Pos

Nyesek! Gak Lolos SNMPTN!

Oleh: Johan FJR

Angkatan 7 saat ini berkuliah Universitas Gajah Mada jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK).

Tak pernah terbayang dalam hidupku, seorang perantauan di Bogor yang tinggal di asrama, ditolak kampus sekelas UI. Yap, aku dari dulu memang mengidamankan UI.

Kampus yang punya segudang fasilitas, dan almamater serba kuning ini telah memikat hatiku. Aku dan Ahfie Rofi, sahabat Sunda-Cinaku, menargetkan UI dari berbagai seleksi masuk kampus yang ada. Terhitung sudah ada 3 jenis seleksi yang kami coba: SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK UI. Dan Alhamdulillah semua ditolak mentah-mentah sama kampus serba ‘wah’ itu.

Entah kenapa kami yang memang sedari SMP sudah bersahabat, ternyata berlanjut sampai kuliah. Beruntung kami ditolak di UI, tapi masih diterima di UGM, dan masih bersama hehehe. Mungkin memang takdir persahabatan kami tak berlanjut di UI.

Aku sudah mencoba segala cara agar bisa masuk UI. Di SNMPTN, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Arkeologi UI. Di SIMAK UI, aku pilih Ilmu Komunikasi, Kesejahteraan Sosial, dan Kriminologi. Tapi takdirku justru hadir di pilihan kedua SBMPTN. Berbrda dengan Rofi yang selalu mencantumkan Sastra Arab (Sasbar) ditiap pilihannya.

***

Sore itu gerimis mengguyur Parung, gemericiknya runut membentuk notasi begitu menyentuh aspal. Aroma tanah basah menyeruak, hidung-hidung kami bisa dengan jelas merasakannya dan semburat sinar matahari berusaha menembus awan, memberikan secercah cahayanya untuk aku yang sedang menelpon ibu di balkon barat lantai 4.

“Gantian woi!”

Aku melangkah gontai, resah menunggu pengumuman SNMPTN. Tanganku meraih modul bimbel di atas lemari. Ya, ini buku ‘sakti’ terakhirku. Aku ogah keluar banyak cuma buat beli buku-buku SBMPTN seperti teman-teman yang lain, buku-buku itu pada akhirnya tak berguna karena aku lebih suka liat kunci jawaban langsung atau sekadar ke warnet buat menjajal simulasi daring UN, aku tak mau buang-buang uang.

Keesokan harinya datang juga hari yang kutunggu, hari di mana pengumuman penerimaan via SNMPTN diumumkan. Seharusnya hasil SNMPTN sudah diumumkan pukul 09.00 WIB di TOA sekolah, tapi ternyata belum ada juga. Walau punya nilai rapor yang gak jelek-jelek amat, seuprit prestasi, juga rekam jejak yang gak neko-neko di sekolah, namun hari itu aku gusar. Aku membayangkan kalau aku diterima di UI lewat SNMPTN pasti mengasyikan sekali, membayangkan memakai jaket kuning saja membuat hati ini berdebar. Belum lagi kampusnya lengkap, berangkat kuliah bisa naik kereta, kalau ngekos dekat-dekat situ bisa berangkat kuliah naik sepeda, dan yang jelas bisa naik bis kuning yang hits itu. Aku sudah merencanakan apa saja yang mau aku lakukan di UI. Ikut lomba ini-itu, ikutan di BEM, nge-gym, tinggal di asrama, ngekos di Pocin, banyak! Bahkan aku juga sudah memutuskan kerja apa di Margonda nanti.

Karena tak kunjung ada juga pengumuman lewat TOA, aku mengajak Rofi untuk bertanya langsung ke guru di ruang BK. Aku yakin, di sana guru BK kami pasti sedang mengotak-atik data.

Dari asrama lantai 4, kami melewati wisma guru di lantai 2, dan anak-anak yang sukanya menyaksikan ISL kalau sore di kantin lantai dasar. Asrama kami memang satu komplek dengan sekolah, dalam tiga menit sampailah kami di sekolah dan langsung berpapasan sama bu Ana dan bu Uci.

“Assalamualaikum bu, hasilnya udah keluar belom?”

“Udah, ini bentar lagi ibu mau umumin.”

Aku sama Rofi mempersilakan bu Ana dan bu Uci masuk ke ruang TOA. Ding dang ding dung bunyi TOA yang kami kenal mulai mengudara. Ada suara berdehem, sejurus kemudian pengumuman pun terpampang nyata!

“Assalamualaikum. Hari ini telah didapatkan 11 mahasiswa … blablabla … melalui jalur SNMPTN. Ustadzah ucapkan selamat kepada …”

Jantungku deg-degan BANGET! Rofi menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku jaket angkatan kami. Aku menahan napas, berusaha fokus mendengarkan pengumuman beliau.

