer belum menjamur seperti sekarang ini. Ketika saya tanya sebagian siswa tentang pengetahuan komputer, hampir semuanya belum pernah memegang komputer sama sekali. Belum lagi ada beberapa siswa yang menangis ketika belajar komputer lantaran rindu dengan orangtuanya. Ketika itu saya bertanya pada diri saya sendiri, “Harus dimulai dari manakah semua ini?”

Saya pun berusaha mencari metode-metode yang sesuai untuk menangani hal ini, mulai dari mencoba sesuai dengan text book sampai dengan saya coba-coba sendiri. Pada akhirnya, saya mulai mengerti bahwa yang saya hadapi adalah anak-anak cerdas dan saya yakin mereka akan cepat belajar. Itulah yang muncul dari dalam hati saya sampai saat ini. Ketika saya berpikir mereka adalah anak-anak cerdas, maka saya akan semakin bersemangat untuk belajar dan belajar lagi.

Tidak terasa, tahun kelima akan dilalui para siswa SMART. Sesuai tradisi di SMART, setiap anak yang akan meninggalkan sekolah atau lulus dari sini mereka wajib mengerjakan Karya Ilmiah Siswa SMART (KISS). Ada beberapa siswa yang membuat saya terharu ketika saya mengujikan KISS, karena judul KISS yang diajukan berkaitan dengan komputer. Ya, mereka mengambil topik seputar dunia komputer. Entah mengapa ada perasaan bangga ketika mereka lulus dari sidang KISS.  Segera saja saya teringat masa lalu mereka tatkala pertama kali mengenal mouse, keyboard, monitor, Linux, OpenOffice, sampai akhirnya ia dapat menganalisis kekurangan dan kelebihan sebuah sotiware komputer.

Dan tibalah saatnya mereka harus meninggalkan SMART untuk mengarungi dunia yang sesungguhnya. Momentum wisuda SMART menjadi pembuka semua itu. Pada saat prosesi wisuda, seperti angkatan sebelumnya, para siswa memberikan bunga kertas kepada guru- guru mereka. Ketika itu ada salah satu siswa memberikan bunga kepada saya. Padahal, saya sudah diberi bunga kertas oleh siswa yang lain. Tiba-tiba siswa itu datang dan memeluk saya sambil menangis.

“Ini buat Ustadz. Terima kasih, Ustadz, selama ini sudah membimbing saya, dan maatian saya….”

Setelah ia melepaskan pelukan, saya pun terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Apa sih yang pernah saya berikan pada mereka?”

Meskipun “hanya” mengajar komputer, saya juga ingin membangun harapan untuk mereka. Karena bagaimanapun juga, saya sudah menjadi bagian dari keluarga SMART yang berusaha mengubah senyum-senyum anak bangsa semakin lebar. Saya rasa, mungkin seperti inilah kebanggaan seorang guru, sebuah profesi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Semoga anak-anak didik saya itu bisa mengamalkan ilmu komputer yang didapat di kemudian hari untuk kebaikan.