Pos

Lulusan Smart Ekselensia Diharapkan Jadi Agen Perubahan

Corporate Communication Dompet Dhuafa, Dian Mulyadi menambahkan, sekolah SMART Ekselensia Indonesia tidak ingin melahirkan anak-anak yang pintar di bidang akademis saja, tapi setelah terjun ke masyarakat seperti orang asing. Maka mereka diajari berbagai budaya dan akulturasinya, sehingga mereka mudah berdapatasi di tengah masyarakat.

Maka lulusan SMART Ekselensia Indonesia diharapkan dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Anak-anak SMART Ekselensia Indonesia sejak duduk di bangku SMP sudah praktik membuat proyek sosial. Jadi selama lima tahun sekolah di SMART Ekselensia Indonesia, minimal para siswa sudah membuat lima proyek sosial.

Ia mencontohkan, saat terjadi pembakaran masjid di Kabupaten Tolikara, Papua. Anak-anak SMART Ekselensia Indonesia ditantang kepeduliannya. Akhirnya mereka membuat mini konser amal di Stasiun Bogor. Mereka meminta izin kepada pihak kepolisian dan mempersiapkan berbagai kebutuhan acara konser tersebut

“Hanya satu jam mereka konser, terhimpun dana jutaan rupiah, disalurkan ke Dompet Dhuafa untuk Tolikara, mereka juga membuat program sosial untuk anak-anak sekitar, melalui program SMART mengajar,” jelasnya.

Dian berharap, anak-anak lulusan SMART Ekselensia Indonesia tumbuh jiwa kepemimpinan dan sosialnya. Hal yang paling penting, anak-anak harus sadar mereka punya tanggungjawab terhadap masyarakat setelah mereka sukses nanti. Sehingga mereka bisa berguna untuk masyarakat, agama, bangsa dan negara.

SMART Ekselensia Indonesia Cetak Generasi Pemimpin

Dompet Dhuafa hadir dengan pedoman lima pilar program, salah satunya adalah pendidikan. Sekolah SMART Ekselensia Indonesia menjadi salah satu program dari pilarnya.

Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Muhammad Syafi\’i Elbantani (Kak Syaf) mengatakan, program SMART Ekselensia Indonesia berbentuk sekolah bebas biaya untuk anak-anak dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. Anak-anak dhuafa yang lolos seleksi akan disekolahkan di SMP dan SMA SMART Ekselensia Indonesia pada Lembaga Pengembangan Insani di Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dijelaskan Kak Syaf, anak-anak akan belajar di SMP selama tiga tahun dan di SMA selama dua tahun. Mereka juga akan tinggal di asrama yang segala kebutuhannya telah disediakan oleh donatur Dompet Dhuafa

“Semua anak-anak dibiayai Dompet Dhuafa dari kebaikan para donatur, mulai dari kedatangan, seleksi, biaya pendidikan, makan dan semuanya dicover Dompet Dhuafa, bahkan sampai mereka lulus SMA,” kata Kak Syaf kepada Republika.co.id, Kamis (7/2).

Ia menjelaskan, SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah kepemimpinan. Siswa-siswa SMP dan SMA belajar kurikulum nasional dari pemeritah. Tapi mereka juga belajar kepemimpinan, berbicara di depan umum, berargumentasi dan memecahkan masalah. Artinya mereka belajar keterampilan sebagai seorang pemimpin (personal leadership skill).

Selain itu, siswa-siswa juga belajar keterampilan kepemimpinan sosial (social leadership). Seperti belajar manajemen organisasi dan rekayasa sosial. Mereka juga diberi pengalaman magang di desa dan membuat proyek sosial di tengah masyarakat

Sehingga siswa SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi. Tapi mereka juga berpikir bagaimana berkontribusi untuk masyarakat.

“Karena mereka lahir dari Dompet Dhuafa, Dompet Dhuafa lahir untuk memberdayakan masyarakat marginal, maka setiap penerima manfaatnya harus memiliki nilai itu,” ujarnya

Kak Syaf menegaskan, sekolah SMART Ekselensia Indonesia tidak hanya mendidik anak-anak supaya pintar di bidang akademik. Tapi juga melatih mereka supaya memiliki jiwa sosial yang berkontribusi untuk kepentingan umum. Hasilnya sudah bisa dilihat, sebanyak 90 persen lebih, lulusan SMART Ekselensia Indonesia diterima di perguruan tinggi negeri

Alumni SMART Ekselensia Indonesia juga bisa mendapat beasiswa dari pemerintah. Rata-rata mereka menduduki posisi penting di organisasi kampusnya masing-masing. Ini adalah hasil belajar keterampilan kepemimpinan saat mereka belajar di sekolah SMART Ekselensia Indonesia.

“Jadi yang menonjol di sekolah SMART Ekselensia Indonesia selain akademik, juga kepemimpinan siswanya, itu diukur dari kontribusi anak-anak SMART Ekselensia Indonesia kepada masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sumber : Republika

Pelatihan Kepemimpinan

Memulai Dinamika Sekolah Dengan Leadership Camp Ala SMART

Kembali sekolah setelah libur panjang seringkali menjadi hal yang menantang. Banyak siswa yang antusias namun banyak juga yang merasa malas. Tak bisa dipungkiri kondisi itu pun terjadi di SMART Ekselensia Indonesia (SMART). Karenanya, para wali asrama menggagas Leadership Camp untuk siswa SMART.

Leadership Camp tahun ini mengangkat tema “Aku Siap Kembali Berjuang di SMART”. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari, yaitu pada Jumat hingga Sabtu (11-12/1), di Joglo Resort Ciapus, Bogor. Sebanyak 194 siswa SMART dari seluruh kelas akan mengikuti acara ini.

Training kepemimpinan ini bertujuan untuk mengembalikan kembali jiwa ke-SMART-an siswa, yaitu kepemimpinan, disiplin, mandiri, kebersamaan, dan tanggung jawab. Sebagai sekolah yang mengangkat kepemimpinan sebagai kekhasannya, kegiatan ini menjadi krusial untuk dilakukan.

“Selain mengembalikan jiwa SMART, kegiatan ini juga bertujuan untuk menyamakan frekuensi kejiwaan para siswa agar siap mengikuti dinamika sekolah dan asrama. Acara ini juga dirancang untuk menjalin kembali keharmonisan hubungan antarsiswa”, jelas Nurhayati, Supervisor Marketing komunikasi Dompet Dhuafa Pendidikan.

Berbagai aktivitas telah dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Berkemah dengan tenda, kompetisi antarkelompok, outbond, api unggun, juga Jurit Malam, adalah beberapa aktivitas yang akan dilaksanakan para siswa. Tak lupa sisi kerohanian juga disentuh dengan salat malam, salat berjamaah, hafalan Alquran, zikir Al-Ma’tsurat, dan muhasabah atau kontemplasi bersama.

