Sedikit Tentang Pagi

(Tak Ada Nasihat yang Pantas Untuk Rembulan)

Oleh: Nadhif Putra Widiansah, Kelas XII IPA

Biarkan aku bercerita
sedikit tentang kawan lamaku,
begini:

“Rembulan datang malam hari,
mengusik mimpi
dan menanti pagi,
pergi kembali di ujung malam
jatuh harapnya di ufuk pagi.”

lagi,
“Rembulan datang malam hari,
mengganjal khayal
dan memendek napas malam,
datang lagi dengan intuisi tentang pagi.”

dan lagi,
“Rembulan datang malam hari,
tubuhnya ringkih tergerus masa,
lengan-lengannya merangkul ironi,
masih saja mendamba pagi.”

dan lagi-lagi,
“Rembulan datang malam hari,
matanya celik,
ditatapnya pelik
masih begitu, hanya menikmati ritme
konstelasi menuju pagi
langkahnya gontai
juwita miliki
derapnya lugu menuju pagi.”

Tak pernah berhenti,
begitu aku melihatnya
ditiap malamnya,
kadang berubah sendu
seringkali kukira rindu
mungkin, tak ada nasihat
yang pantas untuk rembulan,
tembangkan barang
dua melodi petikan,

Begitu juga dengan malam, hitam
terus saja diam
tak bergeming memelukrembulan,

yang hampir tersungkur mengejar pagi
dan kini,masih saja kulihat;

“Rembulan datang,
memuja pagi.”

(Bogor, 2016)