Pos

Pesawat, dan Arti Kesederhanaan

Pesawat, dan Arti Kesederhanaan

Desa. Apa yang terpikirkan dalam kata ‘desa’? Asri, indah, damai, tenteram? Kalau seperti itu, alangkah beruntungnya aku. Atau, justru terbelakang, marginal, terisolasi? Jika begitu, betapa kasih dan sayangnya Allah menakdirkanku sebagai anak desa.

Terlahir di desa membuatku menjadi orang yang sederhana sekaligus tersederhanakan. Aku senang sederhana karena sederhana membuatku nyaman, tak banyak pikiran. Ya, apa yang harus dipikirkan jika untuk menanak nasi dengan tungku belaka? Atau, apa yang memusingkan jika hanya bermain congklak dan petak umpet? Apa yang memusingkan dan membebani pikiran?

Tapi, hidupku harus beranjak. Aku perlu beranjak dari tempat satu ke tempat lain. Tak boleh tidak. Karena, kata ibuku, manusia kodratnya berpindah, bergerak, tumbuh. Maksudnya? Tak tahulah aku apa arti pastinya. Yang jelas, aku harus berpindah tempat.

Maka, hidupku tak boleh selamanya sederhana. Oh bukan, tak boleh sepenuhnya sederhana karena aku masih senang sederhana. Tawaran berpindah pun datang. Takdir Allah datang berupa status menjadi siswa SMART Ekselensia Indonesia.

Sekarang SMART Ekselensia Indonesia sudah dan akan tetap menjadi bagian besar dalam hidupku. Mengapa bisa begitu? Apa spesialnya? Aku jawab, ya 100%. Sebab, SMART telah banyak mengambil peran dalam hidupku. Satu hal terpenting yang SMART ajarkan kepadaku adalah bagaimana mengubah paradigma kesederhanaan itu. Saya tidak perlu menjauhi sederhana untuk sebuah perpindahan.

Pelajaran itu disampaikan lewat benda bernama pesawat.

Berkat rahmat Allah, dukungan dan doa dari orang-orang tercinta, aku bisa naik pesawat. Pesawat yang bahkan waktu kecil aku hanya bisa mendongakkan kepala ke atas untuk mencari di mana dan ke mana burung besi itu pergi. Tak jarang, hanya suara menderu dan silau sinar matahari yang aku dapatkan.

Tiket pesawat itu aku raih setelah melewati dan memenangi sebuah kompetisi. Kata orang, sering kali momen pertama itu paling berkesan. Tapi, aku tak mau momen mengesankan naik pesawat menjadi momen menggelikan. Agar tidak terjadi, aku persiapkan baik-baik supaya semua lancar pada waktunya.

Menurut Ustadz Mulyadi, guruku di SMART, visualisasi itu penting. Visualisasi tentang apa yang ingin kita raih, tentang apa yang ingin kita lakukan pada masa mendatang. Aku pakai jurus itu, visualisasi.

Visualisasi pertamaku adalah orang yang naik pesawat umumnya membawa koper. Sebenarnya aku lebih nyaman dan sreg memakai tas safari. Tapi, aku berpikir, aku tak boleh sepenuhnya lagi sederhana.

Aku pun mencari teman yang berasal dari luar Jawa (karena mereka datang menggunakan pesawat yang biayanya ditanggung SMART). Target didapat. Eko namanya. Aku mencarinya di kamar Kairo.
“Eko, pinjam koper lo dong?!”
“Buat apa? Oh, buat ke Medan ya?” Tanyanya sambil tersenyum.
“Hehe… Iya. Masak gue harus bawa tas? Koperlah!”
“Oh, gitu. Ya sudah, tuh kopernya di atas lemari!”
Aku pun mengambil koper itu. Ringan karena isinya mungkin kosong.
“Kodenya?”

Eko pun memberitahukannya, tapi sejurus kemudian dia berkata, “Tapi lo jangan ngomong ke siapa-siapa.”
“Sip! Percaya deh sama gue!”

Aku sesuaikan kodenya. Klik! Terbuka. Kopernya bersih, hanya beberapa bagian luar yang sedikit berdebu sehingga aku tidak perlu mencucinya terlebih dulu.

Aku melihat-lihat koper tersebut. Ada tulisan nama pemiliknya, Eko. Hal pertama yang kulakukan adalah menutupnya dengan perekat ganda kertas.

Selanjutnya, aku menuliskan namaku di kertas tersebut.
Masih di kamar Kairo, aku duduk di kasur Eko, di sampingnya.
“Pengalaman logimana?” Tanyaku.
“Maksud?”
“Ya, naik pesawat. Kasih gue gambaran dong!”
“Oh, itu. Lo rombongan kan? Paling nanti diurus pendamping.”
“Maksudnya?”
“Ya, nanti kan dikasih tiket. Tiket nanti dikasihkan ke petugasnya, check-in. Terus, angkat barang-barang ke bagasi. Habis itu, lo dapat boarding pass, bayar airport tax, terus nunggu pesawat deh.”
“Oh, gitu.”
“Ya. Tapi, biasanya diurus sama dinas mungkin. Lo yang penting tinggal ikut, bawa barang, udah selesai.”
“Thanks, Ko.”

Aku kembali ke kamar, bersiap-siap untuk hari esok. Sambil memaket-maketkan barang, aku mengingat-ingat kata-kata Eko. Semua harus lancar, tanpa masalah.

Hari H tiba. Aku dan rombongan sudah datang dan berkumpul. Kami memasuki bandara. Aku hanya mengikuti arus rombongan, dan yang penting percaya teman, percaya pada perkataan Eko tempo hari. Hanya ikut, bawa barang, selesai.

Akhirnya benar. Setelah beberapa menit menunggu, aku memasuki pesawat. Semua lancar. Hanya saja, aku sedikit menyesal. Menyesal telah menghindari kesederhanaan yang selama ini aku senangi. Aku memilih jaket tipis yang terlihat modis daripada jaket tebal yang terkesan biasa saja. Sementara itu, di dalam pesawat pendingin ruangan sudah membuat banyak orang kedinginan. Kesederhanaan malah ditunjukkan seorang teman dari rombongan. Dia duduk di sebelahku. Dia telah membawa sarung sejak di ruang tunggu. Padahal, kalau dilihat dari sekolah asalnya, dia dapat dipastikan bukan anak orang sembarangan.
“Yang penting nyaman, cuek aja!” Katanya.

Aku tersadar akan makna penting dari kata ‘sederhana’. Sederhana bukan masalah seorang membeli barang mahal ataupun murah, modis atau kurang modis, bukan masalah kaya atau miskin. Sederhana hanya masalah tentang bagaimana kita nyaman, tanpa berpikir repot-repot segala urusan pernak-pernik yang menyertainya.

Ternyata Allah telah menakdirkan yang terbaik bagiku sedemikian rupa. Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puja-puji syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu, ya Allah. Dzat yang telah mengirimku ke dalam kepompong ini. Kepompong yang membuatku bermetamorfosis demi masa depan yang lebih baik. Kepompong yang akan mengeluarkanku sebagai orang yang akan dan terus peduli dengan kemanusiaan. Kepompong bernama SMART Ekselensia Indonesia.

Kontributor : Ahmad Darmansyah (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

Piala Pertamaku

Siang itu, kami para siswa tangguh SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa ustadz pergi ke Masjid Raya Kahuripan. Kami semua sangat bersemangat dalam perjalanan kali ini walaupun harus berjalan kaki dan terkadang berlari. Setelah berjalan dan berlari akhirnya berangsur-angsur kami sudah sampai ke tempat tujuan. Di sana para ustadzah yang pergi dengan naik kendaraan masing-masing sudah menunggu kedatangan kami.

Sebelum Shalat Zuhur dan makan siang, para siswa diminta ke lantai dua masjid. Inilah saat untuk asyik-asyikan. Ustadz Ahmad sudah mempersiapkan beberapa permainan yang akan kami mainkan per kelas. Kunci dari permainan-permainan ini adalah kerja sama tim yang baik. Permainan ini dimulai dari memindahkan bola kecil dengan menggunakan paha. Cara bermainnya adalah seluruh siswa duduk berjejer, lalu cara memindahkan bolanya dengan mengoperkannya dari satu paha ke paha yang lainnya.

Permainan selanjutnya tidak kalah seru, yaitu satu siswa dengan siswa yang lainnya per kelas harus menduduki paha temanya, dan temanya itu juga harus menduduki teman yang lainnya lagi. Permainan pun dimulai, kami pun saling menduduki paha teman satu dan yang lainnya. Awal-awalnya sih biasa saja. Tetapi, selang beberapa menit, rasa pegal pun mulai merambat. Satu per satu kelompok mulai berjatuhan hingga 15 menit. Akhirnya permainan pun dihentikan dan menyisakan empat kelompok sebagai pemenangnya.

Setelah semua permainan selesai, kami melaksanakan shalat berjamaah. Setelah itu kami diminta untuk mengambil nasi boks yang telah disediakan untuk makan siang. Setelah membuka boks makan, yang kulihat adalah… hati. Oh tidak! Dari kecil aku memang kurang menyukai yang namanya jeroan. Untunglah di dalam boks itu juga ada buah kesukaanku, semangka. Yes, alhamdulillah. Ternyata bukan hanya terdapat kekurangan tetapi juga ada kelebihannya.