Liburan kenaikan kelas memang menjadi momen paling dinantikan, terutama oleh para siswa SMART. Karena momen sekali dalam setahun inilah, mereka bisa pulang kampung bertemu dengan keluarga. Memanaskan kembali semangat para siswa menjadi hal krusial agar mereka siap untuk berjuang lagi di SMART. Semoga Leadership Camp ala SMART ini dapat memberikan dampak yang signifikan.

Ajarkan anak memimpin di kelas

Cara ajarkan siswa memimpin di kelas

“Wah, hari ini Rizky lagi deh yang jadi guru, Dzah,” ujar Fatiur sambil menghampiri saya yang sedang berjalan menuju kelas setelah menikmati makan siang.

Ya, siang itu saya memang memerhatikan kalau Rizky belum menyelesaikan makan siangnya bersama beberapa orang teman sekelasnya. Apa hubungan makan siang dengan menjadi guru? Bukankah harusnya saya yang setelah makan siang ini mempunyai jadwal mengajar di kelas mereka? Mengapa Fatiur berujar seperti itu?

Ide ini muncul begitu saja. Suatu ketika saya menyelesaikan makan siang lebih cepat dari biasanya sehingga saat saya memasuki kelas sebagian besar siswa belum masuk. Hanya ada beberapa siswa yang sedang asyik bersenda gurau. Ketika melihat banyak kursi siswa yang masih kosong, saya memutuskan untuk duduk di samping salah seorang siswa. Mengajak mereka bercerita. Satu per satu siswa yang lain masuk dan menduduki kursinya masing-masing.

Lima menit menjelang bel masuk berbunyi, tersisa empat kursi kosong, yang artinya masih ada empat siswa belum memasuki kelas. Tanpa perencanaan tiba-tiba saja terlontar kalimat, “Siapa yang telat dan enggak kebagian kursi, jadi guru, ya. Ustadzah mau merasakan jadi siswa hari ini.”

Beneran, Dzah?”

“Ustadzah mau jadi siswa? Terus yang ngajar kita siapa?”

“Tugas yang jadi guru apaan, Dzah?” Siswa-siswa langsung berkomentar.

Namanya juga ide dadakan, saya jadi bingung saat ditanya para siswa.

“Nanti gurunya bertugas membuka pelajaran dan memberikan motivasi buat siswanya. Ustadzah ikutan jadi siswa. Yang ngasih materi tetap Ustadzah,” jelas saya.

“Wah, seru nih!” seorang siswa berkata sambil langsung mengambil posisi duduk. Takut tidak kebagian kursi.

Seorang siswa tiba-tiba saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar kelas. Saya sempat berpikir mengapa dia malah meninggalkan kursinya, sedangkan teman-temannya berebutan untuk duduk.

 “Ayo buruan masuk. Yang terakhir masuk dan tidak kebagian kursi nanti bakalan jadi guru lho!”

Oh, ternyata ia ingin mengingatkan teman-temannya yang masih berada di luar kelas.

Beberapa siswa yang masih berada di luar kelas pun berlari menuju kelas. Berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin menemukan kursi yang masih kosong. Tak peduli harus bertabrakan dengan kursi atau meja. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah menemukan kursi untuk duduk dan menghindari tugas jadi guru.

“Alhamdulillah!” Devon akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapatkan kursi. Disusul satu per satu siswa lain yang juga mendapat kursi. Saya melihat satu siswa masih berdiri, namanya Rizky, siswa yang berasal dari Bandung.

Rizky pun saya minta maju ke depan untuk membuka pelajaran. Rizky bisa enggak ya? Apakah setelah ini ia akan malu? Apakah ia akan merasa kesal? Berbagai pertanyaan melintas di kepala saya. Saat itu, saya berusaha mengondisikan Rizky agar nyaman dengan posisinya. Untungnya, teman-temannya mendukung posisi Rizky yang saat itu jadi guru.

“Saya harus ngapain, Dzah?” tanya Rizky.

“Rizky nanti membuka kelas. Sama seperti Ustadzah membuka kelas seperti biasanya. Nanti Rizky tunjuk salah seorang siswa untuk memimpin doa dan tilawah,” jelas saya kepada Rizky.

“Oke, Dzah, siap.”

Wah, ternyata pikiran bahwa Rizky akan malu dan tidak mau melaksanakan tugasnya harus saya buang jauhjauh. Rizky malah terlihat bersemangat dan penuh percaya diri. Rizky semakin menikmati posisinya sebagai guru saat seorang temannya mengingatkan cita-citanya.

Ayo, Ki. Kan katanya kamu mau jadi guru. Nah, mumpung sekarang punya kesempatan manfaatkanlah!”

“Ustadzah jadi siswa kan? Saya minta Ustadzah untuk memimpin doanya,” pinta Rizky.

“Let’s pray together.” Saya memimpin doa dalam bahasa Inggris karena setiap Rabu di SMART Ekselensia Indonesia ada program English Day. Guru-guru wajib membuka pelajaran dengan bahasa Inggris.

Setelah siswa membaca doa, Rizky langsung melanjutkan tugasnya dengan menanyakan kabar kami. “How are you this morning?”

Pertanyaan Rizky langsung kami jawab, “Alhamdulillah. Extraordinary. Keep spirit. Keep smile. Allahu Akbar!”

Tanpa saya duga Rizky langsung melanjutkan pembukaan kelas saat itu sesuai dengan kebiasaan saya. Rizky berteriak, “Physic!” Serempak kami pun menjawab, “Yes… yes… yes… we can!”

Ritual pembukaan berlanjut dengan tilawah dan sesi motivasi. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Siswa-siswa terlihat bersemangat. Ide spontanitas ini pun akhirnya menjadi kebiasaan saya di kelas tersebut sampai satu semester berakhir. Saya melihat ini sebagai sebuah kegiatan positif. Siswa bisa melatih rasa percaya dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Dan saya melihat siswa-siswa pun menikmatinya. Setiap Rabu siang ,mereka akan selalu bertanya-tanya siapakah yang akan jadi guru hari itu.

Oleh : Uci Febria (Guru SMART Ekselensia Indonesia)

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pembelajaran Kimia dalam Pentas Drama

Pelajaran yang termasuk ke rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam, khususnya pelajaran Kimia, banyak ditakuti bahkan tidak disukai oleh para siswa. Kimia menjadi bagian pelajaran yang tergolong pada mata pelajaran MAFIA (Matematika, Fisika, dan Kimia) dan mempunyai predikat “mengerikan” serta menjadi momok di sekolah. Sudah lumrah bahwa pelajaran tersebut identik dengan perhitungan yang rumit dan membuat kepala pening tujuh keliling.

