,

Sebuah Pelajaran Berharga di Angkot Menuju Parung

Sebuah Pelajaran Berharga di Angkot Menuju Parung

Oleh: Muh. Ikhwanul Muslim (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)   Matahari sore bersinar malu-malu, kulirik jam di tanganku, waktu menunjukkan pukul 17.00. Aku baru saja selesai berobat di Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di Ciputat. LKC adalah lembaga kesehatan nonprofit di bawah naungan Dompet Dhuafa yang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Hujan deras mengguyur kawasan Ciputat, membuatku terpaksa berteduh di sana. Padahal, sesuai izinku, harusnya aku sudah berada di asrama pukul 17.00 tepat. Setelah aku keluar dari LKC, tak satu pun angkot 29 jurusan Parung-Ciputat yang terlihat berlalu lalang. Aku lirik jam tanganku, sudah pukul 17.30. Tidak terasa hari mulai gelap, Lampu-lampu gerobak tukang gorengan sudah menyala menunggu pengunjung yang datang ke lapaknya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ke LKC tanpa ada teman dari SMART. Alhamdulillah pertolongan dari Allah datang. Beberapa menit kemudian setelah lama menunggu, angkot 29 jurusan Parung-Ciputat tampak di jalanan Ciputat. Aku langsung bergegas naik ke dalam angkot, sembari menahan rasa dingin yang kurasakan karena bajuku basah kuyup diterjang air hujan. Di dalam angkot, aku tersadar menjadi pusat perhatian para penumpang. Mereka seakan berpikiran, “Ngapain nih anak jam segini baru pulang, mana bajunya basah lagi.” Tak kuhiraukan tatapan mereka kepadaku. Aku santai saja menikmati perjalanan. Aku melihat keluar kaca mobil angkot, terlihat genangan air membanjiri jalanan Ciputat. Kemacetan pun tak terelakkan. Aku pun harus rela menunggu angkot yang aku tumpangi keluar dari rantai kemacetan ini. Jam tanganku telah menunjukkan pukul 18.00. Setelah beberapa waktu tertidur di dalam angkot, akhirnya aku sampai di Pasar Parung. Kulihat orang-orang berlalu lalang di jalanan pasar bergegas lari dari rintik hujan. Lampu-lampu yang ada di gerobak pedagang kaki lima sangat menyilaukan mataku sehingga tanpa sadar aku salah menapakkan kaki. Sepatuku kotor terjerembab ke dalam lumpur jalanan Pasar Parung. Jalanan yang basah dan becek menyulitkan langkahku untuk terus berjalan mencari angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan juga angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Aku langsung masuk angkot. Di dalam angkot, kulihat para penumpang memasang muka kelelahan dan kedinginan. Muka yang telah membuktikan kerja keras mereka dalam bekerja mulai pagi hingga petang. Inilah kehidupan, butuh perjuangan agar tetap bertahan. Di antara deretan penumpang angkot kulihat sosok nenek tua yang menurutku sedang gelisah. Ia terus saja berbicara sendiri tanpa ada yang memberi perhatian kepadanya. Hingga akhirnya ia membuka percakapan denganku. “Nak, sekolah di mana?” Tanya si nenek kepadaku. “SMART Ekselensia Indonesia, Nek.” Jawabku dengan nada polos. “Nak, Nenek ini sekarang hidup sendiri,” ujar si nenek kepadaku dengan nada sedih. “Hmm….” Ujarku dengan santai. Detik berikutnya, aku hanya bisa diam tanpa dapat berkata-kata. Mukaku tertunduk hanya bisa mendengarkan cerita nenek itu. Ia terus saja berbincang denganku. Para penumpang tak acuh dengan yang