Skip Challenge dan Disorientasi Hidup Generasi Muda

Oleh: Zayd Sayfullah (Manajer Peningkatan Mutu Pendidikan – Dompet Dhuafa Pendidikan)

Video permainan yang dilakukan para pelajar baru-baru ini menyebar secara viral lewat social media YouTube, Instagram, dll. Nama permainan tersebut adalah Skip Challenge. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melarang para siswa melakukannya. Untuk bisa mencegah para siswa mencontoh hal tersebut, para guru dan kepala sekolah diminta memberi perhatian terhadap kegiatan siswa di lingkungan sekolah. (www.cnnindonesia.com, 11/03/2017)

Permainan ini sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 2005 di Inggris, yang disebut Choking Game, sedangkan di AS dikenal dg Pass Out Challenge. Walaupun namanya berbeda dan dilakukan dengan beberapa cara yang tidak sama, namun permainan ini memiliki kesamaan tujuan, yakni secara sengaja dan sementara memotong pasokan oksigen ke otak.

Orang yang melakukannya akan pingsan selama beberapa saat dan merasakan euforia. Permainan ini berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan otak, bahkan kematian. Permainan ini marak dilakukan oleh anak-anak muda yang sebagian besar adalah pelajar SMP sampai SMA. Permainan ini juga bahkan diikuti oleh anak yang masih usia SD. Di negara asalnya, permainan ini telah merenggut korban jiwa. Pada tahun 2016 yang lalu, sekitar 250-1000 orang anak meninggal di Amerika Serikat karena memainkan tantangan game ini. (www.tribunnews.com, 10/03/2017)

Maraknya remaja dan pelajar yang melakukan permainan ini menunjukkan ada orientasi hidup yang salah pada generasi muda sekarang. Disorientasi hidup tersebut menunjukkan adanya konsep diri yang salah pada diri mereka. Karenanya tidak mengherankan saat ada hal-hal baru, seperti Skip Challenge, klitih, tawuran antar pelajar dll, mereka dengan mudah terbawa arus.

Konsep diri yang salah tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni faktor keluarga (terutama orang tua), pendidikan, dan lingkungan. Semua faktor tersebut akhirnya bermuara pada sistem yang diterapkan negara dalam mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Kesalahan orientasi hidup itu tentu tidak akan terjadi manakala mereka hidup dalam sistem yang baik, yakni Sistem Islam. Sistem yang baik akan mengkondisikan masyarakat, termasuk generasi muda, untuk menata hidupnya berorientasi pada ridho Allah SWT. Karenanya mereka akan menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan positif sesuai dengan hakikat hidupnya. Mereka akan memprioritaskan kegiatan yang hukumnya wajib dan sunnah dalam seluruh aspek kehidupan, sesekali mereka mengerjakan yang mubah. Dalam kamus kehidupan mereka, hal-hal haram dibuang jauh-jauh, dan yang makruh dihindari. Sehingga mereka tidak akan terjebak dalam kegiatan tawuran, atau kegiatan yang sia-sia apalagi yang membahayakan seperti permainan Skip Challenge.

Maka, tidak mengherankan saat Islam diterapkan, para generasi muda memiliki kesibukan dan orientasi kegiatan yang berbeda dengan generasi yang hidup dalam kungkungan sistem sekuler saat sekarang. Generasi muda dalam sistem Islam sibuk dengan budaya belajar, meningkatkan kualitas diri, dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Sebagai contoh, pada masa Khilafah, sejak anak-anak memasuki usia 7 tahun, mereka sudah sibuk mempelajari kitab Alfiyah Ibnu Malik, kitab nahwu yang dalam pesantren-pesantren saat ini dianggap level tertinggi dan berat. Karenanya, dalam sistem Islam generasi muda bisa lebih cepat mencapai segudang prestasi dalam usia yang lebih muda.

Kalau dismpulkan, secara sistemik sistem Islam telah berhasil mengkondisikan generasi penerus mengikuti urutan perjalanan sebagai berikut: usia 5 sampai 10 tahun sudah berhasil hafizh al-Qur’an 30 juz. Usia 10 sampai 19 tahun sudah hafal kitab hadits, belajar fikih, ilmu kehidupan, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan saat usia 20 tahunan sudah menjadi orang besar di masyarakat dengan prestasi gemilang, bahkan ada yang lebih cepat lagi.

Sebagai contoh Imam Syafi’i hafal Al-Quran pada usia 7 tahun dan sudah bisa memberikan fatwa saat usia 15 tahun. Ibnu Sina hafal Al-Qur’an di usia 5 tahun, dan menjadi dokter saat usianya genap 17 tahun. Dan banyak lagi generasi emas lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu selevel Imam Bukhori, Ibnu Khaldun, Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, dll.

Itulah gambaran umum kematangan konsep diri para generasi yang dibesarkan dalam naungan aturan Islam. Coba bandingkan dengan generasi muda yang saat ini dibesarkan dalam sistem kehidupan kapitalisme-sekulerisme. Mereka baru lulus pendidikan formal (S1) sekitar usia 23 tahun, itupun belum tentu sudah hafal Al-Quran, memiliki keahlian dan berhasil. Karena umumnya setelah usia itu mereka baru berpikir untuk berkarya dalam dunia nyata. Ada yang akhirnya berhasil, tetapi tidak sedikit yang masih gamang dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Jadi, apabila kita menginginkan generasi muda penerus bangsa ini memiliki kematangan konsep diri dan segudang prestasi dan pencapaian, serta jauh dari hal-hal yang sia-sia dan membahayakan hidup di dunia maupun di akhirat, maka sistem kehidupan harus dikembalikan kepada yang sempurna, yakni sistem kehidupan berlandaskan Islam.