Di samping berlimpah dengan rumus-rumus dan perhitungan yang rumit, pelajaran Kimia juga dikenal jauh dari nilai-nilai seni dan otak kanan. Bahkan siswa-siswa yang masuk ke dalam penjurusan IPA dikenal dengan “siswa kiri”, yakni siswa yang memiliki kemampuan otak kiri yang dominan dan konon kurang kreatif

Tetapi, stigma tersebut tidak berlaku di SMART Ekselensia Indonesia. Siswa-siswa SMART, dalam pandangan saya, rata-rata kreatif dan mempunyai nalar seni yang bagus. Pandangan saya ini bukan tanpa dasar. Banyak fakta yang saya temukan di SMART yang menunjukkan bahwa mereka kreatif dan berselera seni tinggi, salah satunya terlihat pada trashic (trasch music).

Mendapati anak-anak dengan kreativitas yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru; bagaimana saya harus mengelola pembelajaran dalam kelas dan berusaha menyuguhkan pembelajaran yang kreatif, terutama dalam memberikan pembelajaran Kimia kepada siswa kelas 4 dan 5 IPA yang pada tingkatan ini penuh dengan rumus dan perhitungan rumit. Untuk mengajar anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata (diketahui dari hasil psikotes pada saat seleksi penerimaan siswa) dan tingkat kreativitas yang bagus, saya pun lebih memosisikan diri sebagai fasilitator. Artinya, 60-70 persen siswa yang aktif di dalam proses pembelajaran, sedangkan saya hanya melihat dan menilai serta memberikan arahan.

Seperti dalam pembelajaran kimia untuk kelas 4 IPA. Ketika membahas materi hidrolisis garam, saya menggunakan metode Developmentally Appropriate Practices, yaitu suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada potensi kemampuan siswa. Karena siswa SMART umumnya mempunyai kecerdasan seni yang bagus, saya pun memanfaatkan potensi ini dalam pembelajaran Kimia.

Saya meminta siswa untuk membuat komik tentang beberapa subbab di dalam bab hidrolisis garam secara berkelompok. Komik yang telah mereka buat kemudian dipentaskan menjadi drama. Dalam pembelajaran ini siswa terasah otak kiri maupun otak kanannya, yaitu menyampaikan pesan berupa teori kimia dalam sebuah pementasan.

Tahapan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

Pertama, setiap siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk memahami tema subbab yang diberikan, dan membuat konsep pembuatan komik. Kedua, siswa membuat komik yang telah mereka konsep. Dan ketiga, mementaskan komik yang telah dibuat dalam sebuah drama.

Peran saya sebagai guru pada tahapan pertama adalah menjadi fasilitator untuk menjawab pertanyaan para siswa jika ada konsep dalam teori yang tidak bisa mereka pecahkan dalam kelompok. Pada tahapan kedua saya berperan memberikan penilaian terhadap proses pembuatan komik. Pada tahapan ketiga, saya berperan melakukan penilaian performa dan memberikan konfirmasi terhadap penampilan siswa.

Metode pembelajaran seperti ini membuat 100 persen siswa terlibat aktif di kelas sehingga tidak ada siswa yang mengantuk atau tertidur. Di lain pihak, saya sebagai guru bisa memaksimalkan fungsi sebagai fasilitator yang melakukan kontrol kelas, penilaian, dan konfirmasi terhadap apa yang dilakukan siswa. Di samping itu, metode pembelajaran ini merangsang kreativitas siswa.

Saya tercengang melihat kreativitas siswa, yang menurut saya luar biasa. Kreativitas mereka terlihat jelas pada saat pembuatan komik. Komik yang mereka buat bagusbagus; tidak hanya kualitas gambarnya, isi ceritanya pun menarik. Yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah saat mereka menampilkan drama. Saya tidak menyangka bahwa siswa begitu menghayati peran dalam drama tersebut. Saya pikir karena pelajaran ini pelajaran eksakta mereka akan menampilkan drama biasa-biasa saja. Tetapi dugaan saya salah, ternyata mereka menampilkan drama dengan penghayatan yang sangat bagus, dan menyiapkan secara sungguh-sungguh properti-properti tambahan untuk penampilannya.

Setelah penampilan drama dilakukan, selanjutnya saya menguji pengetahuan mereka dengan mengadakan posttest. Hasilnya mengjutkan dimana mereka mendapatkan nilai rata-rata post-test yang bagus, yaitu 80.55, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran cukup berhasil. Mereka dapat menjelaskan konsep teori dalam hidrolisis garam dengan penampilan drama, dan pesan-pesan dalam drama itu tertangkap baik pula oleh setiap kelompok.

Kembali harus saya akui dan syukuri, siswa-siswa SMART tidak hanya cerdas otak kirinya saja, tetapi juga cerdas otak kanannya. Mengajar di SMART memberikan peluang bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik dalam mengajar dan mengembangkan berbagai metode pembelajaran karena siswanya kooperatif dan mampu mengikuti setiap metode yang saya berikan.

Abdul Gani
Guru SMART Ekselensia Indonesia

Dari sampah kok bisa jadi musik

Sampah kok bisa jadi alat musik?

Dalam wacana kreativitas di dunia pendidikan, semangat mencoba dan mau tampil beda merupakan syarat utama untuk bisa mendalami dan menggelutinya. Banyaknya jam terbang dalam menjalaninya, juga bagian yang mampu menajamkan potensi diri menjadi inspirasi yang imajiner kala mengembangkan ide-ide segar. Berani memandang dari sisi yang bukan pada umumnya adalah bagian keunikan yang bersifat orisinal dan alamiah.

Inspirasi untuk memberdayakan siswa marginal yang tergabung di SMART Ekselensia Indonesia merupakan tantangan tersendiri. Bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengembangkan bakat dan potensi mereka. Butuh berbagai variasi ketajaman teori perkembangan peserta didik dan keluasan referensi metode mendidik yang tidak hanya mengajar secara konvensional.

Sentuhannya bukan hanya semangat, melainkan juga tambahan suplemen pengorbanan dan tingginya tingkat kepedulian. Inilah perpaduan tangguh untuk menjadikan siswa kreatif. Bentuk inspirasi itu antara lain berupa gabungan mengolah sampah anorganik menjadi tampilan musik. Istilah yang sering dikenal orang banyak adalah trashic (trash music) atau musik sampah.

Awal kali gagasan ini dimunculkan memang cukup mengerutkan dahi yang mendengarnya. Bisa dibayangkan, panci bolong, wajan usang, pelek motor bekas, tempat jemuran, semua ini difungsikan sebagai perkusi. Ditambah ritmis suara yang mengaplikasi dari gema hukum fisika pada botol yang berisikan air. Alat-alat musik kagetan ini mampu mengeluarkan harmoni tangga nada yang memainkan peran sebagai melodi. Dan sebagai penguat semangat warna musik terdapat pada bas yang dimainkan dari tong plastik berkapasitas 100 liter, yang berteman setia pada jeriken minyak plastik berkapasitas 20 liter. Fungsi esensinya pada ritme keterpaduan cara pukul dan waktu masuk dalam satu alunan lagu.

