Sekuat dan Sekokoh Teri

Sekuat dan Sekokoh Teri

 

Ada keluguan dan kelucuan jika kita mau mengamati kelakuan anak-anak daerah yang bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia. Hal itu dapat ditemukan pada saat mereka melakukan aktivitas belajar, baik di asrama maupun di sekolah. Dua tempat itulah yang menjadikan tereksplorasikannya pengalaman menarik yang didapat dari hasil mengamati tingkah lakunya. Dua sisi keluguan dan kelucuan siswa pada tulisan ini didapat dari aktivitas mereka ketika berada di asrama.

Seperti yang tertulis pada program kerja satu tahun pengajaran SMART, target utama yang menjadi fokus kerja para guru dan wali asrama adalah keseimbangan antara pengetahuan yang berorientasi pada kognitif maupun yang mengoptimalkan peran motorik. Target proses yang bisa menjadi acuan dari para siswa adalah diperkayanya pengalaman belajar mereka. Pengalaman tersebut harus mampu menyatukan dua potensi kognitif yang berpadu dengan motorik sehingga dapat menghasilkan satu inside learning (hikmah) yang bermetamorfosis dalam tingkah laku, yang selanjutnya biasa diistilahkan menjadi satu sikap tingkah laku (afektif).

Dari sisi kognitif, bekal yang harus kita penuhi berupa wawasan guru yang baik. Hal tersebut dapat berupa wawasan pedagogik (pengetahuan mendidik) maupun wawasan profesional keilmuan (wawasan keahlian ilmu). Dua elemen pengetahuan tersebut akan berpadu membentuk sisi keragaman etos kerja dari kinerja dan dedikasi guru.

Sementara pengembangan dari sisi motorik, selain membutuhkan pembekalan strategi pengajaran dan variasi games, juga memerlukan asupan gizi yang layak dari setiap hidangan yang disajikan. Gizi makanan menjadi satu perhatian khusus yang tidak bisa ditinggalkan, baik pada saat makan pagi, makan siang, maupun makan malam.

Khusus untuk biaya makan di SMART; dalam satu hari, biaya yang harus dikeluarkan sebanyak Rp 3 juta untuk 175 siswa. Variasi makanan pun menjadi menu yang cukup bisa dinikmati di setiap harinya. Hal ini yang senantiasa digaungkan untuk menjadi satu kepedulian siswa, sebagai satu bentuk rasa syukur mereka. Bagaimanapun juga, mereka telah mendapatkan banyak nikmat: gedung sekolah yang representatif, makanan yang penuh gizi, guru yang baik, seragam, dan buku mata pelajaran. Semuanya didapat secara gratis alias tak perlu bayar sepeser pun!

Ada satu hal menarik yang pernah diungkapkan oleh salah satu siswa baru. Ketika baru dua minggu merasakan makanan di SMART, ia bertanya kepada saya.  “Ustaz Ahmad, waktu saya sekolah di SD dulu, saya diajarkan untuk selalu mengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Ada sayur mayur, daging, kacang-kacangan, buah, dan susu,” ujar siswa tersebut.

“Oh begitu. Jadi, di SMART ini kamu tidak merasakan apa yang kamu ketahui sewaktu di SD dulu?” tanya saya menerka arah pembicaraan si siswa.

“Alhamdulillah, Ustaz, semua sudah pernah saya rasakan. Tapi, yang sering saya rasakan sama teman-teman, jenis makanan yang menunya baru, Ustaz. Kandungan vitaminnya juga pasti akan dirasakan baru, Ustaz.”

Saya pun terkejut. “Masya Allah, menu makanan apa itu, Nak?”

Siswa itu pun menjelaskannya dengan sangat antusias.

“Di sini, Ustaz, makanan pagi, siang, dan malam, jika kita mau polakan selama satu Minggu, masakannya tak lain memiliki menu LIMA T Plus SATU B, Ustaz.”

Saya pun langsung menimpalinya dengan pertanyaan yang lebih spesifik lagi.

“Wah, makanan apa lagi itu, ya? Saya baru mendengarnya selama hampir empat tahun mengajar di sini, lho. Makanan apa itu, Nak?”

Siswa baru itu pun dengan sigap kembali menguraikan.

“Setiap kita makan selama hampir dua Minggu, menu lauknya tak jauh dari… toge, tempe, tahu, terong, dan teri rasa baja, Ustaz. Kenapa teri ada rasa bajanya, Ustaz?”

“Itu teri kok ada rasa bajanya? Kira-kira kenapa, Nak?”

“Iya, Ustaz, karena dimasaknya kurang matang atau setengah mentah. Itu ikan teri. Jadi, alot rasanya. Susah dikunyah!”

Saya berusaha bersikap bijak menghadapi siswa baru ini.

“Oh, itu maksud dari menu dan vitamin barunya, Nak.”

“Semua yang baru tidak selamanya baik buat saya, Ustaz.”

“Apanya yang tidak baik?”

“Jika kita selalu disuguhkan yang baru-baru,” terang siswa itu, “kita akan melalaikan yang lama-lama atau yang telah lalu. Dan itu yang tidak baik, Ustaz. Ayah kandung dan ibu kandung kita kan bukan orang baru. Mereka orang yang sudah lama menemani kita, membimbing kita, mendidik kita, masak mereka mau dilupakan, Ustaz? Itu yang pertama, Ustaz.”

Saya menyimak kata-kata siswa yang luar biasa ini.

“Ada lagi yang kedua, Ustaz. Kampung kita semua jenis budayanya, makanannya, ciri khas yang menjadikan rindu ini terus ada di dalam hati. Itu semua kan keunikan yang ada di masa lalu, yang memang tidak boleh kita lupakan, Ustaz?” Saya segera menangkap arah pernyataan penuh hikmah ini.

“Subhanallah, itu yang Ustaz maksud, Nak. Jangan pernah kita terlena dengan fasilitas yang ada, bahkan hati-hati dengan fasilitas yang ada. Jika kita tidak pandai mengaturnya, fasilitas itu akan menjadi penghambat semangat belajar kita. Kalau semangat sudah terhambat, yang muncul adalah sifat malas, acuh tak acuh dengan prestasi. Yang ada, tinggal kita yang ditinggal maju oleh teman-teman kita.”

“Saya paham, Ustaz. Saya juga paham kenapa ikan teri sengaja dibuat alot.”

Saya tercekat heran. “Kenapa, Nak?”

“Teri itu sengaja dimasak alot supaya kita punya mental seperti baja. Kuat, kokoh, dan tangguh dalam belajar.”

Saya mengacungkan jempol atas jawabannya.

“Anak cerdas!” spontan saya memujinya walau di dalam hati. Dan saya tidak lupa segera mendoakan kesuksesan baginya, baik di dunia maupun di akhirat. []