Si Cuek Penggemar The Blues

Blues

Pintu diketuk dari luar. Seorang remaja masuk ke kelas yang tengah saya ajar dengan langkah ragu-ragu.

“Maaf, Tadz, tadi saya asyik baca koran di perpustakaan. Maaf saya salah, Tadz.”

“Huuuhh… keluar, keluar, keluar!!!” Teman-temannya menyorakinya.

Tidak ada pilihan bagi anak itu, ia harus meninggalkan ruangan kelas. Saya yang ada di depan mereka dalam posisi bimbang. Batin saya bergejolak. Di satu sisi, saya merasa kasihan anak itu jadi tidak bisa mengikuti pelajaran. Tetapi, di sisi lain, saya harus menegakan disiplin dan konsekuen dengan kontrak belajar yang pernah dibuat bersama di awal tahun pelajaran. Saya rasa, ia selaku pembelajar sejati bisa menerima konsekuensi itu.

Sesuai aturan, saya tidak mengizinkannya untuk mengikuti pelajaran di kelas karena terlambat lebih dari 20 menit. Pengujung Desember 2011 almanak waktu itu, ketika pelajaran Ekonomi untuk persiapan UN, saya membuat siswa terusir itu nyaris menangis.

Hampir seantero Bumi Pengembangan Insani mengenal remaja pembelajar sejati tersebut. Ia sangat familiar, entah dengan adik kelas, tim pantry, karyawan jejaring lain, tim sekuriti, ataupun dengan direktur lembaga sekalipun. Wajahnya wara-wiri setiap hari menghiasi suasana belajar di kawah candradimuka, SMART Ekselensia Indonesia.

Badannya kurus tinggi, rambut warna kuning keemasan yang selalu jingkrak ke atas, dan senyum lebar mengembang, menjadi ciri khas pembelajar sejati dari kota Semarang ini. Hobinya membaca, menulis, dan olahraga. Hampir setiap hari waktu luangnya diisi dengan membaca buku-buku di perpustakaan dan mencari berita sepak bola di koran Kompas, Republika, atau bahkan menumpang pinjam komputer lembaga untuk sekadar berselancar mencari berita sepak bola terutama update Liga Primer Inggris, Seri A Italia, La liga Spanyol, dan Liga Super Indonesia.

Pertengahan Juli 2008 awal perkenalan saya dengan anak sulung putra pasangan bapak Azis dan Ibu Marlina ini. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi dan selalu ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Ayahnya bekerja sebagai tukang servis komputer dan pernah mengenyam pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang, walaupun kandas di tengah jalan. Bakat menulis remaja asal Tembalang ini sudah terlihat ketika salah satu puisinya yang bercerita tentang tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung, Tangerang Selatan, dimuat salah satu majalah. Bakatnya semakin terasah ketika ia terpilih menjadi pemimpin redaksi buletin olahraga milik OASE. Ia sangat pintar dan piawai menyuguhkan tulisan yang ciamik, lugas, informatif, dengan pilihan diksi bak seorang jurnalis olahraga profesional.

Setiap Senin pagi, ia pasti datang menghampiri saya di kelas. Ada dua ritual yang ia lakukan. Pertama, bertanya kabar saya hari itu. Kedua, soal urusan berita sepak bola.

Gimana pertandingan semalam, Tadz? Nonton gak?”

Saya dan Mujahid merupakan penggemar berat The Blues Chelsea FC dan kami selalu membahas perkembangan sepak bola dunia. Di luar soal bola, saya melihat ada bakat dan potensi besar pada remaja ini, di antaranya dalam pelajaran Ekonomi- Akuntansi yang saya ampu. Ia termasuk siswa yang cerdas dan cepat menyelesaikan tugas. Ia selalu ingin menjadi orang pertama dalam mengerjakan soal dan selalu mengajari teman-temannya yang belum paham. Selain itu, Mujahid selalu meminta saya untuk mengajarinya matematika karena ia merasa kemampuan matematikanya belum terasah. Setiap hari ia menenteng buku kumpulan soal-soal matematika yang harus ia kerjakan. Saat bertemu saya, ia selalu meminta soal-soal yang baru.

Mujahid juga pribadi yang unik, cuek, dan tidak peduli dengan penampilan diri. Seragamnya lusuh dan kumal, sepatunya kotor, sobek, dan menganga. Bahkan terkadang giginya tidak disikat sama sekali! Ia tidak merasa risih dengan penampilan seadanya itu, walaupun orangorang di sekelilingnya kadang-kadang merasa tidak nyaman.

Selain itu, ia kurang peduli dengan barang-barang yang dimilikinya. Ia sering menyimpan barang-barangnya secara sembarangan, padahal ia juga mudah lupa. Ia sering lupa membawa buku paket pelajaran dan kalau ditanya kenapa, jawabannya simpel.

“Maaf, Ustadz, saya lupa menyimpannya, hehehe…. Maaf, ya, Tadz.”

Terlepas dari kekurangpeduliannya pada soal penampilan, Mujahid dikenal sangat peduli terhadap teman-temannya yang kesulitan dalam memahami pelajaran. Ia supel dan mudah dimintai bantuan. [] (Mulyadi Saputra)

*Diambil dari buku “Marginal Parenting”