Siswa SMART dan Tantangan Global

Oleh Ervan Nugroho, Guru SMART Ekselensia Indonesia

 

 

Kok bisa Siswa SMP SMART menjawab tantangan global sih….? Kok bisa…..he he he….ada strategi donk….kata bang Ucok.

 

Waktu itu bulan Januari di setiap tahunnya panitia seleksi nasional beasiswa siswa  bergotong royong bersama untuk’ mencerna‘ dan ‘menghisap’ bibit-bibit anak muda yang dari tak mampu secara ekonomi menjadi siswa yang akan hidup selama lima tahun dengan visi besar dan mengalahkan atas keterpurukan ekonomi menjadi kemapanan ekonomi.

 

Bung…..gimana cara kau membuat siswa miskin menjadi percaya diri banget…! Kami punya strategi bang,  SMART Ekselensia Indonesia memiliki karantina yang beken buat para siswa. Kami awali dulu bang dengan seleksi siswa yang ‘pinter’ tapi miskin untuk kami ubah mindset hidupnya. Terus bang, kami jemput dan kami didik di sekolah Dompet Dhuafa punya nih di desa Jampang.

 

Sesampainya siswa di sekolah, siswa diberi asupan gizi berupa matrikulasi. Apa itu bang, matrikulasi…? Itu lho bang…semacam penyamaan kemampuan antar siswa dari berbagai desa di daerah daerah. Apa isinya bang ucok…? isi matrikulasi dengan Quantum learning, matrikulasi dengan materi krusial dan pendidikan dasar karakter kepemimpinan (PDK).

 

Mas Udin aja tahu kalo quantum learning itu keren abis. Kok bisa….? Gimana mas Udin tuh quantum learning, Quantum learning itu ada empat materi yang diberikan buat siswa baru kami, materi baru itu berupa super memosi sistem; speed reading, easy writing dan mind mapping.

 

Gimana….? Mantab kan.

 

Kami siapkan para siswa dengan kondisi yang ‘culun’ menjadi peribadi yang berani tampil didepan umum. Jangan salah lho….siswa kami pada awalnya masih memiliki pandangan yang polos. Kami poles mereka dengan aktivitas individu dan kelompok hingga muncul rasa percaya diri yang tinggi. Problem anak dari ‘kaum miskin’ adalah PD yang rendah.

 

Kembali ke QL, siswa kami gembleng untuk mampu mengingat super, membaca super, menulis super dan memetakan hal-hal super. Dalam kegiatan MPLS, program wajib dari pemerintah kami tambahkan kegiatan khusus sekolah, kegiatan khusus berupa latihan dasar kelompok. Pertandingan , games dan kompetisi antar group kami gelorakan sehingga visi menjadi pribadi yang super tertanam.

 

Kami rubah cara pandang siswa ‘marginal’ dengan cara pandang seorang negarawan, seniman, relawan, dermawan, budiman hingga hartawan. Gimana tuh cara ngrubah mereka…? Pinta bang Jupri. Insya Allah ada jalannya bang, jalannya dengan kami berikan tiga hari dalam satu pekan, para siswa ‘unggul’ kami menjadi keynote speaker dalam kegiatan apel pagi kami. Mereka gelorakan semangat dalam kajian fiksi dan non fiksi, kalau kami hitung dalam sebulan ada 12 kali siswa menggelorakan semangat jiwa muda mereka.

 

Bung, permasalahan global kami bisa kami mindmap-kan. Problem global kami berupa kemiskinan, kebodohan, dan ketamakan. Kemiskinan merupakan problem yang menyeluruh, miskin dalam bahasa berarti serba kekurangan, serba kekurangan ini multi tafsir, bisa kurang harta, bisa kurang ilmu, bisa kurang pahala, bisa juga kurang amal ibadah. Kemiskinan yang muncul di muka bumi adalah karena ketimpangan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Semakin giat seseorang berusaha mandiri tanpa putus harapan, akan mendapatkan hasilnya. “Hasil tidak pernah membohongi proses’, itu pepatah yang sering kami dengar.