Kami pun menunggu jemputan pulang. Sambil menunggu, aku bermain-main dengan teman-teman. Karena capek berdiri terus, aku pun duduk di teras dan kebetulan di samping kiriku ada Ustadzah Dina dan Ustadzah Iif. Di sana saya mengobrol dengan teman di samping kananku.

Beberapa saat kemudian Ustadzah Iif baru menyadari kehadiranku. “Eh ada Opick.”

“Bukannya Opick itu nama panggilan Ade Mustopic?” tanya Ustadzah Dina kepada Ustadzah Iif.

“Iya, tapi Rafi di rumahnya juga dipanggil Opick,” jawab Ustadzah Iif.

Ustadzah Dina berseru tanda paham. Kemudian mereka mengobrol, entah membicarakan apa.

Beberapa saat kemudian obrolan kedua guruku berakhir.
“Pick, siap-siap lomba ya!” Tiba-tiba Ustadzah Iif berkata padaku.
“Lomba Dzah?” Aku bertanya.
“Iya,” jawab Ustadzah Iif beberapa saat kemudian.
Aku pun berkata dalam hati, “Yes, akhirnya lomba juga!”

Aku begitu riang. Maklumlah, dari kelas 1 sampai saat itu aku belum pernah mengikuti lomba resmi.

Beberapa hari kemudian aku diberikan contoh soal Olimpiade Matematika oleh Kak Afdhal Firman. Soalnya susah-susah juga, batinku. Ternyata yang mengikuti lomba bukan hanya aku. Ada lima orang lainnya, yaitu teman seangkatanku Ade Mustopic, dan sisanya siswa Angkatan 8, yaitu Kak Fatih, KaK Afdhal, Kak Muhib, dan Kak Dion. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Kak Fatih, Kak Afdhal; sisanya tergabung dalam kelompok kedua.

Inilah hari pertama kami mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Sekitar pukul 06.30 kami sudah siap untuk berangkat ke MAN 2 Bogor, tempat pelaksanaan lomba. Sambil menunggu pelaksanaan dimulai, kami mengerjakan Shalat Dhuha terlebih dahulu di Masjid Raya Bogor, menyusul kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam mengikuti lomba.

Kami kembali ke MAN 2 Bogor untuk mengikuti acara pembukaan. Setelah selesai pembukaan, para peserta pun memasuki ruangan lomba yang sudah disediakan. Ruangannya cukup sederhana dengan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Juga ada kreasi siswa yang menghiasi dinding ruangan itu.

Para pengawas yang merupakan mahasiswa mulai membagikan soal olimpiade dan juga kertas buram untuk corat-coret. Beberapa menit kemudian kami pun mulai membuka soal dan mengisi biodata kami. Berikutnya kami mulai mengerjakan soal.

Menit demi menit berlalu. Akhirnya waktu pun habis dan kami berhasil menjawab 14 soal dari 25 soal. Setelah itu kami pun langsung keluar kelas lalu kemudian melaksanakan Shalat Zuhur. Setelah shalat kami langsung makan di rumah makan padang sebelum akhirnya kami pulang.

Beberapa saat kemudian, kami pun mendapatkan informasi bahwa kami lolos ke babak selanjutnya, yaitu olimpiade tingkat provinsi di Bandung. Alhamdulillah, kelompokku lolos, namun ternyata kelompok Ade Mustopic belum berhasil lolos.

Dalam perlombaan tingkat provinsi kami menghadapi dua sekolah yang dikenal tangguh. Kami sudah berusaha keras, dan hasilnya kami meraih juara ketiga. Meskipun belum hasil sebagai juara pertama, aku senang sekali memberikan piala untuk SMART. Itulah piala pertamaku dan piala pertama di Angkatan 9. Semoga piala tersebut bukanlah piala pertama sekaligus piala terakhirku. Semoga aku masih bisa mendapat juara lagi ke depannya.

Kontributor : M. Fatihkur Rafi

Lulusan Smart Ekselensia Diharapkan Jadi Agen Perubahan

Corporate Communication Dompet Dhuafa, Dian Mulyadi menambahkan, sekolah SMART Ekselensia Indonesia tidak ingin melahirkan anak-anak yang pintar di bidang akademis saja, tapi setelah terjun ke masyarakat seperti orang asing. Maka mereka diajari berbagai budaya dan akulturasinya, sehingga mereka mudah berdapatasi di tengah masyarakat.

Maka lulusan SMART Ekselensia Indonesia diharapkan dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Anak-anak SMART Ekselensia Indonesia sejak duduk di bangku SMP sudah praktik membuat proyek sosial. Jadi selama lima tahun sekolah di SMART Ekselensia Indonesia, minimal para siswa sudah membuat lima proyek sosial.

Ia mencontohkan, saat terjadi pembakaran masjid di Kabupaten Tolikara, Papua. Anak-anak SMART Ekselensia Indonesia ditantang kepeduliannya. Akhirnya mereka membuat mini konser amal di Stasiun Bogor. Mereka meminta izin kepada pihak kepolisian dan mempersiapkan berbagai kebutuhan acara konser tersebut

“Hanya satu jam mereka konser, terhimpun dana jutaan rupiah, disalurkan ke Dompet Dhuafa untuk Tolikara, mereka juga membuat program sosial untuk anak-anak sekitar, melalui program SMART mengajar,” jelasnya.

Dian berharap, anak-anak lulusan SMART Ekselensia Indonesia tumbuh jiwa kepemimpinan dan sosialnya. Hal yang paling penting, anak-anak harus sadar mereka punya tanggungjawab terhadap masyarakat setelah mereka sukses nanti. Sehingga mereka bisa berguna untuk masyarakat, agama, bangsa dan negara.

SMART Ekselensia Indonesia Cetak Generasi Pemimpin

Dompet Dhuafa hadir dengan pedoman lima pilar program, salah satunya adalah pendidikan. Sekolah SMART Ekselensia Indonesia menjadi salah satu program dari pilarnya.

Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Muhammad Syafi\’i Elbantani (Kak Syaf) mengatakan, program SMART Ekselensia Indonesia berbentuk sekolah bebas biaya untuk anak-anak dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. Anak-anak dhuafa yang lolos seleksi akan disekolahkan di SMP dan SMA SMART Ekselensia Indonesia pada Lembaga Pengembangan Insani di Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dijelaskan Kak Syaf, anak-anak akan belajar di SMP selama tiga tahun dan di SMA selama dua tahun. Mereka juga akan tinggal di asrama yang segala kebutuhannya telah disediakan oleh donatur Dompet Dhuafa

“Semua anak-anak dibiayai Dompet Dhuafa dari kebaikan para donatur, mulai dari kedatangan, seleksi, biaya pendidikan, makan dan semuanya dicover Dompet Dhuafa, bahkan sampai mereka lulus SMA,” kata Kak Syaf kepada Republika.co.id, Kamis (7/2).

Ia menjelaskan, SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah kepemimpinan. Siswa-siswa SMP dan SMA belajar kurikulum nasional dari pemeritah. Tapi mereka juga belajar kepemimpinan, berbicara di depan umum, berargumentasi dan memecahkan masalah. Artinya mereka belajar keterampilan sebagai seorang pemimpin (personal leadership skill).

Selain itu, siswa-siswa juga belajar keterampilan kepemimpinan sosial (social leadership). Seperti belajar manajemen organisasi dan rekayasa sosial. Mereka juga diberi pengalaman magang di desa dan membuat proyek sosial di tengah masyarakat

Sehingga siswa SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi. Tapi mereka juga berpikir bagaimana berkontribusi untuk masyarakat.

“Karena mereka lahir dari Dompet Dhuafa, Dompet Dhuafa lahir untuk memberdayakan masyarakat marginal, maka setiap penerima manfaatnya harus memiliki nilai itu,” ujarnya

Kak Syaf menegaskan, sekolah SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya mendidik anak-anak supaya pintar di bidang akademik. Tapi juga melatih mereka supaya memiliki jiwa sosial yang berkontribusi untuk kepentingan umum. Hasilnya sudah bisa dilihat, sebanyak 90 persen lebih, lulusan SMART Ekselensia Indonesia diterima di perguruan tinggi negeri

Alumni SMART Ekselensia Indonesia juga bisa mendapat beasiswa dari pemerintah. Rata-rata mereka menduduki posisi penting di organisasi kampusnya masing-masing. Ini adalah hasil belajar keterampilan kepemimpinan saat mereka belajar di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

“Jadi yang menonjol di sekolah SMART Ekselensia Indonesia selain akademik, juga kepemimpinan siswanya, itu diukur dari kontribusi anak-anak SMART Ekselensia Indonesia kepada masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sumber : Republika

Petuah dari penumpang angkot

Petuah Hidup dari Penumpang Angkot

Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.00. Aku baru saja selesai berobat di Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di Ciputat. LKC adalah lembaga kesehatan nonprofit di bawah naungan Dompet Dhuafa yang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Hujan deras mengguyur kawasan Ciputat mengakibatkan diriku berteduh di sana. Padahal, sesuai izinku, harusnya aku sudah berada di asrama SMART Ekselensia Indonesia.