“ … Karunia Adiyuda Dilaga, diterima di blablablabla. Muhammad Zulkifli, diterima di blablablabla … ”

Perasaanku mulai gak karuan ketika nama kedelapan disebutkan. Apakah nama kami ada di sana?

“ … Yodie Ikhwana, diterima di blablablabla. Dan Juniar Tirja Pratama Gamgulu, diterima di blablablabla … ”

… nama kesebelas pun terucap. Namaku gak ada. NAMAKU GAK ADA! NAMAKU GAK ADA!

“NAMA AKU GAK ADA FI!” “GAK ADA!” “GAK ADAAAK!” Panik kugoyang-goyangkan bahu Rofi yang kecil. Tremor sudah!

“NAMAKU JUGA!” ujar Rofi

Nyesek dan bertanya-tanya, ‘Masa sih nama kami nggak ada?

Kami berdua mengerubungi Bu Ana, disusul beberapa anak yang baru datang dari asrama. Beliau memberikan selebaran lembar ketikan. Dan benar, nama kami tidak ada. Tanganku lemas sembari membalikan kertas tadi ke pangkuan Bu Ana. Aku diam. Aku gak nyangka, kami berdua gak diterima lewat jalur undangan. Kami berdua pasrah. Hujan deras pun mengguyur kala itu.

***

Kami berdua melangkah lemas, mewek dikit, dan menghindari kerumunan massa. Kami menghindari tangga barat di mana anak-anak sedang nonton teve, takut banyak yang menanyakan kondisi kami akhirnya kami memutar ke tangga timur. Suara jeritan anak-anak yang diterima SNMPTN menggema sampai ke lantai dasar. Gemanya terus terngiang di pikiran kami berdua. NYESEK bro! Aku dan Rofi cuma duduk-duduk di tangga bawah. Merenung dan sedikit bersedih. Gak disangka ternyata kami berdua memang kurang memenuhi persyaratan SNMPTN. Aku sendiri menyadari kalau nilai Ekonomiku anjlok sejadi-jadinya. Tapi masih lebih beruntung dari Rofi yang anjlok sana-sini, hehehe.

Rasanya nyesegh dan pengin maki-maki diri sendiri, ‘Kenapa ya aku gak belajar serajin-rajinnya, atau ibadah 24×7 gitu.’ Dalam kondisi ini, kayaknya aku jadi lebih dekat sama Tuhan, mencurahkan segala isi hati, segala gusar, dan berusaha menenangkan diri dengan baca Quran. Ya, aku yang sebelumnya lemas gegara tak lolos di SNMPTN, makin terpacu karena aku berpikir, “Tuhan mungkin gak memuluskan jalan aku lewat SNMPTN karena menurut-Nya, jalur itu terlalu mudah buat aku. Maka, Ia mencoba menguji kemampuan dan kesabaran aku melalui SBMPTN”.

***

Pada akhirnya kelas bimbel di sekolahku dimulai kembali kala itu. Di dalam kelas wajah-wajah lesu nampak mewarnai kelas yang dimulai pukul 6 dan berakhir jam 7 pagi tersebut, berulang kali guruku bilang, “Kalian sebenarnya jauh lebih beruntung, karena yang diterima di SNMPTN HARUS mengambil apa yang mereka pilih agar sekolah tidak di blacklist. Jadi, kalian yang lewat SBMPTN bisa memilih jurusan kalo cocok ato enggak”. Wah, iya juga. Misalnya si Udin memilih Keperawatan. Entah dia milihnya serius atau enggak, pastinya dia harus ambil dong biar sekolahnya nggak di blacklist kampus itu, hehehe. Aku pun jadi lebih bersemangat dan lebih serius untuk memilih jurusan yang kumau.

Jujur, aku sendiri bingung BANGET untuk memilih jurusan apa.

Terhitung ada ratusan jurusan yang tersedia di kampus. Ketika pembagian jurusan IPA-IPS, maka bisa dibilang berkuranglah jumlahnya. Tapi ketika SBMPTN hanya dikasih 3 kesempatan pilihan, aku kudu banting setir putar otak lompat-lompat sambil lirik-lirik jurusan mana yang prospeknya bagus (ke depannya), juga pastinya santai pas kuliah (#AkuBanget). Setelah melihat profil masing-masing jurusan, cek prospek kerja dan tanya ke alumni sana-sini, aku jatuh hati pada tiga pilihan besar berikut:

  1. Ilmu Komunikasi UI

    Yap, aku suka banget sama dunia jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Menurutku keduanya memiliki keterkaitan dengan hobiku. Selain kampusnya yang udah jelas eksklusif dan kondusif, letak UI yang di Depok strategis buatku jika hendak melancong ke mana-mana: Jakarta, Bogor, Bandung bahkan Singapura.