“Kok bisa ya, Pak? Itu semua kan barang yang enggak layak pakai? Terus cara ngedapatinnya juga harus keliling satu RW, ya?”

Cetus keheranan salah satu anggota masyarakat itu bukan sekali saya dengar. Awalnya, sebagian (besar) orang memandangnya aneh bercampur heran, tapi berikutnya mereka akan memuji setelah alat-alat perkusi itu dimainkan oleh siswa SMART. Permainan musik ala siswa-siswa SMART ini pernah meraih penghargaan pemenang pertama dalam sebuah acara unjuk kreativitas di sebuah stasiun televisi  swasta nasional.

“Wah, keren-keren! Ini baru yang namanya kreatif. Jarang-jarang yang bisa kaya begini.”

Awal mula dibentuknya musik trashic ini berdasarkan pada keisengan siswa-siswa SMART. Sekolah ini memang berupaya menggali potensi kecerdasan siswanya, salah satu nya dalam bakat bermusik. Keisengan mereka berupa seringnya memukul-mukul bangku, meja, dinding pembatas kelas, bahkan ujung ballpoint dan pensil, menjadi inspirasi  untuk membuat satu alat musik yang dijadikan sebagai sarana hiburan mereka. Bakat-bakat siswa itu kemudian di berdayakan dalam satu wadah yang mendukung pembelajaran mereka di kelas. Tantangan kepada mereka untuk bisa mengaransemen satu lagu dalam wadah dan alat yang telah disediakan dari barang bekas tersebut ternyata disambut dengan penuh antusias.

Regenerasi tim yang ada juga sudah tertata dengan sistem yang cukup baik. Setiap angkatan baru masuk, semangat memainkan alat musik trashic sudah ditularkan. Dorongan memotivasi juga diembuskan kepada siswa kelas 1 itu dengan menjelaskan manfaat ikut bergabung dalam trashic.

“Selain waktu untuk berjalan-jalan semakin luas dan lama, tabungan kalian juga bisa bertambah banyak.” Kata-kata ini diberikan untuk membangkitkan ketertarikan para siswa.

Ya, karena bergabung dalam trashic memiliki keuntungan tersendiri. Selain mereka bisa menghibur orang lain, terkadang mereka menerima uang amplop dari pihak pengundang. Isi dalam amplop itu diatur seadil mungkin dalam pembagiannya. Dari lima tahun mereka berada di SMART, mereka akan menerima undangan untuk menghibur orang banyak dalam beberapa kali kesempatan. Dari pembagian ini, para siswa itu bisa menabung. Tabungan para alumni SMART sendiri cukup terbilang besar, setidaknya dalam ukuran mereka, yakni rata-rata satu juta rupiah.

Satu juta rupiah bagi anak-anak kota mungkin tidaklah besar. Namun, bagi siswa SMART, yang semuanya memang berlatar belakang anak marginal, satu juta rupiah adalah spirit, kesabaran, daya juang, ekspresi seni, dan semangat penuh ketangguhan. Satu juta yang dihasilkan dari niat yang tulus menghibur, berkampanye mengenai pemanasan global, peduli terhadap lingkungan, dan yang terpenting adalah usaha mereka untuk mau dan mampu menjadi manusia Indonesia yang mandiri, cerdas, dan penuh keimanan. []

Di Antara Dua Ujian Siswa

Di Antara Dua Ujian Siswa

Aku dipercaya untuk mengajarkan Bahasa Inggris di SMART Ekselensia Indonesia. Sebagai guru full time, ada tiga kelas yang aku ajar, yaitu 2B, 3A, dan 3B. Karena kelas 3A dan 3B bakal menghadapi Ujian Nasional (UN), aku harus membuat mereka siap. Semampuku aku membantu mereka untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, khususnya di pelajaranku. Pada try out pertama Diknas dilaksanakan, siswa-siswaku terlihat kurang siap menghadapinya. Hasilnya terbukti, sebagian dari mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata.

“Kamu kenapa bisa dapat nilai segitu? Emang soalnya susah banget?” tanyaku kepada salah satu siswa yang mendapatkan nilai terendah.

 “Gak tahu, Dzah. Kami baru tahu ada try out itu pas paginya, dan kami belum belajar apa-apa.”

“Kok gitu? Kamu kurang cari informasi mungkin? Ayo nilainya ditingkatkan, nanti Ustadzah kasih bonus kalau sampai nilai kamu meningkat,” kataku mengimingi dengan menyebut sebuah merek wafer.

“Iya, Dzah, nanti mah saya serius ngerjainnya, saya bakal dapet 8, Dzah.”

Aku tidak meragukan kemampuan mereka dalam menjawab soal try out, toh mereka adalah anak-anak pilihan. Aku hanya mengkhawatirkan kesungguhan dan keseriusan mereka dalam menghadapi ujian. Beberapa kali aku kurangi jam mengajarku hanya untuk menceramahi mereka agar lebih serius lagi dalam mengerjakan dan menghadapi try out. Sempat aku ingin menyerah dalam situasi seperti ini.

Tapi, aku tersadar, bukankah Allah tidak suka dengan orang yang mudah putus asa? Try out kedua pun dilaksanakan. Kembali aku khawatir dengan hasilnya. Namun, aku percayakan kepada mereka dan pastinya terhadap Allah.

“Semangat, ya… pasti bisa,” ucapku sebelum mereka masuk ruang ujian.

Mereka hanya tersipu, entah apa yang ingin mereka sampaikan.

Tidak Lama Kemudian, HASIL try out kedua keluar. Alhamdulillah, nilai mereka meningkat, dan sebagai penyemangat aku memberikan reward untuk mereka sesuai janji. Ini salah satu apresiasiku terhadap usaha dan kesungguhan mereka. Belum selesai kegembiraanku, try out ketiga siap menanti.

Salah satu usahaku untuk membantu mereka siap menghadapi UN adalah memberikan latihan-latihan soal. Setelah mereka menyelesaikan try out ketiga Diknas, selama tiga jam mata pelajaran (3×40 menit) kami membahas soalsoal di kelas 3A. Berhubung soal Bahasa Inggris ini banyak berupa teks, volume suaraku pun mengecil. Untungnya, seorang siswa mengerti keadaanku.

“Dzah, biar saya bantu menjelaskan ya, tadi pagi kan kelompok saya sudah membahas soal yang ini waktu bimbel.”