Setelah aku keluar dari LKC, tak satu pun angkot 29 jurusan Parung-Ciputat yang terlihat berlalu lalang. Aku lirik jam tanganku, sudah pukul 17.30. Tidak terasa hari mulai petang. Lampu-lampu gerobak para tukang gorengan sudah menyala menunggu pengunjung yang datang ke lapaknya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ke LKC tanpa ada teman dari SMART.

Alhamdulillah, sebuah pertolongan dari Allah datang. Beberapa menit kemudian setelah lama aku menunggu, angkot 29 jurusan Parung-Ciputat tampak di jalanan Ciputat. Aku langsung bergegas naik ke dalam angkot, sembari menahan rasa dingin yang kurasakan karena bajuku basah kuyup di terjang air hujan.

Ketika di dalam angkot, aku tersadar menjadi pusat perhatian para penumpang. Mereka seakan berpikiran, “Ngapain nih anak jam segini baru pulang, mana bajunya basah lagi.” Tak kuhiraukan perhatian mereka kepadaku. Aku santai saja menikmati perjalanan. Aku melihat keluar kaca mobil angkot, terlihat genangan air membanjiri jalanan Ciputat. Kemacetan pun tak terelakkan. Aku pun harus rela menunggu angkot yang aku tumpangi keluar dari rantai kemacetan ini.

Jam tanganku telah menunjukkan pukul 18.00. Setelah beberapa waktu tertidur di dalam angkot, akhirnya aku sampai di Pasar Raya Parung. Kulihat orang-orang berlalu lalang di jalanan pasar bergegas lari dari rintik hujan. Lampu-lampu yang ada di gerobak pedagang kaki lima sangat menyilaukan mataku sehingga tanpa sadar aku salah menapakkan kaki. Sepatuku kotor terjerembab ke dalam lumpur jalanan Pasar Parung. Jalanan yang basah dan becek menyulitkan langkahku untuk terus berjalan mencari angkot 06 jurusan Parung-Bogor.

Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan juga angkot 06 jurusan Parung-Bogor. Aku langsung masuk angkot.

Di dalam angkot, kulihat para penumpang memasang muka kelelahan dan kedinginan. Muka yang telah membuktikan kerja keras mereka dalam bekerja mulai pagi hingga petang. Inilah kehidupan, butuh perjuangan agar tetap bertahan.

Di antara deretan penumpang angkot kulihat sosok seorang nenek tua yang menurutku sedang gelisah. Ia terus saja berbicara sendiri tanpa ada yang memberi perhatian kepadanya. Hingga akhirnya ia membuka percakapan denganku.

“Nak, sekolah di mana?” Tanya si nenek kepadaku.
SMART Ekselensia Indonesia, Nek.” Jawabku dengan nada polos.
“Nak, Nenek ini sekarang hidup sendiri,” ujar si nenek kepadaku dengan nada sedih.
“Hmm….” Ujarku dengan santai.

Detik berikutnya, aku hanya bisa diam tanpa dapat berkata-kata. Mukaku tertunduk hanya bisa mendengarkan cerita nenek itu. Ia terus saja berbincang denganku. Para penumpang tak acuh dengan yang diceritakannya. Hanya aku yang merasa simpati dengan apa yang terjadi pada si nenek.

“Nak, Nenek baru habis jatuh. Lutut Nenek luka. Nenek udah enggak punya siapa-siapa lagi. Anak-anak Nenek udah pada nikah. Setiap kali anak Nenek yang pertama datang ke rumah, kerjaannya marah-marahin nenek terus. Dipukullah, ditendanglah. Nenek enggak pernah dikasih duit sama mereka.”

Nenek kalau mau makan ngarepin dari tetangga. Di rumah itu kadang ada makanan, kadang enggak ada. Anak-anak Nenek itu udah enggak pernah jenguk lagi. Cuma si anak yang pertama yang sering ke rumah. Itu pun niatnya mau ngusir Nenek dari rumah. Katanya, rumah Nenek mau dijual buat kepentingan dia. Sekarang saja Nenek cuma punya uang dua ribu buat pulang. Enggak ada uang lagi buat makan.” Nenek itu berkata dengan nada penuh kecewa.

“Memangnya rumah Nenek di mana?” Tanya salah satu penumpang.
“Jampang, Pak. Tolong, Pak bantuin Nenek. Nenek lagi kena musibah,” pinta nenek itu dengan rasa sedih.
“Iya… Iya. Sekarang Nenek pegang saja itu uang dua ribu. Biarin Bapak saja yang bayar ongkos pulang Nenek,” kata si penumpang yang bertanya tadi.
“Makasih, makasih, Pak. Nenek udah enggak punya uang lagi.” Nenek itu tampak bungah.
Iya… Iya… udah nenek tenang saja,”ujar si penumpang.
Aku hanya bisa kembali diam. Duduk termangu mendengarkan penuturan nenek tua itu. Tapi, nenek itu mengajakku berbincang.
Nak, pamali kan durhaka sama orangtua?” tanyanya kepadaku.
“Iya, Nek,” jawabku dengan singkat.
“Itu si Sinyo kerjaannya marah-marah terus sama Nenek. Nenek doain kalau hidupnya melarat. Doanya ibu kepada anaknya itu bener kan ya, Nak?”

“Iya, Nek,” ujarku dengan rasa was-was.
Begitu kecewanya si nenek terhadap anak-anaknya hingga ia mendoakan anaknya dengan doa yang tidak baik. Setahuku, doa ibu itu paling mujarab mengingat berkat jasanyalah kita dapat hidup di dunia ini. Tidak sepatutnya kita melecehkan kehidupannya. Kita harus tetap memerhatikannya walaupun sudah berkeluarga.

Perlahan-lahan aku mulai melihat bangunan kokoh berwarna hijau yang terpampang jelas di mataku. Akhirnya aku telah sampai di kampus SMART Ekselensia Indonesia. Aku pun pamit kepada si nenek.
“Nek, aku pamit dulu ya.”
“Iya. Nenek pesen: jangan pernah durhaka sama orangtua ya.”

Aku pun langsung memberikan kode kepada supir angkot untuk berhenti. Setelah itu aku membayar ongkos. Lantas, aku masuk ke lingkungan SMART. Kulirik lagi jam tanganku: pukul 19.15. Aku belum Shalat Maghrib. Aku pun bergegas ke masjid dan langsung menunaikannya.

Setelah shalat, sejenak aku memikirkan ungkapan hati nenek di angkot tadi. Ia begitu kecewa dengan perbuatan anak-anaknya. Ini menjadi perjalanan kehidupanku. Aku harus berpikir kembali, untuk apa aku hidup dan dedikasi apa yang harus aku torehkan sebelum nantinya aku meninggalkan dunia ini. Pertemuan dengan nenek tadi menjadi cambuk semangatku untuk menghargai hasil jerih payah seorang ibu sekaligus pemicu semangatku untuk menatap masa depan yang lebih indah. Jangan sampai kita menjadi hamba Allah yang kufur nikmat yang tak menghargai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Yang terjadi pada si nenek di angkot menjadi pelajaran dan petuah kehidupan bagi diriku khususnya dalam bersungguh-sungguh menjalani hidup ini. []

Kontributor : Muh. Ikhwanul Muslim (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

“Ayo, cepetan!” Sebuah suara memintaku untuk segera bergabung.
“Tunggu sebentar!” Suaraku ikut menggema pagi itu. “Oke, oke aku siap!”
Kuambil langkah seribu dan langsung memburu. Di sana, Yunus, Arif, Jayeng, dan Syahid teman-temanku sudah menanti. Kami tergabung dalam tim Trashic (Trash Music) SMART Ekselensia Indonesia. Hari itu kami menggelar pertunjukan musik di kantor Kementerian Keuangan.

Musik? Musik macam apa itu? Mungkin jika orang melihat kami, alis tertaut dan kening berkerut sembari bertanya-tanya: apa ini? Mau apa mereka? Akan segera bertengger tanya di ujung benak. Aku dapat banyak pengalaman dengan jerigen, drum, kaleng-kaleng, dan botol kaca. Dari barang-barang bekas ini aku dapat belajar bagaimana bicara di depan orang lain, membangun kepercayaan diri, dan menampilkan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.

“Reza enggak bisa ikut nih, gimana dong?”
“Tenang saja, Ustadz, ada Yunus.”
Kami meyakinkan pembimbing.
“Emang Reza ke mana?”
“Sakit, Ustadz. Enggak memungkinkan untuk ikut,” jelasku.

Kami masih menyibak pagi dengan ketukan-ketukan ritmis sembari merapat nada, mencoba untuk menirukan lagu yang nanti kami mainkan. Tak jarang kami berhenti, mengoreksi, menimbang-nimbang, dan mengulangnya lagi. Lagi dan lagi. Ini memang sulit. Reza tak bisa datang dan kami tak punya banyak pilihan. Yunus yang paling memungkinkan pun masih terasa berbeda. Salah dan teledor, sudah biasa.