diceritakannya. Hanya aku yang merasa simpati dengan apa yang terjadi pada si nenek. “Nak, Nenek baru habis jatuh. Lutut Nenek luka. Nenek udah enggak punya siapa-siapa lagi. Anak-anak Nenek udah pada nikah. Setiap kali anak Nenek yang pertama datang ke rumah, kerjaannya marah-marahin nenek terus. Dipukullah, ditendanglah. Nenek enggak pernah dikasih duit sama mereka.”Nenek kalau mau makan ngarepin dari tetangga. Di rumah itu kadang ada makanan, kadang enggak ada. Anak-anak Nenek itu udah enggak pernah jenguk lagi. Cuma si anak yang pertama yang sering ke rumah. Itu pun niatnya mau ngusir Nenek dari rumah. Katanya, rumah Nenek mau dijual buat kepentingan dia. Sekarang saja Nenek cuma punya uang dua ribu buat pulang. Enggak ada uang lagi buat makan.” Nenek itu berkata dengan nada penuh kecewa. “Memangnya rumah Nenek di mana?” Tanya salah satu penumpang. “Jampang, Pak. Tolong, Pak bantuin Nenek. Nenek lagi kena musibah,” pinta nenek itu dengan rasa sedih. “Iya… Iya. Sekarang Nenek pegang saja itu uang dua ribu. Biarin Bapak saja yang bayar ongkos pulang Nenek,” kata si penumpang yang bertanya tadi. “Makasih, makasih, Pak. Nenek udah enggak punya uang lagi.” Nenek itu tampak bungah. “Iya… Iya… udah nenek tenang saja,”ujar si penumpang. Aku hanya bisa kembali diam. Duduk termangu mendengarkan penuturan nenek tua itu. Tapi, nenek itu mengajakku berbincang. “Nak, pamali kan durhaka sama orangtua?” tanyanya kepadaku. “Iya, Nek,” jawabku dengan singkat. “Itu si Sinyo kerjaannya marah-marah terus sama Nenek. Nenek doain kalau hidupnya melarat. Doanya ibu kepada anaknya itu bener kan ya, Nak?” “Iya, Nek,” ujarku dengan rasa was-was. Begitu kecewanya si nenek terhadap anak-anaknya hingga ia mendoakan anaknya dengan doa yang tidak baik. Setahuku, doa ibu itu paling mujarab mengingat berkat jasanyalah kita dapat hidup di dunia ini. Tidak sepatutnya kita melecehkan kehidupannya. Kita harus tetap memerhatikannya walaupun sudah berkeluarga. Perlahan-lahan aku mulai melihat bangunan kokoh berwarna hijau yang terpampang jelas di mataku. Akhirnya aku telah sampai di kampus SMART Ekselensia Indonesia. Aku pun pamit kepada si nenek. “Nek, aku pamit dulu ya.” “Iya. Nenek pesen: jangan pernah durhaka sama orangtua ya.” Aku pun langsung memberikan kode kepada supir angkot untuk berhenti. Setelah itu aku membayar ongkos. Lantas, aku masuk ke lingkungan SMART. Kulirik lagi jam tanganku: pukul 19.15. Aku belum Salat Magrib. Aku pun bergegas ke masjid dan langsung menunaikannya. Setelah salat, sejenak aku memikirkan ungkapan hati nenek di angkot tadi. Ia begitu kecewa dengan perbuatan anak-anaknya. Ini menjadi perjalanan kehidupanku. Aku harus berpikir kembali, untuk apa aku hidup dan dedikasi apa yang harus aku torehkan sebelum nantinya aku meninggalkan dunia ini. Pertemuan dengan nenek tadi menjadi cambuk semangatku untuk menghargai hasil jerih payah seorang ibu sekaligus pemicu semangatku untuk menatap masa depan yang lebih indah. Jangan sampai kita menjadi hamba Allah yang kufur nikmat yang tak menghargai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Yang terjadi pada si nenek di angkot menjadi pelajaran dan petuah kehidupan bagi diriku khususnya dalam bersungguh-sungguh menjalani hidup ini. []