Bimbel atau bimbingan belajar adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar jam pelajaran, dimulai sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 khusus untuk kelas 3. Aku hanya tersenyum melihat tindakan siswa ini karena biasanya ia suka membuat ribut di kelas dengan pertanyaanpertanyaan yang kadang tidak berhubungan dengan materi yang dibahas. Aku terima niat baiknya. Setelah membahas soal, aku memberikan PR yang harus dikumpulkan besok.

Keesokan harinya, aku mengajar kelas 3B. Jam pelajaran Bahasa Inggris dimulai setelah istirahat. Ketika aku dan siswa kelas 3B sudah di kelas, masih ada beberapa siswa kelas 3A yang singgah karena jam pelajaran selanjutnya belum dimulai.

Dan kesempatan ini pun aku gunakan untuk mengobrol bersama siswa kelas 3A. Aku mengumumkan siapa saja di antara mereka yang masuk ke dalam datiar Klinik Bahasa Inggris (salah satu program sekolah untuk menindaklanjuti anak-anak yang masih lemah dalam mata pelajaran Bahasa Inggris).

“Kamu, Ustadzah masukkan ke klinik, ya?” Aku bertanya kepada siswa 3A yang membantuku menjelaskan soal dan jawaban kepada temannya di kelas.

“Iya, Ustadzah,” jawabnya sambil tersenyum.

Mendengar jawabannya aku merasa ada yang beda karena biasanya bukan respons seperti itu yang ia berikan. Akan ada tawar-menawar terlebih dahulu sebelum ia mengiyakan pernyataanku.

“Kamu gak masuk ke lab komputer? Kan sebentar lagi kelasnya dimulai?” tanyaku lagi. Jarang-jarang ada siswa yang datang terlambat ke ruang lab komputer.

“Iya, Dzah, nanti saja,” jawabnya dengan tatapan yang kosong.

Setelah mengajar aku pun menjalankan aktivitas seperti biasanya. Kemudian ditambah jadwal video conference (VC) yang biasanya aku lakukan seminggu dua sampai tiga kali. Video conference adalah program menghubungkan siswa SMART dengan anak-anak Indonesia yang bersekolah atau berkuliah di luar negeri, seperti di Kanada, Australia, dan Jepang. Mereka berbincang dan bersilaturahim melalui aplikasi Skype. VC dimulai dari pukul 16.00 sampai 17.00. Sambil mengawasi anak-anak melakukan kegiatan VC, aku juga menunggu PR kelas 3A yang mereka kumpulkan hari itu. Beberapa siswa kelas 3A bergantian mengumpulkan tugas mereka, tapi masih ada beberapa siswa yang belum mengumpulkan, mungkin karena lupa.

Di Rumah, Ketika Jam menunjukkan pukul 03.00 aku terbangun. Aku mendengar getaran ponselku yang terletak tidak jauh dari kepalaku. Ada pesan di WhatsApp grup para guru SMART. Betapa kagetnya aku begitu membaca isi pesan yang menyebutkan bahwa ibunda salah satu siswa kelas 3A meninggal dunia pada hari kemarin, tepatnya pagi hari. Rasa kagetku tak berhenti sampai di situ karena aku membaca bahwa yang meninggal adalah ibunda dari anak yang dua hari sebelumnya membantuku menjelaskan jawaban atas soal-soal yang sedang kami bahas. Ya, siswa yang ketika aku tanya tentang klinik, ia hanya menjawab iya dan tersenyum; anak yang ketika di kelas kadang bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran.

Seketika aku terdiam membayangkan wajah siswa itu, yang biasanya ceria dan sering berpendapat tentang apa pun. Aku membayangkan betapa pedih hatinya karena ditinggal ibundanya tersayang, bahkan sekaligus kehilangan calon adiknya yang masih berada di dalam kandungan sang ibunda. Saat itu juga aku berdoa agar hati dan jiwanya kuat menghadapi cobaan dari Allah dalam usia semuda itu.

Ingin rasanya waktu segera menunjukkan pukul 06.00 agar aku dapat langsung ke sekolah dan mengetahui keadaannya. Sayangnya, saat aku sampai di sekolah, anak itu ternyata sudah pergi ke  bandara menuju Batam, tempat keluarganya tinggal.

“Semoga ia diberi kekuatan dan keselamatan,” doaku dalam hati.

Kemudian aku menuju kelas untuk menyimpan tas karena setiap hari kami selalu melaksanakan apel pagi pada pukul 06.40. Sesampainya di kelas, kulihat ada kertas jawaban seorang anak yang mungkin diletakkan sekitar pukul 17.00 ke atas karena kemarin aku tidak menemukan apa-apa di atas mejaku. Aku tahu itu kertas jawaban siswa 3A yang harusnya dikumpulkan kemarin.

Setelah kulihat, ternyata di situ tertulis nama “Muhammad Ihda Alhusnayain”, anak yang baru saja ditinggal oleh ibundanya. Dalam keadaan bersedih ia masih berpikir untuk mengumpulkan tugasnya. Dalam keadaan terpuruk dan pasti sangat terpukul, ia masih merasa bertanggung jawab untuk memenuhi tugasnya karena ia tahu dirinya tidak bisa mengumpulkan tugasnya dalam tiga hari ke depan dikarenakan harus pulang menengok keluarganya.

Sekembalinya dari batam tak banyak yang berubah dari Ihda. Dia tetap semangat menjalani hari-harinya walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Semoga setelah musibah ini Ihda tetap mempunyai semangat untuk menghadapi UN. Semoga anak ini tetap ceria, tetap aktif dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk ustadz dan ustadzahnya, tetap tegar demi adik dan ayahnya, dan  yang pasti semoga ia tambah pintar. Begitu juga dengan siswa-siswa yang lain, khususnya kelas 3 yang semoga tetap diberi semangat dan kecerdasan agar mereka dapat melewati UN dengan baik dan lancar serta mendapatkan hasil yang terbaik.

Aku percaya pada anak-anak pilihan ini. []

Penulis:

Irena Daniati
Guru Bahasa Inggris SMART Ekselensia Indonesia

Mogok Siswa Rantau

Mogok Sekolah Siswa Rantau

Cerita ini tentang pengalaman saya selaku wali kelas di SMART Ekselensia Indonesia. Suatu pagi saya mendapat laporan dari wali asrama bahwa salah seorang siswa saya tidak mau sekolah.

“Penyebabnya apa, ya, Pak?” tanya saya pada wali asrama.

“Dia selalu ingat rumah, kampung halamannya. Dia selalu ingat ibunya.”

“Oh, begitu, ya, Pak.”

Selepas kerja, pada hari yang sama, saya ke asrama menemui siswa tersebut. Saya coba mengajaknya mengobrol.

