SMART dan Perjuangan Tanpa Batas

Muhammad Ikram Azzam

“Selamat ya mas Azzam, sekarang kamu sudah resmi menjadi anak SMA. Jangan lupa belajar dan berdoa, ya nak. Insha Allah kamu pasti bisa meraih semua impianmju. Umi selalu mendoakan yang terbaik buat mas Azzam”.

Itulah pesan ibu ketika saya menunjukan rapor SMP semester terakhir dulu. Saya ingat betul ada kata ‘Lulus’ terpampang di sana dan membuat saya tak jenuh melihatnya terus menerus.

Nama saya Muhammad Ikram Azzam. Saat ini saya berumur 16 tahun dan berasal dari Jakarta, saya duduk di Kelas XII jurusan IPS. Sungguh tak terasa sudah hampir lima tahun saya merantau ke Kota Hujan untuk bersekolah di sekolah berakselerasi bernama SMART Ekselensia Indonesia. Di sini saya berjuang demi menggapai impian menjadi seorang diplomat bergelar cendikiawan muslim. Banyak sekali keseruan dan keceriaan yang hadir dalam rutinitas yang saya jalani selama mengenyam pendidikan di SMART, selain bersekolah saya juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah dan kegiatan di luar sekolah. Saya pernah menjabat Ketua OSIS periode 2016/2017, saya juga didapuk menjadi Duta Gemari Baca oleh Makmal Pendidikan, dan baru-batu ini saya berhasil menyabet Pemustaka Jawara Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan serta mengikuti Konferensi Forum OSIS se-Jawa Barat di Bandung.

Di SMART saya bisa bertemu teman-teman hebat dan cerdas dari seluruh Indonesia, buat saya itu adalah pengalaman paling berkesan dari sekian banyak pengalaman yang saya dapat. Saya juga merasa terhormat karena bisa diajar oleh pengajar hebat yang SMART miliki. Para guru di SMART membuat saya semakin mengerti akan arti perjuangan, tanpa lelah mereka terus menyemangati saya untuk mengejar impian  agar tak pupus di tengah jalan.

Berbicara mengenai impian, saya jadi teringat kenapa saya ingin sekali menjadi seorang diplomat. Dulu ketika masih duduk di Sekolah Dasar saya rajin membaca ensiklopedia tentang  peradaban dunia, saya tertarik dengan keragaman dan kerukunan yang digambarkan di sana. Dari situ saya membayangkan jika suatu hari saya bisa menjelajah dan mengeksplorasi kemegahan dunia sambil menyuarakan dan menciptakan kedamaian di dunia, saya pikir hanya diplomat yang bisa seperti itu. Tekad saya untuk meraih mimpi semakin kuat apalagi didukung oleh teman-teman dan para guru, kata menyerah seakan tak ada lagi dalam kamus hidup saya.

Kini saya sudah berada di kelas paling tinggi sekaligus kelas terakhir dan beberapa bulan lagi saya akan berjuang di Ujian Nasional (UN) 2017 lalu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Strategi jitu sudah saya siapkan menjelang UN agar mendapatkan nilai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan Kemdikbud, saya yakin mampu melabuhkan impian ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit yakni Universitas Indonesia. Ada tiga jurusan yang saya dambakan yakni Hubungan Internasional, Hukum, dan sastra Arab.

Perjuangan menggapai impian memang tidak mudah, saya harus melewati Sidang Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS), Ujian Sekolah (US), Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), UN, dan terakhir  Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) atau ujian mandiri untuk masuk PTN. Banyak persiapan saya lakukan agar target yang dibuat dapat tercapai, jauh-jauh hari saya telah bergumul dengan kumpulan soal UN dan SBMPTN, saya juga rutin bangun 30 menit sebelum Subuh untuk melaksanakan Salat Tahajud lalu berdoa kemudian belajar. Setelah Subuh saya kembali membuka buku kumpulan soal, sehabis Asar; Maghrib; dan Isya saya melakukan hal serupa, hingga menjelang tidur membaca kumpulan soal dan buku pendukung seakan menjadi rutinitas harian yang tak terpisahkan.  Saya mengusahakan yang terbaik dan berupaya sekuat tenaga untuk menyukseskan target yang telah dibuat.

Untuk menjaga ritme target saya juga rutin berkonsultasi dengan guru bimbingan konseling setiap seminggu sekali, memperbanyak zikir, memperbanyak amalan-amalan baik serta membiasakan diri bersedekah dan menjaga emosi. “Lalu masih adakah yang saya lakukan agar hajat saya tercapai?” Jelas ya, saya juga menjaga puasa Sunah Senin Kamis dan membaca Al-Quran, kedua hal tersebut tak luput dari agenda ikhtiar yang saya upayakan. Karena saya yakin Allah melihat usaha keras hamba-Nya untuk sukses, tidak ada keraguan di dalamnya. Selama beberapa bulan terakhir saya dan teman-teman terus dibimbing oleh para guru agar semangat kami tidak luntur.

Saya mempunyai pesan untuk seluruh siswa Kelas XII se-Indonesia, mari kita berjuang bersama-sama menggapai impian dengan melakukan usaha terbaik dan doa. Ingat perjuangan belum berakhir, mimpi kita menunggu untuk diwujudkan, kita tak boleh menyerah oleh keadaan. Lakukan yang terbaik dengan aksi yang baik, insha Allah kesuksesan akan mengahampiri kita.