Oleh: Masfufatun

Pertama kali saya mendengar nama SMART Ekselensia Indonesia adalah dari teman, saat menginfokan bahwa di sana ada lowongan pekerjaan. Teman saya sudah lebih awal bekerja di sana, tapi bukan di SMARTnamun di divisi lain yang memang masih dalam satu lembaga. Ya, baru mendengar namanya saja, SMART, rasanya asing dan unik. Ternyata SMART adalah nama sebuah sekolah.  SMART sendiri adalah kependekan dari Sekolah Menengah Akselerasi Internat. Sedangkan Ekselensia adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu Excellent yang artinya luar biasa, unggul, istimewa.

 

Saat saya datang ke SMART untuk pertama kalinya, dari luar gedung, saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa sekolah ini nampak sepi ya. Ternyata aktivitas KBM anak-anak berada di lantai dua. Jadi, sekolah ini bukan hanya bangunan yang khusus untuk kegiatan center aktivitas KBM anak-anak seperti sekolah pada umumnya. Sekolah ini berada di lingkungan kerja divisi-divisi lainnya yang masih dalam satu lembaga, maka pantas saat saya pertama kali datang saya melihat ada tulisan “Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD)”.

 

SMART berada di tengah-tengah lingkungan kerja yang mana sudah pasti para siswa juga berinteraksi dengan karyawan lainnya yang bekerja di divisi lain, adalah suatu keunikan. Tanpa disadari mereka akan mengerti dan memahami bagaimana seluk-beluk dunia kerja karena memang mereka hidup di lingkungan karyawan yang bekerja di divisi lainnya. Inilah salah satu dari sekian yang membuat SMART berbeda dengan sekolah lainnya.

 

SMART merupakan sekolah bebas biaya, akselerasi dan berasrama pertama di Indonesia. Diresmikan pada 29 Juli 2004, sekolah ini adalah salah satu departemen Dompet Dhuafa Pendidikan. Sekolah SMART fokus pada pendidikan tingkat menengah (SMP dan SMA) khusus bagi siswa laki-laki lulusan sekolah dasar yang memiliki potensi intelektual tinggi namun memiliki keterbatasan finansial. Dan siswa yang direkrut sekolah ini berasal dari seluruh Indonesia.

 

Tak terbayangkan saya bisa mengajar di sekolah yang penuh dengan keunikan, dengan siswanya yang beragam dari seluruh Indonesia apalagi seluruh siswanya laki-laki. Pada umumnya sekolah yang siswanya laki-laki itu adalah sekolah menengah kejuruan tapi ini ada di sekolah menengah umum.

 

Sungguh luar biasa Dompet Dhuafa berani mendirikan sebuah sekolah gratis yang siswanya diambil dari seluruh Indonesia dan saat itu usia mereka masih kecil, lulusan SD. Di usia yang masih kecil itu mereka harus berpisah bahkan ada yang berpisah jauh karena mereka berasal dari luar Jawa. Dan perpisahan itu tidak sebentar, lima tahun untuk menimba Ilmu di SMART. Di sinilah kekuatan hati diuji, baik orang tua maupun anak untuk siap berpisah jauh dan dalam waktu lama, demi cita-cita.

 

Dan tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru-guru khususnya pembina asrama yang akan menemani dan membersamai tumbuh kembang mereka lima tahun ke depan. Bagaimana, layaknya mereka yang juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru yang berbeda beda suku, kami pun para guru juga sama harus beradaptasi dalam menghadapi mereka di kelas. Bayangkan semua karakter dan kebiasaan tiap daerah seluruh Indonesia berkumpul menjadi satu. Dan belum lagi, perbedaan tingkat pemahaman dalam menerima pelajaran juga sangat berbeda bahkan mungkin berbeda drastis.

 

Beragam sifat, karakter, dan kebiasaan siswa-siswa SMART inilah yang menjadi keunikan dan kekayaan khasanah tersendiri bagi kami. Ada siswa yang dari luar Jawa, dari daerah timur yang memiliki sifat keras, ada siswa yang dari Jawa yang memiliki sifat lembut. Tak dipungkiri, karena perbedaan itu acapkali terjadi perselisihan diantara mereka. Di sinilah tantangan kami bagaimana kami terus belajar pola asuh anak dengan beragam latar belakang sifat dan karakter ini.

 

Banyak kisah lucu dan unik dari anak-anak “khas” ini. Pernah suatu ketika, beberapa hari setelah kedatangan siswa-siswa baru. Mereka sedang berada di sekitar koridor kantor lantai bawah, hanya sekedar untuk melihat-lihat mading ataupun piala yang terpajang disana. Saya baru saja tiba di SMART lalu mulai memasuki koridor, dan saya dapati ada beberapa anak yang tidak memakai alas kaki. Lalu saya bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian tidak memakai alas kaki?” Mereka menjawab “Lantainya bersih, sayang kalau diinjak pakai sendal/sepatu”. MasyaAllah, mendengar jawaban seperti itu saya merasa antara terharu dan merasa mereka polos. Mungkin mereka baru merasakan lantai koridor kantor yang begitu bersih bahkan mungkin kinclong, yang selalu dipel pegawai kebersihan tiap beberapa jam sekali. Bisa jadi tempat tinggal mereka dalam kondisi kumuh karena mereka memang anak-anak marginal yang hidup dengan keterbatasan finansial.

 

Kisah unik lainnya adalah saat pembina asrama sedang sosialisasi cara hidup bersih di asrama. Salah satunya adalah harus menyikat gigi. Pembina asrama pun menjelaskan cara menyikat gigi yang benar, yaitu menggunakan sikat gigi dan pasta gigi, setelah itu kumur-kumur lalu dibuang. Lalu ada salah satu siswa yang berceletuk, “Ustad oh itu pasta gigi tidak boleh dimakan to?” (dengan logat timurnya), kemarin saya kira itu (pasta gigi) sejenis makanan, lalu saya makanlah dan rasanya enak.” Sontak pembina asrama dan anak-anak pun ketawa. Itulah pentingnya sosialisasi, karena kami paham mereka beragam latar belakang budaya, adat istiadat dan kebiasaan. Anak ini berasal dari daerah yang memang terpencil dan didaerahnya belum mengenal pasta gigi jadi wajar ketika di kamar mandi asrama menemukan benda seperti itu dia merasa asing.

 

Itulah SMART yang didedikasikan oleh Dompet Dhuafa untuk seluruh anak pelosok negeri ini. Berharap dengan adanya SMART dapat memutus rantai kemiskinan dan bahkan cita-cita kami adalah menjadikan mereka Muzakki yang tak lupa dari lembaga mana mereka terlahir. Serta menjadikan mereka berkontribusi lebih bagi bangsa ini dengan segala keahlian yang mereka punya, baik kemandirian maupun kepemimpinan.