Tapi, jawabannya hanya satu, yaitu diam seribu bahasa. Saya tahu ia tidak mungkin langsung percaya dengan saya sehingga ketika saya menemuinya, ia hanya diam. Akhirnya, saya pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan harinya saya mencoba lagi. Kali ini saya mencari tahu ke teman-teman guru yang dekat dengannya supaya saya bisa menggali banyak informasi. Dengan banyak mengetahui informasi tentangnya, saya bisa membantunya kembali bersemangat ke sekolah.

Hari itu juga ia masih dengan kondisi yang sama. Ia tidak mau sekolah, dan ingin pulang ke kampung halamannya tanpa alasan yang jelas. Saya pun tidak putus asa membujuknya untuk kembali ke sekolah.

Saya menggali lagi informasi ke beberapa guru yang bekerja lebih lama dari saya di SMART.

“Kenapa ya siswa saya itu tidak mau sekolah?” kembali saya mengajukan pertanyaaan yang sama.

“Hal yang wajar terjadi di sini, Tadz. Itu adalah masa ia beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Wajar jika terjadi pada siswa kelas 1,” tukas salah seorang guru.

Jawaban dari rekan guru itu membuat saya bersemangat.

Hanya soal adaptasi. Tetapi, dalam hati saya bergemuruh: harus saya mulai dari mana mengatasinya?

Jangankan untuk kembali sekolah, mengajaknya mengobrol saja ia bergeming.

Sehari, dua hari, sampai satu minggu, belum ada cara yang tepat untuk mendekati anak ini. Tiba-tiba saya

teringat perkataan seorang teman bahwa segala sesuatu itu tergantung ridha orangtua kita. Jadi, dalam hal ini doa orangtua sangat berpengaruh pada kesuksesan anaknya.

Saya pun bertanya kembali ke salah seorang wali asrama. “Penyebab dia tidak mau sekolah apa ya, Pak?”

“Dia selalu ingat ibunya, Tadz,” jawab seorang ustadz.

Mendengar jawaban itu, saya langsung berpikir, mungkin ketika ia berangkat ke SMART, ibunya belum sepenuhnya ridha melepas kepergian anaknya.

Saya pun langsung menghubungi ibunya. Kemudian saya, selaku wali kelas, menjelaskan persoalan anaknya di SMART.

“Bu, anak Ibu sudah beberapa minggu ini tidak mau sekolah.”

“Iya, Pak, saya juga sudah dapat informasi ini dari anak saya melalui telepon,” ibunya menjawab sambil terisak menahan tangis.

“Bu, dia tidak mau sekolah karena selalu ingat akan kampung halaman, dan dia selalu ingat Ibu.”

Sebelum berbicara dengan ibu anak itu, saya selalu berkonsultasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK). Dari guru BK-lah saya mendapatkan data psikologis siswa tersebut, seperti hasil psikotes.

“Bu, cobalah untuk mengikhlaskan dia untuk sekolah di sini. Karena doa Ibulah yang bisa mengantarkan kesuksesan anak Ibu. Anak Ibu cerdas. Akan tetapi, semuanya tergantung Ibu, yang bisa Ibu lakukan sekarang berdoa, dan saya pun di sini berusaha semampu saya agar bisa membimbing putra Ibu.”

Ibunya pun menjawab, “Iya, Pak, memang salah saya juga, saya selalu ingat dia.”

“Nah, mungkin itu, Bu, yang menjadi penyebabnya. Jadi, mulai sekarang, coba Ibu relakan kepergiannya untuk sementara ini, dan berdoa untuk kesuksesan dirinya.”

“Baik, Pak, akan saya coba.”

Keesokan harinya saya pun berupaya kembali membujuk anak itu untuk bersekolah.

Siang itu, saya ke asrama ditemani guru BK. Sampai di asrama, kami mencarinya. Terlihat ia sedang menangis di sudut koridor asrama sambil memegang buku. Saya mendekatinya. Ia sebenarnya tahu kehadiran saya. Tapi, sepertinya ada penolakan dari dalam hatinya sehingga ia langsung diam sambil berpura-pura melihat bukunya.

Saya coba mengajaknya bicara, sekadar menanyakan kabar. Seperti biasa, ia hanya diam. Pandangan mata saya beralih ke bukunya. Buku yang dipegangnya buku Fisika.

Sepertinya ia sangat suka dengan pelajaran tersebut. Tiba- tiba saya mendapatkan ide.

“Lagi belajar apa, Dik?”

Ia tidak menjawab dengan lisannya, hanya menunjukkan bukunya dan bab yang sedang dipelajarinya.

Saya pun duduk di sebelahnya. “Kamu sangat suka pelajaran Fisika, ya, Dik?” Anak itu hanya mengangguk.

“Wah, hebat, ya, tapi sayang kalau kemampuan dan kesukaan kamu harus berhenti di sini.”

Dia pun menatap saya. Saya pun mencoba membuka diri.

“Saya juga lulusan Teknik, Dik, Teknik Elektro, tepatnya. Dasar dari beberapa kuliah teknik adalah Fisika.”

Dia masih menatap saya.

“Kamu asalnya dari mana?”

Saya sebenarnya tahu jawabannya, tapi sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk melancarkan “aksi” berikutnya.

Benar! Ia akhirnya menjawab untuk pertama kalinya ke saya, “Saya dari Sumatera Barat, Pak.”

“Bukannya di Sumatera itu banyak sekali pertambangan?” Ia mengangguk.

“Wah, harusnya kamu bangga bisa sekolah di sini! Bakat kamu bisa tersalurkan. Setelah kamu selesai sekolah di sini, kamu bisa kuliah di Teknik karena sekolah ini membantu kamu sampai masuk kuliah. Kalau kamu memaksakan diri untuk pulang, apa kamu bisa sekolah seperti sekolah di sini? Guru-guru di sini sangat perhatian dan baik ke kamu.” Ia terdiam.

“Sekolah ini siap mengantarkan kamu ke tempat kuliah yang kamu inginkan. Apalagi di Sumatera banyak sekali pertambangan. Kamu bisa kuliah di Teknik Pertambangan, Teknik Geologi, atau Teknik Perminyakan karena dasar Fisika kamu bagus. Selepas kuliah, kamu bisa kembali ke rumah kamu, dan insya Allah posisi kamu ketika bekerja di sana akan lebih dihargai karena keahlianmu. Tetapi, kalau kamu berhenti di sini, dan kamu pulang, apa yang kamu dapat? Kamu tidak akan dapat apa-apa. Selepas sekolah, apakah kamu bisa kuliah? Apakah sekolah kamu akan sama dengan sekolah di sini, yang mencarikan siswanya beasiswa?” Ia masih bungkam.

“Cobalah pikirkan lagi, Dik, kamu punya kesempatan untuk sukses. Jangan disia-siakan.”

