SOCIAL FUN(D)

SOCIAL FUN(D)

Kebahagiaan datang dengan berbagai bentuk, tapi seringkali dia datang lewat cara-cara yang sederhana. Itulah yang saya dapatkan ketika bersilaturahmi ke Panti Asuhan Putra Darussolihin, Salabenda. Panti asuhan yang memiliki halaman yang cukup luas dengan bangunan panti yang berbentuk huruf ‘U’ ini sudah berdiri sejak tahun 1998. Di sini tinggal 31 orang anak asuh, dari siswa SD hingga mahasiswa.

Saya dan teman-teman berkunjung ke panti ini bukan tanpa alasan. Kami bermaksud ingin donasi dan menyumbangkan beberapa barang yang kami (seluruh siswa SMART) miliki, seperti baju, uang, serta alat-alat kebersihan bagi penghuni panti. Acara ini adalah realisasi dari program OASE 2018-2019 yang sudah dirancangkan oleh divisi kami, Divisi Sosial, Komunikasi dan Informasi (Diskominfo).

Kami berkunjung ke Darussolihin pada Sabtu pagi, 21 September 2019 lalu. Saya pergi ke panti asuhan itu dengan teman-teman Diskominfo lainnya, yaitu,  Syarif, Dafa, Thorik, Agil dan Wawan.

Awalnya, program ini sangat sulit untuk direalisasikan karena terhalang beberapa faktor, seperti sulit mencari panti asuhan yang cocok, mencari tanggal yang tepat dan menyiapkan anggaran yang sesuai. Beberapa kali kami ingin mengganti program ini dengan mengadakan bakti sosial kepada siswa-siswa SD yang membutuhkan bantuan di sekitar SMART. Namun ide itu juga kami batalkan karena satu dan lain hal.

Akhirnya, setelah beberapa kali diskusi dengan Ustazah Dina Rahmawati sebagai pembina OASE, pilihan kami jatuh pada Panti Asuhan Putra Darussolihin. Setelah itu, berbagai persiapan pun kami lakukan. Kami mulai dengan melakukan survei ke Panti Asuhan Putra Darussolihin. Survei ini dilakukan untuk menilai seberapa cocok panti menerima donasi.

Selain itu, survei dilakukan untuk membuat janji pelaksanaan kegiatan apabila panti dirasa cocok untuk menerima donasi. Tapi sepertinya takdir berkata lain, pengurus panti pada saat itu sedang tidak ada di tempat. Kami pun menerima kartu nama pengurus panti dan diminta untuk menghubungi lewat Whatsapp oleh Pak Security.

Satu minggu pun berlalu. Saya teringat untuk menghubungi pihak panti guna membuat janji pelaksanaan. Dengan menggunakan ponsel milik OASE, saya pun menghubungi pihak panti. Setelah mendapat kepastian tanggal pelaksanaan, kami pun mulai menyiapkan barang-barang yang akan kami donasikan kepada Panti Asuhan Putra Darussolihin.

Donasi berupa baju dan uang kami kumpulkan secara sukarela dari seluruh siswa SMART. Awalnya, terbesit keraguan untuk mengajak siswa SMART ikut berdonasi, karena kami akan memotong uang saku setiap siswa sebesar Rp 5.000 dan meminta mereka menyumbangkan baju.

Ternyata keraguan kami tidak terbukti, semua siswa mau ikut berpartisipasi. Satu hari sebelum pelaksanaan acara, kami pun menyiapkan semua donasi yang akan kami berikan. Alhamdulillah, terkumpul uang tunai satu juta rupiah dan baju dua kardus besar. Kami juga bisa membeli alat-alat kebersihan untuk teman-teman di panti asuhan.

Hari pelaksanaan pun tiba. Kami pergi dengan menaiki Bus Pusaka dari Jampang menuju Salabenda. Karena sehari sebelumnya kami tidak sempat untuk membeli makanan, maka saya pun memisahkan diri dari rombongan untuk membeli Bolu Lapis Bogor. Kue khas Bogor ini akan kami hadiahkan kepada teman-teman di panti.

Tak butuh waktu lama, 25 menit kemudian kami semua sudah memasuki halaman Panti Asuhan Putra Darussalihin. Kami pun menyiapkan barang-barang yang kami bawa agar terlihat rapi. Sebelumnya kami cukup kerepotan menggotong dua kardus besar berisi baju, alat-alat kebersihan dan Bolu Lapis Bogor dengan berjalan kaki. Ditambah jarak dari pemberhentian Bus Pusaka ke panti asuhan lumayan jauh.

Kami disambut oleh bapak setengah baya, Pak Arif, beliau adalah salah satu pengurus panti. Kami kemudian diajak untuk masuk ke ruang tamu. Lalu kami memperkenalkan diri dan berbincang tentang Panti Asuhan Putra Darussolihin.

Pak Arif menjelaskan bahwa panti ini sudah memiliki cabang di wilayah Ciawi, khusus untuk balita dan perempuan. Penghuni panti juga berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Pak Arif pun berkisah tentang latar belakang anak-anak pantinya. Ada anak yang ditinggal cerai oleh kedua orang tuanya dan tidak terurus. Ada juga anak yang berasal dari jalanan.

