Sujud Sang Calon Ilmuwan

Sujud sang calon imam

Dia terlahir dengan nama Hizbullah Ash-Shidiqy, dan biasa dipanggil dengan “Hizbah”. Siswa kelas 1 SMART Ekselensia Indonesia ini kerap membuat hakami bergetar manakala melihatnya berdoa sambil sujud dalam waktu yang lama. Siswa ini unik, tidak banyak bicara. Berbeda dari kebanyakan teman-temannya, tidak ada waktu yang tersisa dari keseharian Hizbah, selain untuk belajar, membaca buku, dan tilawah Al-Qur`an. Dia banyak membaca buku-buku penulis hebat, terutama karya-karya Dr. Aidh al-Qarni. Karya-karya al-Qarni, seperti Laa Tahzan, dikenal mampu menyentakkan jiwa dan relung kalbu para pembacanya. Nasihat-nasihatnya begitu mudah dicerna, tapi mendalam sekaligus menenteramkan jiwa. Kuat dugaan, tulisan-tulisan al-Qarnilah yang kemudian membekas di hati Hizbah sehingga ia rajin berdoa dan bersujud dalam tempo yang lama. Hampir setiap selesai Shalat Maghrib siswa asal Bandung ini melakukannya.

Suatu ketika saya menghampirinya. Hizbah terduduk khusyuk membaca bukunya. Lagi-lagi buku karya Aidh al-Qarni tentang nasihat agama untuk seorang pemuda.

Berapa lama kamu membaca buku setebal 300-an halaman ini, Nak?” ,“Kurang lebih dua-tiga hari, Ustadz, jika tidak ada PR.” jawabnya.

Subhanallah, saya sangat kagum. Dahsyat, keren. Waktu yang singkat mampu membaca lebih dari 300 halaman. Begitu bukunya selesai dibaca, Hizbah pasti pergi ke perpustakaan Pusat Sumber Belajar (PSB) yang ada di lingkungan SMART. Ia mencari buku lainnya. Kawan, berapa buku yang kauhabiskan dalam satu pekan, satu bulan, atau pertiga bulan? Sungguh saya sangat kagum terhadap siswa ahli sujud ini. Meskipun doyan melahap buku koleksi PSB, hafalan Al-Qur`an Hizbah tidak kalah tertinggal dari teman-temannya.

“Apa cita-citamu, Hizbah?” tanya saya suatu waktu.

“Saya ingin jadi ilmuwan di bidang sains, Ustadz. Saya ingin kuliah di ITB,” jawabnya dengan mantap.

Suatu hari siswa-siswa kelas 1 mengadakan bakti sosial di Masjid An-Nur, Desa Jampang. Kami, wali asrama, menyiapkan berbagai bingkisan berupa alat kebersihan, mikrofon jepit, dan kipas angin. Agar kegiatan ini lebih berkesan, kami menasihati para siswa untuk saling berbagi dengan menyumbangkan sebagian uang sakunya.

Hampir semua siswa menyumbang, tanpa terkecuali Hizbah. Namun, yang benar-benar di luar dugaan saya, uang yang diberikan Hizbah tidak kurang 25 kali lipat rata-rata sumbangan setiap siswa! Subhanallah. Kawan, tidakkah kita merenung, ada keteladanan dalam diri anak ini. Betapa sikap kedermawanan telah tumbuh dalam dirinya. Tahajudnya tidak pernah putus, shaum-nya selalu terlaksana. Rasanya kita sebagai manusia dewasa pantas malu terhadap prestasi ibadahnya.

Subhanallah, rasa takjub ini begitu besar dan bertanyatanya dalam hati tentang keluarganya. Rasa keingintahuan ini begitu memuncak, seperti hausnya seorang yang berpuasa menjelang waktu berbuka. Setelah saya telusuri, ternyata anak Sulawesi ini terlahir dari seorang ibu yang sederhana, bersahaja, dan bersuamikan seorang ustadz. Orang bilang, buah itu tak jauh dari pohonnya. Tampaknya pepatah ini berlaku pula pada Hizbah. Kami di SMART mendoakan semoga Hizbah tetap istiqamah hingga menjadi sosok yang saleh nan cendekia. [] (Bukhari)

Diambil dari Buku “Marginal Parenting”