    2. Sosiatri UGM

    Aku gak tahu sebelumnya kalau jurusan yang getol banget memerhatikan masalah sosial, kebijakan pemerintah, dan dunia perpolitikan ini ternyata sudah berganti nama menjadi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Jurusan ajaib yang mempelajari 3 jurusan (Manajemen Kebijakan Publik, Sosiologi, dan Politik Pemerintahan) sekaligus ini ternyata mempunyai prospek cerah karena banyak perusahaan yang membutuhkan CSR dari lulusan ini. Dan, banyak yang langsung diterima usai wisuda dari sini, hehe.

    3. Jurnalistik Unpad

    Jurnalistik Unpad menjadi jurusan cadangan kalau kalau aku gak diterima di Ilkom UI. Sayangnya aku gak diterima di jurusan yang baru dibuka pada 2015 ini. Tapi mengapa, toh tiap kampus pasti ada pers mahasiswanya (persma).

***

Setelah banting gayung untuk buru-buru mandi mengikuti bimbel pagi, tarik sarung setiap pukul 03.00 WIB, juga belajar sehidup-semati, Alhamdulillah aku diterima di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM. Yap, hidup baruku mulai diukir di kampus ini, kampus kerakyatan. Akan seperti apa? Aku juga tak tahu. Yang jelas untuk adik-adik kelasku jangan menyerah, belajar yang rajin kalau memang kalian ingin masuk ke jurusan favorit di kampus favorit. Yang jelas (lagi) mau SNMPTN atau SBNMPTN, kelak kamu akan jadi maba yang membawa nama SMART dikancah dunia perkuliahan, jaga baik-baik ya.

Oleh: Muhammad Shirli Gumilang (Supervisor Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI))

Kali ini saya berkesempatan menjadi salah satu relawan tim DMC Dompet Dhuafa dalam penanganan pencegahan Covid-19 di Jakarta. Tugasnya begitu sederhana, yaitu melakukan penyemprotan ke wilayah zona merah Covid-19. Awalnya saya pikir demikian. Yah paling kalau nyemprot-nyemprot sih gampang. Tapi ternyata sungguh pengalaman yang luar biasa khususnya buat saya. Pengalaman ini membuat saya angkat topi terhadap para tenaga kesehatan kita.

 

Awalnya saya berpikir “wah kayanya sih seru nih nyemprot pakai APD”. Tapi baru selang beberapa menit saja rasanya spengap sekali. Kaca mata berembun merusak pandangan, nafas tidak teratur terhalang masker, belum lagi aroma disinfektan yang begitu menyengat. Tangan harus kuat memompa tabung cairan disinfektan supaya bisa keluar dan hasilnya menyembur sempurna.

Badan serasa berada di sauna (walaupun belum pernah masuk sauna) keringat terus bercucuran. Perut sudah mulai mual-mual karena terus mencium aroma disinfektan. Baru setelah itu saya merasa bahwa tenaga kesehatan baik perawat dan dokter yang selalu berjaga menyelamatkan jiwa manusia karena dampak Covid-19 ini sangat luar biasa. Setiap hari mereka selalu menggunakan APD Lengkap, bahkan katanya bisa sampai 3-5 kali berganti-ganti APD.

 


Kalimat yang paling cocok untuk menggambarkan tenaga kesehatan hari ini adalah “Kalian memang PAHLAWAN”.

Sob kamu pasti tahu deh kalau Rasulullah adalah contoh sosok motivator yang dapat menjalankan perannya sebagai Rasul, kepala keluarga, pedagang, dan guru bagi umat Muslim tanpa menomorduakan salah satunya, maka patut jika kita menjadikan beliau sebagai motivator dalam beribadah.

 

Allah senantiasa dekat dengan para hamba-Nya, Allah memberi petunjuk bagi hamba-Nya yang beriman pada-Nya, Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa yakin dalam menjalani hidup dan yakin akan kehidupan di akhirat nanti, berikut 17 Ayat Al-Qu’ran tentang motivasi :

1. QS At Taubah : 40

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah selalu bersama kita”. Ketika menghadapi suatu ujian, tak perlu bersedih hati, kebahagiaan dan kesedihan kadang datang silih berganti tergantung bagaimana kita menghadapinya dan mengambil pelajaran darinya. Kembalikan segalanya pada sang pencipta bahwa segala yang terjadi adalah ketetapan yang terbaik dari-Nya.