Ia tetap membisu, tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya. Saya pun pamit padanya.

Saya terkejut bercampur senang. Anak itu tampak di sekolah bersama teman-temannya. Berminggu-minggu tidak mau sekolah, akhirnya ia kembali seperti anak-anak SMART. Ceria belajar dan bermain dengan teman temannya. Ia juga sudah tidak canggung lagi mengobrol dengan saya.

Saya tahu, ia anak yang cerdas. Terbukti, pelajaran yang ditinggalkan selama ia mogok sekolah mampu dikejarnya. Ia tidak lagi rapuh hanya karena merindukan keluarganya di rumah, terutama sang ibu.

Saya bersyukur atas perubahan yang dialaminya. Sesyukur saya mengenang kisah yang terjadi lima tahun silam pada Mitra Pargantian. Mitra tidak hanya membahagiakan kami di sini dengan kelulusannya di SMART, tetapi juga mewujudkan impiannya berkuliah di Teknik. Memilih untuk merantau menuntut ilmu di pulau seberang di Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Sebuah jalan kesuksesan tengah dirintisnya, dengan tetap dibersamai ridha orangtuanya. – Ari Kholis Fazari (Guru SMART Ekselensia Indonesia

-Diambil dari kisah dalam buku “Marginal Parenting”

Cinta Budaya Islam, DD Pendidikan dan Dapoer Enterprise Gelar Lomba Marawis

Gempuran budaya asing yang sangat masif pada generasi muda islam membuat khawatir berbagai pihak. Jika dibiarkan, maka budaya islam bisa hilang ditelan zaman termasuk marawis. Menyadari hal tersebut, DD Pendidikan dan Dapoer Enterprise bekerjasama gelar lomba marawis pada hari Sabtu, 24 November 2018 di Mall Blok M.

Boyke selaku Ketua Panitia dari Dapoer Enterprise menyampaikan bahwa event ini dilaksanakan sekaligus untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad 1440 H.

“Saya berharap kedepan marawis dapat dijadikan sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah. Jangan sampai marawis tergerus zaman sebagaimana budaya Betawi saat ini” lanjut Boyke

Dalam acara lomba hari ini, tim marawis SMART Ekselensia Indonesia DD Pendidikan berkesempatan tampil menjadi pembuka acara. Wildan selaku vokalis menyampaikan bahwa dirinya sangat senang mendapatkan pengalaman tampil didepan banyak orang. Wildan yang berasal dari Kalimantan Selatan ini juga bercita-cita mengikuti jejak kakaknya yaitu sebagai vokalis marawis.

Salah satu peserta lomba marawis, Muhammad Farhan Nabil dari SMPIT Insan Mubarok juga menyampaikan harapannya.

“Saya berharap agar marawis bisa menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan islam” celoteh Farhan sapaan akrabnya.

Dalam sambutannya, Zulfa dari DD Pendidikan memotivasi peserta agar jangan menganggap perlombaan sebagai beban.

“Hilangkan rasa takut kalah, takut dimarahin, dan ketakutan lainnya. Tapi jadikan moment ini sebagai ajang silaturahmi antar sekolah, guru, dan lembaga lain, dan jadikan perlombaan ini sebagai ajang senang-senang” pesan Zulfa.

Selain untuk menjalin silaturahmi, lomba marawis ini diharapkan dapat menguatkan kolaborasi antara Dapoer Enterprise dan Blok M dengan Dompet Dhuafa Pendidikan.

Tentunya semua pihak juga berharap agar acara ini semakin menambah rasa cinta pada budaya islam termasuk marawis.

Jejak Potensi di Sketsa Pensil

Jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan. Itulah salah satu tujuan field trip kami ketika itu bersama rombongan guru dan siswa SMART Ekselensia Indonesia dari kelas 1 sampai kelas 5. Tentunya ini suatu kegiatan yang meriah dan menyenangkan. Senang rasanya melihat antusiasme para siswa, terutama siswa-siswa kelas 1, yang begitu bersemangat untuk menjumpai atau sekadar menyapa hewan-hewan yang biasanya hanya mereka tonton di TV atau gambar. Aku bertugas mendampingi wali kelas 1 untuk membantu mengawasi dan mendampingi siswa-siswanya. Aku juga naik kendaraan yang sama bersama mereka. Karena aku belum hafal betul nama seluruh siswa kelas 1 dan takut sok tahu serta salah panggil, akhirnya aku bertanya nama dan asal mereka.

 “Hamzah dari Jakarta, Dzah,” jawab anak tinggi kurus yang duduk di samping jendela mobil.

“Saya Sukrismon dari Padang, Dzah,” sahut anak kedua yang duduknya persis di sebelahku.

“Wah… sama dong, Ustadzah juga orang Padang!” kataku senang.

Akhirnya, obrolan kami pun mengalir sepanjangperjalanan. Aku terus berusaha mengetahui latar belakang mereka melalui obrolan-obrolan ringan itu.

“Hamzah sudah pernah ke kebun binatang sebelumnya atau belum?” tanyaku.

“Udah pernah, Dzah, sekali, waktu saya masih SD,” jawab Hamzah.

“Kalau Sukrismon, sudah pernah?”

Belum pernah, Dzah. Ada sih di dekat rumah saya, tapi kami hanya sekadar lewat, tidak pernah ke sana,” katanya dengan logat Sumatera yang masih kental.

“Lho, kok belum pernah? Memangnya kenapa Sukrismon?” tanyaku penasaran.

“Pengen sih Dzah, tapi gak punya uang,” sahutnya polos.

Nyeesss… rasanya wajahku langsung memerah, bodoh sekali menanyakan hal itu dan tidak peka untuk dapat memprediksi jawabannya. Tetapi ia menjawab dengan ringan saja, tanpa beban, walaupun terlihat sekilas keinginannya yang sangat untuk pergi ke sana.

Dalam sekelebat, aku kilas balik ke masa SD. Aku sangat menikmati masa kecilku, terutama saat-saat yang tak terlupakan. Sangat menyenangkan rasanya di waktu istirahat bisa bermain petak umpet, petak jongkok, benteng, main karet, dan lain sebagainya. Begitu pun waktu diajak jalan-jalan ke Taman Mini, Ancol, Ragunan, dan tempat-tempat rekreasi lainnya. Aku pun merasa bahwa seharusnya di masa itu—masa tanpa beban dan menikmati hidup, aku menyebutnya—semua anak kecil sepatutnya sudah pernah

mengunjungi tempat-tempat rekreasi walaupun hanya sekali. Ah, betapa naifnya aku, ternyata masih ada juga anakanak yang kurang beruntung. Aku sungguh terkesan oleh kepolosan Sukrismon. Hmmm, beberapa kali terlintas di benakku, mengapa ia diberi nama Sukrismon? Ia lahir pada tahun 1998, bertepatan dengan tahun terjadinya gonjang-ganjing perekonomian di Indonesia, yang kita kenal dengan sebutan ‘krismon’, krisis moneter. Apakah orangtuanya tidak tahu arti dari krismon? Bukankah nama itu adalah sebuah doa? Apakah menurut mereka nama Sukrismon itu artinya baik? Tak tahulah aku.