Namun yang membuat kami miris adalah ada anak yang ditinggal di rumah sakit oleh orang tuanya sejak lahir. Anak itu diberi nama Imam, sekarang sudah berumur enam tahun,  Kelas 1 SD. Imam tumbuh menjadi anak yang baik dan lucu. Di sisi lain, kisahnya membuat kami berpikir betapa tak punya hati orang yang “membuang” Imam. Pak Arif juga menambahkan bahwa rata-rata anak di panti sudah jarang atau bahkan tidak dijenguk lagi oleh orang tuanya. Jadi jika lebaran tiba, mereka hanya berada di panti. Jika sedang beruntung meraka diajak jalan-jalan oleh para donatur.

Semua penuturan Pak Arif membuat kami teringat dengan kondisi kami dan siswa SMART lainnya. Kondisi kami pun tidak beda jauh dengan para anak panti ini. Kami semua berasal dari daerah yang berbeda-beda di Indonesia dan tentunya latar belakang yang berbeda-beda pula. Teman-teman kami pun ada juga yang memiliki masalah keluarga yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak panti asuhan ini.

Kami memang kekurangan secara materi, tapi kami tidak kekurangan secara nurani. Dengan  keterbatasan yang kami miliki, tidak membuat kami mempunyai alasan untuk tidak membantu sesama. Karena pada hakikatnya, seburuk apa pun kondisi kita, masih ada lagi orang yang ditimpa musibah lebih berat. Selama ini kami lebih sering mengeluh tentang apa yang tidak kami punya daripada mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Perlahan, rasa malu dan bersyukur menelusup ke dada kami. Sesuatu yang seharusnya sudah lama kami punya.

Setelah cukup lama berbincang di ruang tamu panti, kami pun diarahkan menuju ruangan seperti musala kecil. Ruangan ini tidak besar, tetapi tidak bisa dibilang kecil juga. Pak Arif menjelaskan, bahwa anak-anak mengaji dan kajian di sini.

Acara ini kunjungan kami pun dimulai. Pak Arif membuka acara dengan takzim. Setelah pembukaan, acara pun diserahkan kepada kami. Kami pun memperkenalkan diri masing-masing, seraya menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami. Anak-anak panti  manggut-manggut saja karena sepertinya mereka sudah sering dihadapkan pada situasi ini.

Setelah perkenalan diri, saya memberikan mereka sedikit motivasi. Saya mulai motivasi dengan sebuah cerita perompak gurun pasir yang saling bunuh untuk mendapatkan harta. Hingga akhirnya tak ada yang memiliki harta itu karena semuanya mati terbunuh. Semua peserta menyimak dengan serius dan sesekali tersenyum.

Anak-anak panti menyimak dengan serius karena sepertinya jarang ada yang datang dan memberi motivasi dengan berapi-api seperti seorang yang sedang orasi. Saya sengaja mengeraskan suara saya seperti sedang orasi, untuk membangkitkan semangat mereka. Saya ingin menyampaikan bahwa manusia yang dibentuk dengan kepedihan sedari kecil akan menjadi manusia yang tangguh.

Selayaknya berlian yang sangat berharga, hanya dapat terbentuk setelah melewati panggangan ribuan derajat Celsius di magma dan ditempa oleh bumi. Saya juga ingin menyampaikan bahwa, kita yang berasal dari golongan bawah bukan berarti tidak bisa menyebarkan kebaikan. Sebarkanlah kebaikan itu walau sekecil apa pun. Karena berbuat kebaikan itu seperti sebuah bandul. Ia akan kembali lagi kepada kita dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Setelah selesai memberi motivasi singkat, acara pun kami lanjutkan dengan penyerahan donasi. Saya menjelaskan bahwa donasi ini berasal dari seluruh siswa SMART Ekselensia Indonesia. Acara pun dilanjutkan dengan menyantap Bolu Lapis Bogor besama-sama. Awalnya kami memberikan Bolu Lapis Bogor untuk dimakan oleh seluruh anak panti, tetapi Pak Arif ingin agar makannya bersama-sama.

“Agar lebih afdhol,” kata Pak Arif. Kami pun mengiyakan saja.

Disaat memotong Bolu Lapis Bogor, Pak Arif berkata, “Jarang sekali kami bisa makan Bolu Lapis seperti ini.” Saya bisa melihat raut kejujuran dari wajah Pak Arif.

Selesai makan bolu bersama, kami semua pun berfoto bersama. Kemudian saya dan teman-teman kembali berbincang singkat dengan Pak Arif tentang kunjungan ini. Beliau mengucapkan banyak terima kasih dan mengundang kami untuk tidak sungkan berkunjung kembali ke panti.

Acara selesai, kami pun bersiap untuk kembali ke SMART. Kami mengucapkan selamat tinggal kepada semua anak panti serta tak lupa bersalaman dengan Pak Arif. Acara ini memang sangat sederhana, tetapi bekas yang ditinggalkan sangat tidak sederhana,  Kawan!

Dari acara sederhana ini kami seperti sedang diajarkan banyak tentang hidup. Dilema kehidupan yang biasanya hanya terlihat di acara-acara televisi, dapat kami lihat langsung dengan mata kepala kami.

Banyak sekali orang yang merasa hidupnya sudah sangat berat, karena dia terus mendongak ke atas, lupa untuk melihat ke bawah. Seandainya dia sering melihat ke bawah, dia akan sadar bahwa masih banyak orang yang lebih susah darinya. Mereka yang menanti uluran tangan, tak peduli walau sekecil apa pun “tangan” yang datang kepada mereka.