 

2. QS Al Baqarah : 155 – 156

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar, yaitu yang ketika ditimpa musibah mereka mengucapkan : sungguh kita semua ini milik Allah dan sungguh kepada-Nya lah kita kembali”.  Sabar bukan hal yang mustahil untuk dimiliki semua mukmin, ketika ditimpa suatu ujian kadang kita menyalahkan diri sendiri atau bahkan menyalahkan takdir. Ingatlah bahwa segala ujian pasti ada hikmah di dalamnya.

 

3. QS Yusuf : 87

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah melainkan orang orang yang kufur”.  Harapan selalu ada bagi orang yang percaya, hadapi setiap tantangan dalam hidup dengan niat mencari ridho-Nya, lakukan usaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan disertai dengan doa. bahaya putus asa dalam Islam sudah jelas di dalam Alquran, berarti ia bukan termasuk golongan orang beriman.

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu berharap”. Orang mukmin senantiasa berharap hanya kepada Allah, bukan kepada orang lain atau berbangga diri berharap sepenuhnya dari diri sendiri. Dalam setiap kepentingan hendaknya melibatkan Allah dengan memohon kemudahan dan keberkahan dari-Nya.

 

5. QS Al Mukmin : 60

Berdoalah kepada ku pastilah aku kabulkan untukmu”. Setiap kali memiliki hajat atau menginginkan sesuatu hendaknya mengusahakan dengan sungguh sungguh dan meminta pada Allah untuk mengabulkan hajat anda. Allah senang pada hamba-Nya yang senantiasa berdoa, karena doa menghubungkan langsung antara seorang hamba dengan Allah.

 

6. QS Al Imran : 139

Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman”. Tidak diperkenankan senantiasa memandang diri sebagai orang yang buruk atau penuh kekurangan, setiap manusia mendapat anugrah dari Allah berupa kelebihan dan kelemahan masing masing. Berpikir negatif terhadap diri sendiri menandakan kurang nya rasa syukur. Maksimalkan kelebihan yang Haqers punya untuk kebaikan dan jadikan kekurangan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri.

 

7. QS Al Baqarah : 186

Hendaknya mereka memenuhi perintah Ku dan hendaklah mereka yakin kepada Ku agar selalu berada dalam kebenaran”.  Ikuti perintah Allah dan syariat Islam dalam kehidupan sehari hari agar anda berada pada jalan yang lurus, senantiasa yakin kepada Allah bahwa setiap insan yang diciptakan memiliki peran dan bermanfaat untuk orang lain.

 

8. QS Al Baqarah : 286

Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya”. Jelas sekali dalam firman tersebut Allah senantiasa mengasihi hamba-Nya, tidak akan diberikan ujian jika hamba-Nya tidak sanggup melewati. Karena itu tidak selayaknya kita berputus asa dalam menghadapi segala tantangan hidup.

 

9. QS. Al Imraan : 200

Bersabarlah kamu dan kuatkkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu menang”. Allah memerintahkan kepada orang orang beriman untuk senantiasa berusaha dalam kesabaran dan keyakinan. keutamaan sabar dalam Islam memang sangat dianjurkan.

 

10. QS. Al Insyirah : 5

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Jika seorang hamba menghadapi sebuah ujian dan menghadapinya dengan ikhtiar dan doa serta dalam kesabaran, maka Allah akan menunjukkan baginya petunjuk berupa jalan keluar atau kemudahan atas kesulitan yang dialaminya, seusai dari selesainya ujian tersebut akan lebih menguatkan tingkat keimanannya.

 

Demikian pembahasan tentang ayat Al-Qur’an yang mengandung motivasi, amalkan setiap ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar kita senantiasa memiliki motivasi untuk memperbaiki diri dan menjadi manusia dengan kualitas keimanan yang lebih baik. 

 

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Founder Ekselensia Tahfizh School)

 

“al-wahmu nishfu al-da՛i wa al-ithmi՛nanu nishfu al-dawa՛i wa al-shabru bidayatu al-syifa՛i; kecemasan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan,” Ibnu Sina. Pernyataan Ibnu Sina, yang sering disebut sebagai bapak kedokteran Islam, rasanya hari-hari ini menemukan aktualisasinya. Wabah Covid-19 tak bisa dinafikan telah membuat masyarakat merasakan kecemasan dan ketakutan berlebihan.

 

 

Bahkan, sebuah stasiun televisi nasional pernah membahas topik ini. Seorang narasumber acara tersebut, yang berprofesi sebagai dokter kejiwaan (psikiater), menyampaikan bahwa cukup banyak masyarakat yang berkonsultasi karena merasa cemas dan takut akibat wabah Covid-19.