 

Trus gimana cara siswa SMART mengalahkan masalah global tadi? Tanya mbak Mirna. Jawabannya dengan kami memproses selama lima tahun dengan bantuan para donatur untuk menjembatani para siswa ‘marginal’ dididik, dibina dan di lahirkan kembali menjadi siswa yang siap bertarung, siap ambil bagian dalam memutus tali ekonomi yang buruk keluarga. Siswa sejak kelas 7 dilatih belajar tanpa henti atas semua ilmu dan belajar berdagang di sela-sela hidupnya di asrama.

 

Siswa diajari memiliki profil Giat berusaha. Giat berusaha merupakan salah satu kunci untuk berhasil, Fakta mengatakan bahwa para penemu hebat dunia, berhasil menemukan alat hebat mereka tidak dalam waktu singkat namun membutuhkan proses waktu yang lama. Mereka tidak lelah dan tidak putus harapan, mereka memiliki profil giat berusaha.

 

Siswa kami yang telah memutus tali kemiskinan menjadi tali kekayaan di masyarakat alhamdulillah telah banyak, ada yang berhasil menjadi pengusaha gorengan molen arab, ada yang berhasil terlibat dalam dunia telekomunikasi dan informasi, dan banyak lagi. Profil Giat berusaha akan menghasilkan yang baik.

 

Tantangan global kedua adalah kebodohan. Kebodohan adalah sumber kedzoliman, orang bisa berbuat dzolim karena tidak tahu akan ilmu. Orang tidak berilmu akan menghancurkan apa saja. Masih ingatkah kau kawan akan nasehat sahabat nabi, serahkanlah suatu urusan kepada ahlinya. Barang siapa yang mengurusi suatu pekerjaan tanpa ilmu maka tunggulah kehancurannya. Siswa kami rubah dari siswa ‘biasa’ menjadi siswa luar biasa. Gimana strateginya mas Bejo….? Celetuk dek Puji. Menurut mas Bejo, siswa SMART Ekselensia Indonesia, sudah didoakan dengan nama sekolah yang bagus banget artinya, SMART berarti pintar, ekselensia berarti pinter benar. Kurikulum internal sekolah dan kurikulum eksternal kami padukan menjadi kurikulum yang holistik bagi siswa. Materi khas sekolah kami optimalkan dengan waktu tatap muka yang sedikit berbeda dengan waktu dinas pendidikan. Quantum learning selalu kami gunakan dalam kegiatan moving class kami, guru yang di ‘ciptakan’ dengan model –model pembelajaran, inovasi pembelajaran dan waktu reading book yang banyak dengan perpustakaan yang memfasilitasi belbagai referensi yang dibutuhkan.

 

Mencipta siswa menjadi pembelajar sejati merupakah visi sekolah ini, lantunan mars SMART yang meniupkan angin segar membangun diri sebagai pembelajar sejati terus mengiringi. Moment kejuaraan, pertandingan dan olimpiade terus diikuti guna mengasah pikiran dan harapan. Kegiatan ilmiah berupaya dikembangkan dalam diri siswa.

 

Banyak siswa SMART yang telah menjadi pemimpin dikampusnya. Menjadi pemimpin bagi mahasiswa lainnya, menunjukkan bahwa sebagai pribadi manusia yang soleh perlu dan penting untuk beramal baik bagi sesama. Kalau mereka memilikim ‘kebodohan’ belum tentu dipercaya menjadi seorang pemimpin dikampusnya.

 

Saat ini mereka memimpin organisasi kampus, suatu saat akan memimpin organisasi dunia.

 

Kepekaan sosial, daya nalar, kemampuan berpikir kritis dari para guru berikan dalam proses belajar mengajar yang apik di setiap waktunya. Kemampuan berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi dikembangkan dalam moment-moment pembelajaran dalam kelas dan luar kelas. Profil kedua siswa SMART adalah Pembelajar sejati.