Waktu takkan mau berbelas kasih menunggu kami. Namun, bukanlah Trashic jika berhenti dan lantas beranjak pergi. Kami terus mencoba dan mencoba lagi. Sedikit rasa malu karena mata-mata yang mencuri pandang dan dengar tak mengentaskan usaha kami. Langit masih biru dan kini ruangan itu mulai ramai dijejali orang. Aku tak kenal dan tak begitu peduli dengan semua itu. Yang kupikirkan adalah bagaimana kami tampil sebaik mungkin dan menghibur mereka semua.

Sesapu pandang kulihat. Warna berkilau, kesan mewah dan kesan priyayi terasa dari bagian depan tamu-tamu yang hadir. Pikirku jahil menari-nari.
“Kementerian Keuangan, wanita-wanita itu istri para pemegang uang, kudengar ini acara ibu-ibu arisan, wah bisa dibayangkan….”
“Ayo masuk!” Arif menyenggolku.
“Ya, ya, santai bro hehehe….”

Kami memasuki ruangan khusus pengisi acara. Sembari menunggu, kami bersantai sejenak. Lelah, pusing, dan pegal masih menggantung. Pikiranku kembali menari. “Apa yang kubawa nanti ya? Aku ingin sekali memberikan sesuatu padanya. Uangku tak mungkin kugunakan karena untuk persediaan hingga pulang kampung. Mungkin, bisa.

“Coba lagi yuk, lancari.” Kuambil stik dan mengajak anggota yang lain ikut bergabung.
“Habis ini siap-siap ya!”
“Sip, Ustadz!”

Yang kami yakini adalah kami harus bermain sebaik-baiknya dan jangan pikirkan soal imbalan. Luruskan niat bahwa kami ingin menghibur dan memberikan yang terbaik. Ustadz selalu berkata demikian.

Aku hanya percaya bahwa aku masih bisa memberikan sesuatu untuknya, untuk mereka.

Kami dipanggil. Kaki melangkah, dan kami telah siap. Kami mulai. Kami tenggelam dalam ketukan dan harmonisasi. Menjaga dan coba selaraskan hingga akhir. Sejenak terlupa tentang apa yang harus kubawa untuknya. Lagu berakhir, kami beristirahat sejenak.

Kubuka percakapan. Kusebut seperti itu dengan penonton. Tidak percakapan dalam arti sebenarnya namun tetap kuanggap begitu. Sekadar hilangkan ketegangan. Aku cukup bisa membaur. Mereka terlihat antusias dan menginginkan satu lagi dari kami.

Penampilan selanjutnya berjalan cukup baik. Yunus lupa dan kehilangan ketukan. Improvisasi darinya selamatkan penampilan kami. Penonton riuh redam, tepuk tangan menyerbu. Kami berhasil lagi. Sedikit celetukan mengatakan bahwa kami harus bermain sekali lagi. Waktu kami habis. Sedikit basa-basi dan penutup dariku, lantas kami turun dari panggung. Senang Trashic selalu bisa membuatku senang pada saat seperti ini. Melihat sambutan tadi, aku kembali menepi. Berpikir bahwa kami memang punya sesuatu.

Di ujung acara kami kembali dipanggil. Bukan untuk kembali menggebuk drum, jerigen, dan kaleng namun untuk menerima ‘sedikit’ bingkisan. Jepretan kamera dan blitz silih berganti. Pasang senyum dan bertindak wajar sukses!

Wanita yang menyerahkan bingkisan ini pastilah orang penting. Aku lupa siapa atau posisinya, yang jelas ia seperti orang yang memiliki pengaruh besar.

Sedikit berat bingkisan ini. Tak tahulah apa isinya. Bukan sekarang saatnya. Kami kembali ke ruangan pengisi acara. Bingkisan dibuka dan aku langsung berpikir untuk memberikan ini pada mereka.

“Al-Qur`an untuk Ayah dan Ibu. Pasti mereka senang!” Sorakku dalam hati. []

Kontributor : Panji Laksono (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

melalui-homestay-dompet-dhuafa-ajak-orang-tua-asuh-inspirasi-siswa-_150718084717-449

Pengalaman Baru ketika Homestay

Pertengahan Ramadhan pun tiba. Siswa SMART Ekselensia Indonesia diprogramkan untuk beriktikaf di masjid-masjid selama liburan dua minggu menjelang Idul Fitri. Karena aku baru kelas 1 SMP, aku beriktikaf di Masjid “Al-Insan”, masjid satu lingkungan dengan sekolahku. Kelas yang lebih besar dari kelasku beriktikaf di luar lingkungan SMART, ada yang sampai Ciputat.

Bagi sebagian temanku, iktikaf di luar lingkungan SMART terasa menyenangkan. Ada suasana baru, katanya. Tapi, aku lebih suka di masjid dekat asrama karena aku belum terbiasa dengan lingkungan asing.

Satu dua hari aku memang masih bisa menikmati. Barulah pada hari ketiga aku sudah mulai bosan tinggal di dalam masjid. Tiga hari saja sudah terasa bosan, apalagi dua Minggu. Walau begitu, aku berusaha untuk bertahan. Bocoran dari kakak kelas, dua minggu itu tidak hanya iktikaf yang dilaksanakan, tetapi ada kegiatan satu lagi, yaitu home stay.


“Kak, home stay itu apa sih?” tanyaku pada seorang kakak kelas.
“Home stay itu kegiatan mengajak anak dhuafa untuk bersenang-senang oleh para donatur lembaga.”

Mendengar jawaban itu aku mulai merasa tidak bosan tinggal di masjid. Aku juga berpikir kenapa harus bosan di masjid padahal berada di dalamnya diniatkan untuk ibadah.
Dua hari kemudian aku mendapat kabar dari ustadz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku dan temanku Ade mendapat undangan untuk home stay bersama donatur yang katanya seorang perwira TNI. Aku dan Ade tentu saja sangat senang karena tidak semua siswa mendapatkan home stay.

Menunggu Penjemputan

Hari-hari demi hari aku menunggu untuk mendapat jemputan dari donatur yang mau mengajak kami. Setelah dinanti-nanti aku mendapat kabar lagi dari ustadz yang sama bahwa home stay aku dan Ade dibatalkan. Sang donatur ada urusan yang lebih penting. Mendengar penjelasan itu, aku dan Ade merasa kecewa dan sedih. Aku berusaha bersabar dan berkata dalam hati bahwa mungkin itu bukan rezekiku.

Hari kecewa dan sedih sudah berlalu. Waktunya untuk semangat memperbanyak ibadah. Saat iktikaf kami paling banyak membaca Al-Quran. Selain membacanya merupakan perintah Allah, guru mengaji kami juga menyuruh semua siswa untuk mengkhatamkan Al-Quran saat Ramadhan.

Satu minggu berlalu aku pun sudah mengkhatamkan Al-Quran. Saat itu pun aku senang karena baru pertama kali aku mengkhatamkan Al-Quran. Setelah khatam, aku tidak berhenti membaca Al-Qur`an, aku pun mulai dari awal lagi. Tidak lama kemudian aku mendapat kabar lagi dari ustadz yang beriktikaf bersama kami bahwa aku mendapat undangan home stay lagi dari donatur lain. Kali kedua itu tidak hanya aku, ada Ade, Kak Dian, dan Kak Umar. Kami semua sangat senang, setelah itu aku langsung bersyukur pada Allah

Seperti biasa, sebelum berangkat home stay kami menunggu jemputan dari donatur. Detik demi detik mulai berlalu, menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu. Tidak sia-sia aku bersabar akhirnya datang juga jemputan. Aku berangkat dua hari sebelum Lebaran. Aku menaiki angkot untuk mencapai tujuan.

Pengalaman di “Rumah Baru”

Saat aku sampai di tujuan, tampaklah rumah yang cukup bagus, halamannya luas, dan banyak sepedanya. Di dalam satu area itu ada empat rumah. Rumah ke satu adalah rumah yang mengantar kami. Rumah yang kedua rumah saudaranya; di sanalah aku dan Ade tinggal. Rumah yang ketiga dan keempat masih rumah saudaranya juga. Jadi, satu area itu sekeluarga.

Saat masuk rumah aku merasa malu dilihat orangtua home stayku. Saat aku masuk ke rumah dengan mengucapkan salam, saat itu juga aku langsung disuruh duduk oleh orang yang dipanggil ‘Bapak’. Aku dan Ade ditanya nama asal daerah, kelas, dan cita-cita.

Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan membawa anak kecil yang baru saja dimandikan. Beliau bertanya kepada kami hal yang sama, setelah itu kami disuruh menyimpan barang-barang kami di kamar. Kami disuruh mandi terlebih dulu sebelum akhirnya diminta ke meja makan untuk berbuka puasa bersama.

Aku senang sekali karena baru pertama kali datang sudah diajak berbuka puasa bersama. Berbukanya pun dengan sup buah makanan. Setelah berbuka bersama kami langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat Maghrib berjamaah. Sepulangnya ke rumah, aku menonton televisi terlebih dahulu sembari menunggu azan isya. Setelah azan berkumandang, kami kembali ke masjid untuk melaksanakan Shalat Isya dan Tarawih. Keesokan harinya, setelah Shalat Subuh pagi-pagi sekali kami diajak untuk bersepeda mengelilingi kompleks. Sore hari, aktivitas kami di rumah itu sama seperti kemarin harinya.