 

 

Kemudian, mereka mengidentifikasikan gejala-gejala Covid-19 kepada dirinya. Ada yang memeriksakan diri karena merasa batuk dan sesak nafas. Namun, ternyata setelah didiagnosa tidak ada peradangan di kerongkongannya dan tidak ada masalah dengan paru-parunya. Mereka mengalami psikosomatis (penyakit fisik akibat tekanan psikis).

 

 

Teman-teman saya pun ada yang mengalami hal demikian. Mereka merasa tertekan secara psikis dan dihantui kekhawatiran berlebihan. Akibatnya, badan terasa lemas dan tidak bergairah. Sebagian ada yang merasa pusing, asam lambungnya naik, dan mual. Padahal, sebenarnya mereka baik-baik saja. Hanya, karena cemas dan tegang memicu gejala-gejala fisik tersebut. Kondisi tersebut sebetulnya merugikan fisik kita. Sistem imun kita akan drop (menurun). Sistem imun akan terhambat memproduksi antibody untuk melawan virus, kuman, dan bakteri yang mungkin masuk ke dalam tubuh. Maka, kemampuan mengelola rasa cemas dan takut berlebihan akibat wabah Covid-19 menjadi penting.

 

 

 

Dari penelusuran penulis, salah satu faktor paling signifikan yang membuat banyak orang merasa cemas berlebihan adalah overload (melewati batas) mengonsumsi informasi seputar Covid-19 melalui media sosial. Masalahnya, informasi seputar Covid-19 yang beredar di media sosial, terutama whatsapp group, tidak sedikit berupa informasi yang justru menimbulkan perasaan horor. Misalnya, sebuah portal berita online pernah menulis dengan judul, virus corona mampu bertahan di udara selama tiga jam, dengan mengutip penjelasan dari WHO (world health organization). Padahal, menurut penjelasan dr. Erlina Burhan, RSUP Persahabatan, pemahamannya tidak seperti itu, kemungkinan tidak membaca utuh penjelasan WHO. Maksud pernyataan WHO bahwa virus corona dapat bertahan tiga jam di udara adalah saat proses intubasi pada pasien Covid-19 untuk pemasangan ventilator terjadi mekanisme aerosol. Maka, WHO mengingatkan para dokter dan tenaga medis agar menggunakan masker N-95, bukan masker bedah untuk perlindungan diri.

 

 

 

Lalu, berita ini dibagikan ke group-group whatsapp, termasuk penulis juga memperoleh broadcast berita ini di sebuah group whatsapp. Apa yang terjadi? Banyak orang semakin merasa cemas dan takut terpapar Covid-19 melalui udara. Maka dari itu, langkah efektif yang bisa dilakukan untuk meminimalisir rasa cemas dan takut berlebihan selama wabah Covid-19 adalah social media distancing, menjaga jarak dari media sosial. Kita tidak bisa mengendalikan isi berita dan pembahasan di media sosial, namun kita mesti bisa mengendalikan diri kita untuk menarik diri dan menjaga jarak dari media sosial.

 

 

Kurangilah aktifitas dan waktu kita dalam bermedia sosial. Lebih baik alokasikan waktu untuk aktifitas yang lebih produktif, seperti membaca buku, bercengkrama dengan keluarga, atau berkebun di pekarangan rumah. Berkebun dapat mengurangi tekanan psikis dan menyeimbangkan mental kita. Dalam psikologi warna, dominasi warna hijau memberikan kesan ketenangan dan mengurangi stres.

 

 

Beberapa penelitian ilmiah mengemukakan bahwa aktifitas yang berhubungan dengan alam dan lingkungan mampu membantu pemulihan kesehatan mental, mengurangi tingkat stres, mengembalikan konsentrasi, dan meningkatkan produktivitas (Maller et al, 2005).

 

 

Selain itu, agar media sosial kita sehat, semestinya ada kesadaran kolektif dari seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menyebar atau membagikan berita-berita seputar Covid-19 yang dirasa bisa menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Berita tentang kematian pasien Covid-19, keganasan virus corona, dan sejenisnya adalah berita-berita yang bisa menekan psikis pembacanya, lalu menimbulkan kecemasan dan ketakutan.

 

 

Janganlah kita menambah beban para tenaga medis dengan menghadirkan kecemasan dan ketakutan di media sosial. Seperti kata Kang Bima Arya, Wali Kota Bogor, “Virus ini menyerang hati dan jiwa sebelum pernafasan dan paru-paru. Social media itu ibarat ICU raksasa. Runtuh mental semua orang kalau digempur berita Covid-19. Drop imunitas.”