 

Profil Pembelajar sejati menitik beratkan dalam berapa banyak buku yang telah dipelajari, dibaca dan dikaji kandungan ilmunya, untuk kemudian dibuat menjadi bahan diskusi bersama. Jangan salah kira lho….Siswa kami doyan melahap buku hingga berbuku-buku. Mantab pisan mereka, buku mereka lahap, internet mereka lahap, hingga perfilman pun merek lahap dengan sempurna.

 

Belajar yang menyenangkan insya Allah menghasilkan buah yang baik. Seperti apakah belajar yang menyenagkan itu….? Belajar dengan model dan media yang menarik, model dan media yang rutin diupgrade sehingga tak muncul rasa bosan.

 

Memang sih, butuh waktu dan energi lebih untuk itu semua.

 

Tapi bro, permasalahan kebodohan bisa kami atasi dengan menyemangati para ‘darah muda’ untuk senantiasa baca,baca, dan baca buku. Quantum learning dioptimalkan dan forum diskusi bermutu dioptimalkan.

 

Profil Siswa Pembelajar sejati pun diwujudkan dengan menjadi mahasiswa pasca sarjana di negara orang lain. Siswa SMART Ekselensia menjadi mahasiswa program pasca di belanda, pengalaman yang baik untuk kaum marginal menimba ilmu di negeri sebrang.

 

Pembelajar sejati profil yang senantiasa diikuti para siswa hingga belajar dimalaysia, perancis dan negara lainnya.

 

Bang masih ada permasalahan global ketiga, problem itu berupa ketamakan. Ketamakan menjadi masalah global karena hampir banyak manusia itu tamak. Dalam bahasa ketamakan merupakan sebuah berupaya mendapatkan lebih untuk diri sendiri. Ketamakan menggerogoti dunia, bisnis dikuasai segelintir orang, sekelompok kecil manusia, dunia dikuasai oleh kebijakan segelintir negara, perusahaan dikuasai oleh segelintir orang, hingga muncul monopoli, liberalisme dan kapitalisme.

 

Profil siswa SMART adalah kedermawanan. Kedermawanan siswa disuguhkan dengan pola hidup sederhana, pola makan yang sederhana, pola komunikasi yang seadanya dan belajar yang mengoptimalkan potensi sarana prasarana yang ada. Siswa senantiasa ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Kegiatan membangun desa. Siswa beberapa hari belajar didesa orang lain untuk berbagi ilmu, berbagi kesempatan dan berbagi amal ibadah dengan membangun sarana pendidikan, ibadah dan karakter masyarakat.

 

Siswa SMART berprofil kedermawanan untuk dunia, mereka lahir dari keluarga miskin dan merasakan menjadi orang yang kurang. Rasa terima dilatih untuk beradaptasi menjadi pribadi sederhana. Tanpa melupakan kulit mereka, siswa kami berubah menjadi pribadi yang berada namun tidak tamak.

 

Lembaga yang mengajarkan untuk mendahulukan kepentingan orang lain sebelum kepentingan pribadi. Dompet dhuafa membangun sekolah ini untuk menciptakan pribadi siswa SMART yaang dikemudain hari menjadi dermawan. Peduli untuk negara dan bangsanya.

 

Kedermawanana profil siswa SMART untuk mengalahkan permasalahan global. Dengan empat puluh siswa disetiap angkatannya, para guru dan lembaga berupaya mem’cipta’kan siswa dengan profil ideal bagi dunia. Giat berusaha, Pembelajar sejati dan Kedermawanan dibingkai dalam religius sejati akan menciptakan pribadi yang diidamkan olah para leluhur bangsa. Bangsa Indonesai akan menjadi negara maju dan jaya dengan keberadaan para siswa, generasi muda yang berkarakter SMART.