Setelah Field Trip ke Ragunan, nama Sukrismon kembali hadir. Bukan karena ia sedaerah asal denganku. Seiring rutinitas sekolah berlanjut, aku cukup sering mendengar bahwa Sukrismon acap kali menjadi biang ribut. Ia tidak henti-hentinya mengganggu teman-temannya. Dengan alasan sekadar iseng, hampir semua dilakukannya secara spontan dan tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Tidak banyak kawannya yang dengan senang hati bersedia menjadi teman dekatnya. Aku jadi bertanya-tanya, mengapa ia seperti itu? Apakah ia tipikal anak yang hiperaktif atau hanya ingin diperhatikan saja? Mungkin saja ia memiliki kelebihan energi yang belum dapat tersalurkan dengan baik.

Sebagai penanggung jawab bidang perlombaan, aku bertekad ingin mengetahui potensi Sukrismon. Ia pasti punya potensi yang menonjol di bidang tertentu, dan semestinya dapat menjadi curahan perhatian hingga energinya bisa disalurkan untuk melakukan hal-hal yang positif. Sampai suatu hari aku dimintai tolong oleh Ustadzah Uci yang ketika itu berhalangan hadir karena tugas lembaga.

Hari itu ada jam pelajarannya, dan aku diminta tolong menyampaikan kepada anak-anak bahwa tugas mereka hari itu adalah meneruskan produk membuat buku yang dikerjakan secara berkelompok sesuai pertemuan sebelumnya.

“Ustadzah Uci gak masuk ya, Dzah?” tanya seorang anak di awal pertemuan dalam kelas.

Iya, Ustadzah Uci lagi ada tugas lembaga, dan beliau berpesan kepada Ustadzah untuk menyampaikan tugas untuk kalian. Ada yang tahu kira-kira apa tugas dari Ustadzah Uci?” aku coba melempar pertanyaan.

“Pasti ngelanjutin produk membuat buku yang kemarin, ya, Dzah?” tebak salah seorang siswa.

“Iya, betul, bagi yang kemarin tidak masuk, tolong bergabung dengan kelompok yang sudah ditentukan. Temanya sudah diberi tahu, kan? Hanya melanjutkan yang kemarin, masing-masing kelompok sudah dibagi-bagi berdasarkan judul bab. Dikerjakan di kertas HVS yang kemarin sudah dibagikan, pewarna sudah disiapkan Ustadzah Uci bagi yang mau meminjam, dan jangan lupa cantumkan nama-nama kelompok kalian, ya.”

“Dikumpulinnya kapan, Dzah?”

“Dikumpulkan hari ini, ya. Maksimalkan waktu yang masih ada.”

 “Kalo enggak dikumpulin sekarang boleh kan, Dzah?” tawar siswa yang lain.

“Boleh saja kalau mau nilainya dikurangi. Kalau dikumpulkan lewat dari jam pelajaran Ustadzah Uci, maka akan ada pengurangan poin penilaian. Semakin lama kalian mengumpulkan dari batas waktu, maka semakin banyak juga poin produk kelompok kalian yang dikurangi. Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Hening sejenak tanda semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang ditanyakan. Sejenak aku berada di kelas itu, yang dihiasi dengan riuh rendah dan lalu lalang anak-anak yang sibuk mengerjakan dan berkoordinasi dengan teman-teman sekelompoknya, mencari konsep yang sesuai, membagi tugas, maupun berdebat tentang gambar dan pilihan warna. Tampaknya serius sekali. Aku hanya tersenyum.

Beberapa kali aku berkeliling untuk melihat hasil kerja mereka yang masih dalam tahap perampungan. Dan aku tidak heran, gambar mereka umumnya bagus-bagus dan kreatif walaupun mereka baru duduk di bangku kelas 1. Aku tidak tahu apakah karena faktor anak laki-laki yang memang dianugerahi bakat lebih di bidang seni, khususnya menggambar, dibandingkan anak perempuan, ataukah memang kultur di SMART yang siswanya dari zaman ke zaman memiliki bakat menggambar yang menonjol dan di atas rata-rata? Setelah semua karya dikumpulkan, aku beranjak ke ruanganku. Aku pun tergoda untuk melihat hasil kerja anak-anak itu. Aku memeriksanya sambil senyum-senyum, melihat gambar-gambar yang menarik dan kreatif, yang dikolaborasikan dengan teori dan rumus-rumus fisika yang sudah diajarkan Ustadzah Uci. Mereka memang cerdas dan anak-anak pilihan. Sampai tibalah di satu kertas, aku terpana melihat suatu gambar yang sangat indah. Sederhana dibandingkan gambar lain yang penuh warna. Gambar yang menarik minatku itu hanya berupa sketsa pensil. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi tampak nyata sekali. Aku penasaran ingin tahu siapa yang membuat gambar itu.

Keesokan harinya, ustadzah Uci berterima kasih dan meminta produk hasil karya anak-anak yang dikerjakan hari sebelumnya. Saat itu juga aku langsung teringat hal yang membuatku penasaran kemarin.

“UN, kemarin aku lihat gambar sketsa tangan di salah satu produk anak-anak, bagus banget deh, padahal Cuma pake pensil. Uni tahu enggak siapa yang buat?” tanyaku. Aku memang terbiasa memanggil Ustadzah Uci dengan sebutan

Uni” karena kami sama-sama orang Padang.

“Yang mana, Din?” tanya Ustadzah Uci sambil mencaricari gambar yang dimaksud.

“Nah, ini nih, yang ini. Bagus banget kan?” tanyaku meminta persetujuan sambil menunjuk gambar tersebut.

“Oh… iya, emang bagus, ini tuh gambarnya Sukrismon,” kata Ustadzah Uci.

Aku pun agak kaget bercampur senang. Akhirnya aku menemukan bakatnya. Belakangan aku diberi tahu, menurut beberapa rekan guru dan guru seni Sukrismon, ia memang berbakat untuk soal seni.

Sampai saat ini, sudah beberapa kali aku merekomendasikannya untuk mengikuti lomba yang berkaitan dengan menggambar. Walaupun ia belum pernah menang, aku yakin suatu saat nanti Sukrismon bisa membawa pulang piala dan mengharumkan nama SMART Ekselensia Indonesia. Jalan masih panjang untuk mengasah keterampilannya menjadi makin baik lagi. []