 

 

Maka dari itu, selain social media distancing, menjadi warganet yang baik dan bertanggung jawab adalah upaya solutif untuk turut serta menanggulangi wabah Covid-19. Bayangkan jika banyak orang yang merasa cemas dan takut berlebihan, lalu imunitasnya drop. Maka, mereka akan rentan terpapar Covid-19.

 

 

Sebaliknya, jika semua warganet bertanggung jawab dengan cara hanya menyebarkan atau membagikan berita positif di media sosial seputar Covid-19, semisal berita kesembuhan pasien Covid-19, virus corona bisa dilawan dengan imunitas yang baik, maka psikis masyarakat tidak akan terganggu. Justru bisa menimbulkan ketenangan. Dampaknya imunitas tubuh meningkat, sehingga relatif tahan dan kebal dari paparan virus. Harapannya, ini bisa berdampak positif pada upaya mempercepat penanggulangan wabah Covid-19 di negeri kita tercinta.

 

Oleh: Ahmad Shofwan Syaukani

Hari ini sudah beberapa minggu menjalankan berbagai aktivitas #dirumahaja. Jenuh dan bosen jadi dua kata yang saat ini aku rasakan. Apalagi sebagai orang ekstrovert yang kalau nyari semangat itu biasanya harus ketemu sama orang lain. Bukan berarti ketika aku di rumah nggak ada orang yang bisa diajak buat nyari semangat, tapi sebagai orang yang terbiasa keluar rumah, berdiam lama-lama di rumah itu bukan aku banget.

Fenomena penyebaran Covid-19 in nggak cuman dirasakan oleh 30 provinsi masyarakat Indonesia saja, melainkan sudah menyebar luas secara global ke berbagai negara kecil maupun besar. Virus ini tidak memandang status sosial dan ekonomi, siapa saja bisa tertular. Kematian merupakan skenario terburuk bagi orang yang terkena Covid-19. Siapa sangka makhluk kecil satu ini mampu meluluhlantahkan umat manusia dalam rentang waktu yang singkat. Dampak yang terjadi pun dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Pendapatan yang menurun, sedangkan pengeluaran harus terus dilakukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan membuat sebagian masyarakat kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya esok hari, mahalnya harga masker dan kebutuhan alat kesehatan, stigma negatif kepada korban maupun petugas medis, dan gangguan psikososial yang menimpa masyarakat akibat cemas terkena Covid-19.

Tentunya sebagai seorang muslim, kita jangan sampai lupa untuk mengaitkan fenomena-fenomena seperti ini sebagai pertanda akan datangnya hari kiamat. Jangan lupa kalau kita sedang hidup dipenghujung zaman. Kala dukhon melanda, kemudian Dajjal berkeliling dunia, menebar pesona ke berbagai kota, maka bersembunyi di rumah adalah pilihan utama jika kita tak bisa pindah ke Mekkah dan Madinah. Sampai saatnya hari itu tiba, mungkin saat ini kita sedang dilatih oleh Allah swt. untuk mampu menghadapi masa-masa itu (nanti).

Sampai pada akhirnya, mungkin tagline #dirumahaja akan menjadi sesuatu hal yang sangat relevan dikemudian hari kala tanda kedangan kiamat semakin mendekat. Sampai sini aku mulai bisa sedikit sadar kalau ternyata ada hikmah yang bisa diambil. Rasulullah saw. pernah bersabda, “baitii jannati” yang artinya rumahku adalah surgaku. Hal tersebut menandakan bahwa rumah itu tidak hanya sebatas tempat kita makan dan tidur saja, melainkan ada keberkahan, ketenangan dan kasih sayang yang harus diciptakan oleh para penghuninya.

Terlepas dari banyaknya pro-kontra yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia hari ini, tagline #dirumahaja mengajarkan kepada kita bahwa menjadi orang tua merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan dan dipersiapkan dengan baik, khususnya dalam menghadapi kondisi darurat seperti bencana hari ini. Memikirkan untuk bagaimana caranya membuat dapur terus berasap (memasak), membayar tagihan listrik dan BPJS tetap jalan, cicilan barang yang belum lunas, dan mendidikan anak-anak selama di rumah. Kesiapan hal pangan dan finansial dalam menghadapi kondisi-kondisi darurat seperti ini merupakan sesuatu hal yang harus dipersiapkan sedemikan rupa. Kalau aku memposisikan diri sebagai kedua orang tua aku sekarang, mungkin ada secercah kagum atau hal-hal yang baru disadari ketika kondisi darurat sepert ini sedang terjadi. Dan menjadikan kita sebagai seorang anak untuk bisa mempersiapkan itu semuanya dikala kondisi-kondisi darurat tersebut hadir, khususya ketika diri kita nanti yang memainkan peran sebagai orang tua itu sendiri.