Pada malam takbiran atau semalam sebelum Lebaran, aku dikasih oleh Ibu baju lebaran yang sangat bagus. Setelah itu aku dan Ade diajak untuk makan malam bersama. Saat itu banyak keluarga Bapak dan Ibu berdatangan untuk silaturahim. Aku merasa malu, saat itu hanya aku, Ade, Kak Dian dan Kak Umar saja yang bukan anggota keluarga mereka. Padahal, sebenarnya aku dan yang lainnya dianggap sebagai keluarga oleh Bapak, Ibu, dan yang lainnya. Malam itu juga langit dihiasi oleh bintang kembang api yang meledak-ledak di udara. Tak terasa malam sudah menjemput, rasa kantuk sukar dielakkan. Aku pun langsung ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami berangkat untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Setelah shalat kami mengunjungi para tetangga untuk bersilaturahim; setelah itu, kembali ke rumah untuk menyambut tamu yang datang.

Pada hari Lebaran kedua, aku dan Ade diajak Bapak dan Ibu ke Bandung. Di Bandung aku tinggal bersama anak-anak Bapak dan Ibu. Saat diajak aku sangat senang sekali karena tempat saudara yang mau dikunjungi itu dekat dengan rumah ibu kandungku. Dengan demikian, ibu kandungku bisa bertemu denganku walaupun hanya sebentar.

Setelah ibu kandungku pulang, kami langsung kembali lagi ke Bogor. []

Kontributor : Aldi Maulana (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

Desa Terisolir dikunjungi SMART Ekselensia Indonesia.

Belajar dari Kesederhanaan Desa Cibuyutan

Jumat itu azan subuh baru saja selesai dikumandangkan. Tapi, tidak seperti biasanya. Aku telah memakai seragam sekolah untuk Shalat Subuh. Bukan cuma aku yang telah bersiap-siap, tapi semua siswa kelas 4 IPS SMART Ekselensia Indonesia juga sudah siap. Beberapa menit kemudian iqamah pun dikumandangkan. Aku langsung bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah di Masjid “Al-Insan”. Dalam balutan dinginnya subuh, aku tetap menghadapkan diriku ke hadapan-Nya. Aku pun mengikuti serangkaian Shalat Subuh mulai dari takbiratul ihram sampai berakhirnya zikir.

Setelah menyelesaikan semua tugasku di masjid, aku melanjutkan langkahku ke lapangan apel. Dari kejauhan terlihat siswa kelas 4 IPS lainnya sedang menikmati sarapannya masing-masing. Aku terus menyusuri koridor sekolah yang diterangi oleh lampu. Sampai di keramaian tersebut, aku mengambil sarapan yang telah disediakan. Sarapan kali ini adalah nasi goreng yang ditemani satu telur mata sapi dan dua buah nugget. Tanpa basa-basi, aku langsung menyantap sarapan tersebut. Perut yang tadinya kosong akhirnya terisi sebagai penambah kekuatan siang nanti.


Setelah selesai makan, aku berjalan mendekati tong sampah untuk membuang kotak nasi yang telah kosong. Aku melihat ada sebuah motor yang memasuki gerbang sekolah. Sorotan cahaya lampu motor tersebut sangat menyilaukan sehingga aku tidak dapat melihat wajah sang pengendaranya. Setelah motor berhenti, barulah terlihat wajah pengendara tersebut walaupun tidak jelas karena matahari belum menampakkan wajahnya. Ternyata itu adalah Ustadzah Dini yang diantar oleh suaminya. Dialah yang akan mendampingi kami kali ini menuju ke Desa Cibuyutan. Cibuyutan merupakan desa terisolasi di Jawa Barat, letaknya ada di Kecamatan Sukarasa, Kabupaten Bogor.

Perjalanan Menuju Desa Cibuyutan


Pukul 06.30 kami mulai memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke tempat tujuan. Barang yang dibawa adalah nasi untuk makan siang, air minum, dan snack untuk persediaan di jalan. Setelah semua beres, kami pun berangkat dengan menggunakan dua mobil. Sekitar 10 menit setelah meninggalkan lingkungan sekolah, kami harus berhenti lagi untuk menyinggahi salah satu pendamping lainnya, Ustadz Ahmad. Kami menunggu selama kurang lebih 30 menit, setelah itu mobil melanjutkan perjalanannya kembali.

Pada saat memasuki tol, aku merasa mengantuk. Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tidurku semakin nyenyak, ditambah dengan segarnya udara pagi yang masuk melalui jendela yang sengaja kubiarkan terbuka.

Kondisi jalan yang tidak rata membangunkanku dari tidur. Matahari telah sepenuhnya menampakkan dirinya, cahaya mentari mengintip dari sela-sela jendela mobil, cahayanya menyilaukan mataku. Tak terasa mobil telah melewati setengah dari perjalanan. Aku mencoba mengintip dari jendela mobil. Terlihat hamparan sawah yang luas terhampar di sekitar sisi jalan yang kami lewati. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami semakin dekat dengan tujuan. Justru pada saat itulah hal yang paling memusingkan bagi kami. Ustadz Ahmad dan Ustadzah Dini saling bergantian menanyai warga tentang jalan menuju Desa Cibuyutan. Setelah beberapa kali bolak-balik di jalan yang sama, akhirnya kami menemukan jalan yang menuju ke lokasi yang dicari-cari.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami beristirahat sebentar di sebuah masjid. Di masjid tersebut kami melepas penat selama 15 menit. Kemudian beberapa orang perwakilan dari kami melakukan survei jalan yang akan dilewati. Setelah mendapat laporan dari mereka yang melakukan survei, akhirnya kami menyusul mereka ke sana.

Desa yang Terisolir

Kami harus berjalan kaki untuk masuk ke desa tersebut. Jalan yang kami lalui bukanlah jalan aspal, melainkan kumpulan batu yang disusun secara rapi selebar kira-kira 2,5 meter. Setelah berjalan kaki selama 30 menit, kami berkumpul pada sebuah pondok pesantren. Di pondok pesantren itulah kami melakukan makan siang dan Shalat Jumat. Kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu. Menu untuk makan siang adalah ayam goreng, sayur, dan saus sebagai teman dari nasi. Setelah menyelesaikan santap siang, kami melanjutkan kegiatan dengan Shalat Jumat.
Setelah menjalankan Shalat Jumat, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Cibuyutan. Sebelum berangkat, kami melakukan briefing terlebih dahulu. Setelah semua siap, tibalah tantangan yang sebenarnya. Kami akan berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer. Jalannya pun menanjak dan lebarnya hanya satu meter dan hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Mungkin banyak yang iri pada Ustadzah Dini karena beliau pergi dengan menggunakan ojek. Tapi harap dimaklumi, Ustadzah Dini menggunakan ojek karena dalam keadaan hamil.

Aku berjalan berbarengan dengan Tan dan Kasman. Kami bertiga terus berjalan tanpa ada istirahat. Adapun siswa yang lain banyak yang memilih beristirahat karena kecapekan. Kami bertiga terus berjalan tanpa henti. Jalan yang terbuat dari batu membuat kaki kami terasa sakit.

Panasnya terik matahari terus menemani setiap langkah kaki kami. Jalan yang menanjak ditambah panasnya terik matahari membuat keringat kami mengalir dengan deras dan membasahi baju yang kami kenakan. Tan dan Kasman sempat membuka baju mereka karena kepanasan. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan segerombolan kerbau. Untungnya, kerbau-kerbau tersebut menghindar begitu melihat kami sehingga kami bisa melewatinya. Sementara itu, Ridhwan yang ada di belakang kami terlihat ketakutan melihat kerbau yang mulai lepas kendali.

Di sepanjang perjalanan menuju Desa Cibuyutan, aku melihat pemandangan yang sangat indah. Ada hamparan sawah yang sangat luas. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan sawah yang hijau. Kehidupan di sana terlihat masih sangat alami. Belum ada mesin yang digunakan untuk membajak sawah. Tenaga kerbau masih menjadi sumber kekuatan untuk membajak sawah. Rumah-rumah yang kulihat juga masih sangat tradisional, kayu masih menjadi bahan dasar dalam pembuatan rumah warga.

Kami terus menyusuri jalan yang hanya satu arah tersebut hingga kami dihadapkan pada tantangan baru. Ada dua cabang jalan yang harus kami pilih. Setelah melakukan perundingan, akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan yang kiri. Kami terus berjalan menyusuri jalan tersebut hingga kami menemukan sebuah rumah warga setempat. Dari kejauhan telah terlihat banyak atap-atap rumah yang mengintip dari balik pepohonan yang rindang.

Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami mulai memasuki Desa Cibuyutan. Sesampainya di dalam desa, kami mulai mencari Ustadzah Dini. Setelah mencari di sekitar desa, akhirnya kami memutuskan untuk menanyai salah seorang warga. Genta menanyai warga tersebut menggunakan bahasa Sundanya, bahasa sehari-hari warga di sana. Warga tersebut memberi tahu bahwa Ustadzah Dini sedang berada di sekolah. Lalu kami segera menuju ke sekolah yang ditunjukkan warga.

Setelah berhasil menemukan sekolah yang dimaksud, kami belum melihat tanda-tanda keberadaan pendamping kami tersebut. Kami terlihat seperti orang yang tak tahu arah tujuan, dan kami memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang terdapat di depan sekolah tersebut. Tak lama kemudian datanglah Zuhhad menghampiri kami dengan wajah yang kelelahan, dan sekarang kami terlihat seperti lima orang siswa yang kebingungan.

Setelah mengobrol cukup lama di bangku tersebut, Genta mulai frustrasi dan memilih untuk meninggalkan kami berempat. Tak berselang lama setelah Genta meninggalkan kami, terdengar suara yang memanggil kami dari arah belakang. Setelah kami menoleh ke belakang, ternyata itu adalah suara pendamping kami yang dari tadi kami diajak bermain petak umpat. Ustadzah Dini mempersilakan kami untuk beristirahat di salah satu ruang sekolah tersebut. Pada saat kami mau memasuki ruangan sekolah tersebut, terlihat seseorang sedang berlari ke arah kami. Ternyata Genta yang tadi meninggalkan kami.

Di sekolah tersebut, kami menunggu kedatangan rombongan kami yang lainnya. Setelah semua anggota rombongan lengkap, kami di ajak untuk mengunjungi rumah Pak RT Desa Cibuyutan oleh salah seorang guru di sekolah tersebut. Beliau jugalah yang tadi menyambut kami di sekolah dan menyiapkan minuman. Sampai di rumah Pak RT, kami disambut hangat oleh beliau dan warga desa.

Tugas Dimulai

Setelah mendapatkan izin dari Pak RT, barulah kami melaksanakan tugas kami. Kami datang ke desa ini bukan tanpa ada tujuan. Tujuan kami adalah untuk survei lapangan. Bukan hanya itu, kami juga mendapat tugas dari mata pelajaran sosiologi untuk mewawancarai beberapa warga tentang unsur-unsur kebudayaan yang ada di desa tersebut. Sebelumnya kami telah dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan tugas ini. Hasil dari wawancara akan kami buat dalam bentuk makalah.

Setelah diberi aba-aba, barulah kami berpencar ke semua sudut desa untuk mencari narasumber yang akan diwawancarai. Setelah berkeliling desa, akhirnya aku dan anggota kelompokku memutuskan untuk menanyai salah seorang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Sesi wawancara berjalan dengan lancar. Aku dan beberapa kelompok lain yang telah menyelesaikan tugasnya segera berkumpul kembali ke tempat awal. Di sana terlihat Ustadz Ahmad sedang asyik makan durian pemberian warga yang baru saja selesai memanennya. Kami pun juga mendapat bagian dalam menyantap buah yang baunya menggoda itu.

Setelah semua kelompok berkumpul, kami mengambil beberapa foto untuk dokumentasi sebagai bukti laporan ke sekolah. Selanjutnya kami kembali ke sekolah tadi untuk melaksanakan Shalat Ashar. Setelah shalat, kami mengambil beberapa foto lagi di depan sekolah tersebut bersama dengan Pak RT dan juga guru yang mengajar di sana. Setelah selesai sesi foto-foto, kami berpamitan pulang kepada Pak RT dan mulai berjalan kembali melewati jalan yang telah membuat kaki kami pegal-pegal.

Mengambil Hikmah

Walaupun tubuh sangat capek, kami senang bisa bersilaturahim dengan orang-orang yang masih bisa bertahan hidup dalam keterisolasian. Kami juga bisa memetik beberapa hikmah dari kunjungan kali ini. Salah satunya adalah kami harus bersyukur karena masih bisa menikmati cahaya lampu di dalam gelapnya malam. Masih bisa menikmati segarnya air dalam jumlah yang banyak, padahal bagi warga Desa Cibuyutan air itu barang berharga yang susah didapatkan.

Setelah selesai dengan semua kegiatan di Desa Cibuyutan, kami segera memasuki mobil dan bersiap-siap untuknkembali ke sekolah. Dalam perjalanan pulang, hari mulai mendung dan meneteskan air dari langit. Hujan mulai membasahi bumi yang makin lama makin deras. Hari mulai gelap, matahari mulai menyembunyikan wajahnya. Akhirnya malam pun tiba, kami masih terus melanjutkan perjalanan dengan keadaan jalan yang becek karena hujan. []

Kontributor : Miftahul Chairi (Alumni SMART Ekselensia Indonesia)

Menjadi Anggota Parlemen

Pengalaman Menjadi “Anggota Parlemen”

SMART Ekselensia Indonesia telah membawaku ke dalam dunia yang tak pernah kuduga sebelumnya. Tinggal jauh dari kasih sayang Ibu dan Ayah, kebersamaan keluarga yang begitu jauh dalam dirasa. Rasa rindu yang tiada terkira selalu merayap dalam segala malamku, dalam segala sepiku, pun dalam segala lamunanku.

Hari-hari pun berlalu. Kulihat sekelilingku. Lihatlah, be­gitu ceria sekali teman-temanku. Mengapa aku tak dapat seperti mereka, tetap tersenyum dan tertawa walau jauh dari rumah? Beginikah sikap yang harusnya aku miliki: tertawa riang meski jauh dari pandangan keluargaku? Tuhan, sungguh, aku tak yakin olehnya, kertasku selalu basah oleh air mataku keti­ka aku tengah menulis. Pandanganku selalu kosong pada saat sekelilingku tengah asyik bercanda ria satu sama lain.

Dalam keadaan rindu tiada tara yang tengah melanda, guru mengetahui kondisiku, hingga akhirnya dia mengham­piriku dan bernyanyi, tertawa riang menyorotkan mata yang indah dengan ekspresi cantik tak dapat dikata.

Belajar dari ketiadaan

Belajar untuk kemandirian

Mengasah potensi,

Mengukir prestasi,

Bersama kita majukan negeri

Belajar hilangkan kebodohan

Bersama jauhkan kemalasan

Satukan asa, tekadkan jiwa, bersama kita meraih cita

Sekolah kami SMART Ekselensia

Kami dari Sumatera hingga Papua

Hanya satu tekad di dalam diri,

Menjadi pembelajar sejati

Glek! Sungguh kala itu tangisku tumpah ruah, mendengar lagu yang disenandungkan begitu semangat dengan polesan se­nyumnya yang begitu manis—pahlawan tanpa tanda jasaku.

“Itu benar sekali, Dzah,” ucapku sambil mengusap mata.

Nyanyian itu telah menyadarkanku dari mimpi buruk berkepanjangan, yang telah menggerogoti semangatku, se­mangat untuk belajar, semangat untuk bermimpi. Begitulah hari-hari pertama yang aku rasakan saat tinggal dan berseko­lah di sini. Sekarang, tiga tahun telah kulalui dengan tangis, canda, dan tawa bersama teman sepermainan dan seperjuanganku. Bertukar rasa, bertukar asa.

Lampuku yang dulu redup kini tengah bersinar kembali karena mereka yang kini telah menjadi bagian keluarga dalam hidupku. Bersama-sama melawan rasa rindu untuk tetap bela­jar demi masa depan yang telah kami impikan. Mimpiku yang hampir sirna kini kembali dan membentuk diriku menjadi tangguh tiada tandingan.

Pengalaman Tak Terlupakan

Dari sekian banyak cerita, cita rasa, dan segala asa yang aku dapatkan di sekolah tercinta ini, ada satu yang ingin kubagi untuk pembaca buku ini. Yakni kenangan bersama teman se-Indonesia dalam sebuah acara kerja sama Dewan Perwakilan Rakyat dan Universitas Indonesia, yakni Parlemen Remaja 2012.

Cerita berawal dari sebuah lembaran berwarna kuning ukuran A3 dengan gambar latar belakang gedung kura-kura, tertulis besar-besar “PARLEMEN REMAJA 2012” yang diserah­kan kepadaku oleh Ustadz Sucipto.

“Fai, ikutin sana, tulis esai, siapa tahu saja kamu keterima,” ajaknya.

Aku baca sebentar lembaran tersebut. Tertulis sebuah syarat untuk dapat mengikuti acara itu. Acara diperuntukkan bagi siswa-siswi SMA sederajat, diimbau untuk dapat mengirimkan karya tulis esai tentang pandangan mereka mengenai peran DPR terhadap kemajuan demokrasi di Indonesia, selan­jutnya akan dipilih karya terbaik untuk dapat mengikuti acara Parlemen Remaja 2012. Tanpa berpikir panjang segera aku mencari-cari informasi, browsing internet untuk mencari ba­han penulisanku.

Hari berlalu, telah kukirimkan karyaku bersama empat temanku yang juga tertarik. Hari-hari yang kulalui untuk menunggu pengumuman benar-benar telah banyak menyita waktuku. Aku begitu takut, deg-degan, dan gelisah. Semua bercampur aduk selama aku menunggu pengumuman.

