Sebuah Peta Bernama SMART

Sebuah Peta Bernama SMART

Oleh: Wayan Muhammad Yusuf

Alumni SMART Angkatan 8. Saat Ini Berkuliah di Universitas Brawijaya Jurusan Ilmu Ekonomi Prodi Ekonomi Islam.

 

Asrama. Sekolah. Asrama. Sekolah. Asrama lagi. Sekolah lagi. Yah begitulah keseharian kami di SMART Ekselensia Indonesia. Dikatakan bosan, gak juga. Tapi dibilang gak bosan, namun tak dapat digambarkan. Hampir lima tahun saya berada di SMART, selama di sini saya cukup mengerti arti jauh dari keluarga dan arti “terkekang” dalam aturan. Di tulisan ini saya tak akan bercerita tentang suka duka selama di SMART atau suka duka ketika jauh dari keluarga, melainkan tentang peta. Hah? Peta? Hubungannya apa coba? Ada, pasti ada.

Saya teringat cerita seorang guru, kata-katanya yang paling saya ingat adalah: “Nasihat (aturan) itu ibarat sebuah peta”. Tuh kan ada hubungannya sama peta. Lalu maksudnya bagaimana? Begini, SMART itu tak seperti sekolah lain pada umumnya dan kami yang ada di sini bisa dikatakan tidak seperti anak-anak di luar pada umumnya. Di sini kami harus taat pada aturan ini dan aturan itu. Terus kalo tak taat aturan dihukum? Paling dibotaki dan ujung-ujungnya dikeluarkan dari SMART. Eh lupa kok malah dijawab duluan. Saya lanjutkan dulu ya pesan guru saya: “Mungkin saat ini orang yang kita nasihati tidak mengikutinya. Ibarat orang akan terus berjalan tidak pada tempatnya, tapi apa yang membedakan antara orang yang dinasihati dan yang tidak? Bedanya –kalau misalnya- orang yang diberi peta ingin selalu berjalan pada tempatnya dan menjadi lebih baik, maka dia hanya perlu melihat peta tersebut. Berbeda dengan orang yang tak mempunyai peta, dia pasti bingung untuk mengambil jalan yang mana jika ia ingin berubah haluan.

Benar gak? Masih belum percaya? Saya paparkan beberapa pengalaman saya ya, saya mengenal seorang teman di SMART EI, di akhir semester ia menyatakan ingin berubah dan memutuskan untuk menghafal beberapa juz Al-Quran. Lalu kenapa dia memilih untuk menghafal Al-Quran? Jawabannya karena ia ingat nasihat yang disampaikan guru Al-Qurannya tentang keutamaan menghafal Quran, Quran itu diibaratkan peta yang akan membimbing kita semua ke jalan yang lebih baik. Dengan Quran juga kita takkan mudah tersesat karena Quran akan selalu memandu kita.

Sekarang sudah mengerti dong korelasi antara nasihat dengan peta? Di SMART mereka yang menurut akan aturan merupakan orang-orang yang mengikuti peta, mereka ingin menjadi lebih baik dan baik lagi walau mungkin terbersit perasaan jenuh. Sedangkan mereka yang dibotaki atau bahkan dikeluarkan dari SMART merupakan orang-orang yang tidak mengikuti atau bahkan menolak menggunakan peta.

Nah untuk adik-adik kelas saya di SMART, SMART bukanlah penjara; aturannya juga bukanlah kungkungan, walaupun terkadang aturannya terkesan “memaksa” namun dari sanalah kalian akan mampu untuk menggambarkan petamu sendiri walau mungkin saat ini kalian tidak mengerti, namun di masa depan pastilah sangat berguna.