Sedih memang dikala banyak orang mengkampanyekan untuk #dirumahaja, akan tetapi ada banyak pula orang-orang yang harus pergi keluar rumah untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Mungkin bagi sebagian yang lain kondisi keluarga mereka berbeda. Fenomena tersebut hendak harus membuat kita semakin bersyukur kepada Allah swt. karena masih diberikan kesempatan untuk tetap #dirumahaja. Sedangkan bagi mereka yang memutuskan untuk pergi keluar rumah jangan pula kita tak acuh begitu saja kepada mereka. Jadikan bentuk syukur yang Allah berikan terhadap kenyamanan kita untuk membantu dan menolong orang-orang yang membutuhkan. Kemewahan apa lagi yang bisa kita lakukan selain menolong orang yang sedang membutuhkan dikala kita mampu melakukannya? Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah kan ehehe.

Kalaupun kita belum sanggup terjun langsung untuk menolong orang lain, sekarang sudah banyak pula gerakan-gerakan yang menginisasi untuk membangun kesadaran membantu sekaligus membuka peluang-peluang bagi kita yang mampu untuk berdonasi membantu sesama yang membutuhkan. Setidaknya kita-kita hari ini dapat sedikit merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Yaman, irak, afrika, ughyur, serta negara-negara lainnya yang terisolasi di tempat sendiri, kehilangan orang yang dicintai, kecukupan makanan, kenikmatan beribadah, kebebasan yang dibatasi, dan berada dibawah ancaman kematian kaan?

 

Ternyata tagline #dirumahaja mampu menggambarkan banyak hikmah dan pembelajaran bgai manusia yang menggunakan akalnya. Membuat aku sadar kalau masih banyak yang harus diperbaiki dan dipersiapkan untuk masa depan Indonesia nanti. Terima kasih kepada para petugas medis, relawan serta orang-orang baik yang turut serta membantu sesama dalam menghadapi masa sulit ini bersama-sama. Indonesia bisa, Indonesia hebat. Lawan Covid-19!

 

Dalam tiga bulan terakhir, dunia dilanda oleh COVID-19. Per tanggal 3 April 2020 Pukul 13:47 terdapat 1,016,424 kasus positif dan sekitar 53,241 orang meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, ada kasus sebesar 1,790 yang mana 170 orang di antaranya telah tiada. Berbagai aktivitas warga terhenti. Semuanya diminta untuk menjaga jarak dan kebersihan diri. Situasi yang penuh dengan ketidakpastian dan abnormal seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengambil keuntungan. Diskusi daring ini akan mendiskusikan apa-apa yang bisa kita lakukan sebagai rakyat untuk melawan para penunggang gelap sekaligus merespons isu-isu terkini dari perspektif masing-masing.

 

 

Saatnya  kita diskusi santai Sob lewat kanal Live Instagram @fathuurr_ dan @alfathindonesia pada Sabtu, 4 April 2020 Pukul 20.00 WIB.

 

Karena kita #TemanBerpikir.

 

====

Diskusi ini membuka donasi lawan COVID-19 lewat https://kitabisa.com/campaign/gerakbersihincorona

Kami Tidak Takut! UNBK 2018 Akan Kami Taklukkan

 

Rasa baru kemarin kami melaksanakan sidang Karya Ilmiah Siswa SMART (KAISS), tetiba Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 sudah datang saja. Sekadar informasi untuk kalian, Ujian Nasional (UN) tahun ini kami menggunakan sistem berbasis komputer alias UNBK seperti tahun sebelumnya. “Lalu apa sih UNBK?” Mungkin sebagian dari kamu  belum tahu apa itu UNBK, UNBK adalah Ujian Nasional Berbasis Komputer atau biasa juga disebut Computer Based Test (CBT) di mana sistem pelaksanaannya menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan.

Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada 2014 secara daring (online.pen) dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Selanjutnya secara bertahap pada 2015 lalu akhirnya dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri.

Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-daring yaitu soal dikirim dari peladen (server.pen) pusat secara daring melalui jaringan (sinkronisasi) ke peladen lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh peladen lokal (sekolah) secara luring (offline.pen). Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari peladen lokal (sekolah) ke peladen pusat secara daring. Yang jelas kami telah mempersiapkan dengan baik segala sesuatu yang berhubungan dengan ujian yang –katanya- menentukan nasib kami di masa depan ini.