Dua mingu berlalu. Hari itu adalah pengumuman esai terbaik yang berhak mengikuti serangkaian acara Parlemen Remaja 2012. Hari puncak campur aduk hatiku datang jua. Dengan langkah gontai beserta jantung yang berdenyut begitu cepatnya aku menuju layar komputer untuk membaca pengumuman. Kulihat daftar nama-nama siswa terpilih. Aku tidak menemukan namaku. Aku gulir mouse ke bawah, mataku tetap menelisik membaca satu per satu nama tertulis dan sesuatu telah membuatku tersentak!

Tertulis sebuah nama: Ahmad Rofai.

Alhamdulillah, ya Allah, segala puji bagi-Mu, namaku ter­tulis dalam jajaran nama siswa pembuat esai terbaik. Hari itu aku sungguh bahagia, tak pernah sedikit pun tebersit dalam pikiranku untuk dapat lolos seleksi. Segera setelah membaca, sontak saat itu juga aku letakkan keningku di atas lantai, ber­tasbih dan memuji-Nya sebagai tanda rasa syukurku atas kesempatan yang diberikan oleh-Nya untukku.

Telah tiba saatnya aku beserta ketiga temanku yang juga lolos seleksi pergi ke acara Parlemen Remaja 2012. Kami diantar Ustadz Wildan dengan mobil angkot langganan kami menuju tempat pertama acara, yakni Balai Sidang Universitas Indonesia. Cuaca begitu terik kala itu, ditambah lagi dengan pengapnya udara dalam angkot jelas membuatku perutku terasa mual. Untuk menghilangkan rasa mual, aku berusaha untuk tidur dalam angkot. Tak terasa ketika aku membuka mata, tujuan telah sampai.

Terlihat siswa-siswi tengah berbincang, saling berkenalan satu sama lain, berfoto-foto ria sembari menunggu acara pembukaan. Sedangkan kami, siswa SMART, hanya berempat, mengobrol sendiri, bermain sendiri. Tak sedikit pun rasa be­rani dari kami untuk dapat berkenalan dengan siswa-siswi lain. Bagaimana tidak, semua dari mereka memakai baju ba­gus dan bermerek pada saat kami hanya memakai seragam yang dibalut jas almamater sekolah kami. Mereka memegang kamera mewah masing-masing, sedangkan kami hanya mem­bawa handycam kecil, yang hasilnya buruk jika digunakan un­tuk berfoto; satu untuk berempat pula. Mereka juga masing-masing membawa notebook, sedangkan handphone pun kami tak punya.

Cuek is the best-lah yang menjadi jargon utama kami kala itu. Kami tetap tidak peduli akan keglamoran mereka. Kami tetap rendah hati dan percaya diri.

Pukul 14.00, semua peserta dari seluruh penjuru Nusan­tara telah datang dan berkumpul dalam ruangan. Telah ter­pilih 132 siswa-siswi SMA se-Indonesia dari ratusan pengirim esai. Berbagai sambutan dan rangkaian acara pun telah ter­lewati.

Acara akan diadakan selama empat hari, tiga hari per­tama kami menginap di Wisma DPR RI Griya Sabha Bogor. Satu hari terakhir menginap di Wisma Makara UI. Sekiranya inilah yang panitia sampaikan kepada kami. Setelah itu, terketuklah palu oleh ketua panitia bahwa acara Parlemen Remaja 2012 resmi dibuka. Riuh tepuk tangan membuncah sudah, memba­hana memenuhi ruangan beribu kursi itu.

Dua hari di wisma DPR-RI Griya Sabha.

Kini kurasakan betapa nikmat tiada tara dapat tidur di atas kasur yang begitu empuk, ber-AC, mencicipi mandi air panas dengan shower, menonton TV dengan puluhan channel tersedia.

Setiap pagi diawali dengan senam pagi di lapangan, kami berbaris, terlihat beberapa teman teriak, senyum, tertawa terbahak-bahak. Begitu pun aku, menunjukkan betapa baha­gia sekali kami waktu itu.

Siang pun datang, saatnya kami bersiap menuju ruang rapat sidang DPR. Sungguh pertama kali aku memasuki ruangan itu, beribu rasa bangga mencuat dari dalam hatiku. Me­makai jas hitam yang ketika kupakai tampak seperti eksekutif muda yang super penting dalam suatu tatanan negara.

Ruangan itu begitu luas dengan tembok ala bangunan luar negeri seperti yang selalu kulihat dalam film-film, ber­jejer ribuan kursi empuk berwarna cokelat dengan puluhan jejeran meja elegan di depannya. Sungguh tak bisa kugam­barkan bagaimana keindahan serta luasnya ruangan bagi aku yang sejatinya hanyalah siswa papa.

Aku duduk di atas kursi empuk dengan tersodorkan mik­rofon di depanku.

“Selamat datang para pemuda-pemudi gagah Indonesia!”

Sontak suara itu memecahkan suasana yang awalnya tenang menjadi membakar-bakar, sorak-sorai kami bersama tepuk tangan tumpah sudah.

Dua hari tepatnya kami di sana dipersiapkan untuk melakukan simulasi rapat sidang paripurna DPR. Kami diberi berbagai materi tentang apa itu DPR, bagaimana peran par­lemen dalam sebuah negara, serta pemberian pengajaran dalam bentuk pelatihan tentang bagaimana rapat paripurna DPR dapat berlangsung.

Sungguh benar-benar di luar dugaanku, pelatihan-pelatihan yang mereka berikan kepada kami telah membuatku sadar bahwa butuh waktu seharian penuh atau bahkan puluhan hari untuk membahas suatu rumusan undang-undang. Penentuan judul suatu undang-undang saja begitu lama penyelesaian­nya.

Pemberian materi beserta latihan-latihan kepada kami dilakukan dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Cukup melelahkan memang, namun herannya semua berja­lan begitu menyenangkan sehingga tidak terasa waktu terus bergulir.

Disiarkan Televisi

Di gedungkura-kura, pelaksanaan simulasi sidang paripurna DPR RI. Merupakan hari ketiga dari kegiatan ini, acara puncak dari sekian kegiatan yang kami jalani. Setelah subuh, telah tersedia bus yang siap mengantar kami menuju Senayan.

Sebelum ke tempat persidangan, kami menuju ruang tamu DPR terlebih dahulu. Seperti biasa ada sambutan dan acara pembukaan. Setelah itu, kami segera menuju ruang sidang paripurna. Berbagai pemeriksaan ketat pun terjadi. Tas kami disensor oleh alat pendeteksi, begitu pula dengan tubuh kami.

Benar-benar mataku tak dapat berkedip. Tempat si­dang itu begitu luas. Deretan kursi terbagi atas fraksi-fraksi, kursinya pun empuk tak terelakkan, mikrofon tersedia di de­pan kami, tertempel di atas meja.

“Acara ini akan disiarkan di TVRI pukul 07.30,” ucap salah satu panitia kepada kami.

Segera aku menghubungi keluargaku di rumah (lewat ponsel yang dipinjamkan pihak asrama) untuk dapat menon­ton diriku, memakai jas hitam, duduk di atas kursi mewah berperan sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

Mungkin pengalaman ini biasa saja buat sebagian Anda, namun tidak buatku. Ada satu pelajaran berharga yang telah aku dapatkan. Berdiskusi bersama anak-anak se-Indonesia dalam acara tersebut membuatku lebih aktif dan kritis selaku pelajar. Selain itu, aku tersadar bahwa selaku pemuda, aku merupakan agen perubahan dalam sebuah dinamika kehidupan. []

Kontributor : Ahmad Rofai

Cerita SMART Ekselensia Indonesia

Tumbuh Bersama dalam Inkubator

Mengulang Ingatan

Tiba-tiba mata Kakak tertuju pada tumpukan koran bekas di kolong tempat duduk warung nasi. Entah karena pang­gilan dari mana ia tertarik dengan tumpukan koran usang tersebut. Padahal, sebelumnya sekalipun ia tidak pernah ter­tarik untuk mengotak-atik apalagi membaca tumpukan koran bekas.

Dibukanya ikatan tali plastik yang mengikat rapi koran dengan perlahan. Dipilihnya lipatan koran paling bagus di an­tara semuanya, lalu setelah dipilih ia buka lipatan koran itu secara perlahan. Ia perhatikan lembar demi lembar hingga sebuah iklan di pojok kolom menarik perhatiannya. Kakak tersenyum. Diambilnya gunting dari tas, lalu dengan hati-hati ia gunting kolom iklan itu. Tampaknya iklan itulah yang sejak tadi memanggil-manggil Kakak.

“Ya, mungkin dengan potongan iklan 5×4 cm itu dapat mengubah kondisi keluarga saya,” gumam Kakak. Sejurus ke­mudian ia teringat dengan perjuangan adik paling kecilnya.

Seribu rupiah mungkin hanya nilai yang kecil bagi banyak orang, tetapi justru karena seribu rupiah itulah si adik terkecil sering berjalan empat kilometer berangkat sekolah. Demi seribu rupiah itu si adik terkecil memulung tumpukan sampah sekitar kampung. Suatu hari sang adik bercerita bah­wa ketika lapar ia pernah hampir memakan kertas. Bukannya terlihat sedih, ia malah tertawa meskipun takut kalau makan kertas ia bisa sakit. Untuk itu, ia menggantinya dengan berimajinasi makan makanan enak sambil terus menjilati sendok.

Setetes air yang menggenang di pelupuk mata menyadar­kan Kakak dari lamunannya.

Adikku pasti bisa sekolah tinggi, ia harus mencoba seleksi masuk sekolah ini,” gumamnya sembari menggenggam erat potongan iklan.

Empat bulan kemudian, si adik dinyatakan lulus.

Andaikan kehidupan merupakan cakram DVD, ia akan memutar balik adegan lima tahun berikutnya di SMART Ekselensia Indonesia. Begitu banyak hikmah yang patut dikenang. Tak terasa si adik telah menghabiskan waktu lima tahunnya yang berharga di sana. Adik kecil itu tidak lain adalah saya.

Sebuah Pertanyaan Retorik

Satu hal yang terus menjadi pertanyaan retorik dalam pikiran saya mengenai SMART Ekselensia Indonesia, mengapa sekolah ini begitu idealis? Di saat sekolah lain li­bur, sekolah ini masuk. Di saat sekolah lain masuk, sekolah ini libur. Saat sekolah berasrama lain memberikan kesempatan leluasa kepada siswanya untuk bertemu keluarga, sekolah ini malah memberikan waktu liburan ‘hanya’ tiga minggu tiap tahun. Dan di saat sekolah lain punya heterogenitas gender, sekolah ini tumbuh bangga dengan homogenitasnya dengan hanya menerima siswa dari kaum Adam.

Idealis tersebut tidak hanya diwujudkan dalam sistem yang bersifat abstrak, perangkat yang berada di dalamnya pun hidup beriringan dengan menciptakan sebuah kausalitas yang membingungkan: sistem yang sengaja dibuat idealis un­tuk memaksa anggota berlaku idealis, ataukah anggota yang idealis yang memaksa sistem berlaku idealis.

Idealisme para ustadz dan ustadzah SMART Ekselensia Indonesia saya rasakan ketika saya belum mengerti kosakata idealisme itu sendiri, yakni ketika saya masih siswa baru. Ke­tika baru pertama kali masuk di SMART, seperti di film Indiana Jones, saya seperti melihat dunia baru yang sebelumnya be­lum pernah saya temukan. Lingkungan tempat saya pertama kali melihat sekelompok manusia yang selalu tersenyum, sa­bar dalam mengayomi, lingkungan yang tidak ada kosakata ‘materi sentris’ di dalamnya, dan lingkungan yang tidak per­nah ada kata lelah dalam berbagi untuk sesama.

Saya memiliki rasa sensitif yang tinggi dan saya melihat fenomena ini sebagai fenomena yang aneh. Bayangkan, sebe­lumnya ketika masih tinggal di Medan dan Jakarta, saya tidak pernah melihat bahkan mendengar kisah sebuah lingkungan yang memiliki asas kebermanfaatan dan kemanusiaan yang tinggi. Bukan sekadar pleonasme. Seperti sebuah legenda, lingkungan SMART Ekselensia Indonesia menurut saya memang seperti lingkungan yang sangat langka yang orang lain dapat temukan di muka bumi ini.

Butuh proses beradaptasi dengan lingkungan mul­tikultural seperti di SMART Ekselensia Indonesia mengingat siswanya berasal dari berbagai latar belakang dan budaya. Saya pribadi membutuhkan waktu sekitar satu semester untuk memahami situasi di SMART. Saya orang Medan. Orang Medan terkenal dengan ketegasannya dan selalu bicara apa adanya. Budaya bicara apa adanya ini terasa begitu pedas bagi orang yang belum pernah bersinggungan dengan kami. Beberapa bulan pertama merupakan waktu yang berat dalam beradap­tasi. Saya terus berusaha menekan ego khas orang Medan saya serendah-rendahnya. Gaya bicara nyelekit saya ubah sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, dengan bantuan wali asrama dan para guru, saya dapat melewati tahap beradaptasi ini.

Guru Ikhlas

Jika disuruh mengatakan satu kata yang cukup untuk mewakili SMART Ekselensia Indonesia, saya akan berkata: keikhlasan. Merupakan sebuah keberuntungan yang besar bagi saya dapat hidup dengan sosok-sosok yang begitu luar biasa ikhlasnya dalam menjalani amanah sebagai tenaga pen­didik. Dulu, ketika saya masih menjalani pendidikan di kam­pung halaman, hanya ada dua tipe guru yang saya kenal: guru kejam dan guru baik. Kenapa saya lebih dahulu mengatakan guru kejam? Ya, sebab mereka sangat memorable sekali di alam pikiran saya. Bagian tata usaha sekolah sampai harus membeli penggaris kayu sebulan sekali akibat ulah guru-guru tersebut.

Setelah saya di SMART, saya mengenal tipe guru ketiga: guru ikhlas. Bayangkan, ketika saya rindu dengan sosok orang­tua nun jauh di sana, guru-guru dapat berperan seakan orang­tua saya sendiri. Ketika saya butuh teman diskusi, guru-guru dapat berperan seperti selayaknya seorang teman dekat. Ti­dak ada anggapan saya lebih pintar dari murid saya, dan Anda selaku murid harus mengiyakan apa kata saya ucapkan karena saya lebih pintar. Tidak ada. Semua guru di SMART Ekselensia Indonesia merupakan teman diskusi paling nyaman. Mereka mendengarkan sekaligus memberikan bimbingan dengan be­gitu sabar dan lembut.

Ya, guru-guru SMART seperti pemeran dalam sebuah si­netron kehidupan. Sinetron sering kali lebay, guru-guru saya ini pun sangat lebay dalam mengayomi siswa. Betapa tidak lebay, sering kali mereka menyisihkan waktu berharga mereka dengan keluarga di rumah hanya untuk mengurus nilai atau sekadar mendampingi lomba siswa. Sering kali adegan dalam sinetron merupakan imajinasi yang tak pernah tersen­tuh dalam realitas nyata. Begitu pun guru-guru SMART, sikap mereka seperti hanya mengambang dalam imajinasi. Bedanya dengan sinetron, imajinasi itu terimplementasikan dalam re­alitas nyata. Guru SMART pun sangat pintar berganti peran dari seorang guru, menjadi seorang teman, malah tak jarang pula tampak seakan sahabat karib.

Kadang tebersit pertanyaan di kepala saya, sebera­pa pentingkah saya dan teman-teman saya bagi mereka sam­pai membuat mereka rela mendampingi kami hingga lembur tanpa digaji? Seberapa pentingkah kami di mata guru-guru ini hingga mereka rela menyisihkan waktu berharganya dengan keluarga? Kalau kenyataannya demikian, apakah kami meru­pakan bagian dari keluarga mereka? Saya terharu ketika sendirian memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Ternyata masih ada keluarga di tanah rantau yang sungguh asing bagi kami bocah-bocah dari pelosok Indonesia.

Kenapa kita selalu berbeda dengan sekolah lain?” Ung­kap salah seorang ustadz dalam tausyiah apel pagi.

“Karena kita satu dua langkah lebih maju dibanding­kan teman-teman kita di luar sana. Mereka mungkin sekolah diantar orangtuanya, bisa keluar lingkungan pendidikan ka­pan saja mereka mau, sedangkan kalian hanya sekali dalam seminggu diperbolehkan keluar. Mereka diberi uang jajan tiap hari, tak perlu repot-repot mencuci baju sendiri karena sudah dicucikan orangtua atau pembantu.”

“Kalian berbeda! Kalian melakukan semuanya dengan mandiri, dengan disiplin tinggi. Kalian jauh dari handai tolan, bahkan hanya sekali dalam setahun kalian bertemu dengan sanak saudara. Akan tetapi, ini adalah proses untuk mem­bayar kesuksesan besar kalian di masa depan!”

Ustaz tersebut kembali menambahkan.

“Insya Allah, dengan penggodokan dalam sebuah inku­bator ilmu selama lima tahun, kawah candradimuka SMART Ekselensia ini akan menghasilkan generasi peduli dan berkarakter sehingga dapat berkontribusi positif aktif bagi kemajuan bangsa Indonesia!”

Tausyiah pagi tersebut ditutup dengan riuh tepuk tangan para siswa peserta apel pagi. Ada yang tepuk tangan karena mengerti esensi tausyiah ustaz tersebut, ada yang ikut-ikutan, ada pula yang hanya sebatas ironi. Golongan terakhir ini yang sering meratapi nasib ‘kurang beruntung’ mereka dibanding­kan teman-teman di luar sekolah SMART Ekselensia Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, entah itu masih sebagai siswa atau ketika sudah alumnus, golongan ironi ini akan sa­dar dan melakukan yang terbaik sebagai ucapan terima ka­sih mereka kepada para ustadz dan ustadzah serta Dompet Dhuafa Pendidikan selaku pucuk organisasi sekolah SMART. []

Kontributor : Kurnia Sandi Girsang