Jauh sebelum UNBK tiba kami sudah sibuk belajar, belajar, istirahat, belajar, dan belajar. Kelihatannya belajar melulu ya? Padahal tidak juga kok, ada waktu di mana kami bisa bersantai, bahkan mungkin terlalu santai hehe. Mulai hari ini, Senin (09-04) hingga Kamis (12-04) kami akan berjuang dan bertarung dengan soal-soal yang menentukan kelulusan kami. Keheningan jelas menyelimuti SMART, karena selama Kelas XII melaksanakan UNBK, kelas di bawahnya (kelas VII, VIII, IX, X) tidak boleh ribut untuk menghormati kakak-kakak kelas yang sedang melaksanakan UNBK; para adik kelas juga dilarang ke Laboratorium Komputer SMP, tempat dilaksanakannya UNBK.

Dari tahun ke tahun ada ritual yang selalu kami lakukan sebelum masuk ke kelas untuk melaksanakan ujian lho, pukul 06.30 WIB kami sudah berkumpul di masjid untuk melaksanakan Salat Duha agar hati lebih tenang, sekaligus meminta kemudahan ketika mengerjakan soal yang diujikan. Setelahnya kami berkumpul untuk doa bersama yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah. Ketika dirasa cukup dan hati kami sudah lebih tenang kami baru diizinkan masuk ke kelas. Berbeda dengan ujian di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini peserta ujian dibagi menjadi tiga shift yakni pukul 07.30-09.30 untuk Kelompok 1, pukul 10.30-12.30 untuk Kelompok 2, dan pukul 14.00-16.00 untuk Kelompok 3. Lalu kenapa dikelompokkan? Karena mencegah terjadinya keriuhan dan koneksi yang kurang stabil, oleh karenanya ujian dibagi menjadi tiga bagian.

Tahukah kamu kalau setiap tahunnya SMART (Alhamdulillah) berhasil meluluskan semua muridnya dan rerata capaian sekitar 97% diterima di PTN kenamaan? Oleh karenanya banyak pihak yakin kalau UNBK 2018 mampu membuat SMART meluluskan semua siswa-siswanya dan masuk PTN favorit, aamiin.

“Jujur deg-degan banget, tapi karena sudah belajar dan yakin pasti bisa, jadinya tak khawatir lagi. Bismillah saja pokoknya,” ujar Iqbal, Kelas XII IPS, harap-harap cemas. “Kalau saya sih yakiin bisa, saya merasa percaya diri sekali hari ini,” kata Devon, Kelas XII IPA, menimpali.

P_20180409_091509_HDR

Ada 53 siswa yang mengikuti UNBK, selama empat hari kami akan berjuang menyelesaikan mata pelajaran yang  di-UNBK-kan. Untuk mata pelajaran yang diujikan sendiri antara lain Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Lalu ada satu hari khusus untuk mata pelajaran pilihan yakni Biologi, Fisika, dan Kimia untuk jurusan IPA. Ekonomi, Geografi, Sosisologi untuk jurusan IPS.

Oh iya sekadar informasi untuk kalian, kalau setiap tahunnya banyak juga lho teman-teman kita yang stres menjelang dan saat ujian tiba, pun kami merasakan hal yang sama. Selain (mungkin) karena kurangnya persiapan dan kesiapan, bisa juga karena standar yang dipatok lumayan tinggi. Nah kami ada beberapa tips nih untuk kalian agar tidak stres menghadapi UNBK tahun depan:

  1. Kamu harus siap lahir batin! Jangan anggap UNBK sebagai momok menakutkan, anggap saja ulangan biasa dengan soal yang lebih menantang.
  2. Persiapkan mental dan diri sebaik mungkin, karena yang tahu kapasitasmu kan hanya kamu.
  3. Banyak-banyak berdoa karena kekuatan doa itu maha dahsyat.
  4. Jangan lupa sarapan sebelum ke sekolah, karena sarapan terbukti mampu menambah daya konsentrasi.
  5. Percaya diri dan jangan pernah menyontek!
  6. Kerjakan soal yang menurut kamu paling mudah.

Semoga tips tersebut membantumu

Kami mohon doamu ya, semoga kami bisa mengerjakan soal dengan baik, mendapatkan nilai yang baik, dan bisa masuk PTN yang kami inginkan. Kami juga mendoakan agar kalian semua juga lulus dengan nilai terbaik aamiin! Doakan kami juga ya Sobat SMART! (AR)

#SMARTSemangat #Ritme

 

 

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

“Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd”

 

foto-1

 

Hujan mengguyur sedari Minggu (11/09) malam. Di masjid sekolah kami takbir mulai berkumandang, saling sahut dengan Masjid Al-Madina disebrang jalan, riuh rendah suaranya, dan entah kenapa terasa menenangkan.

Lalu kami tersadar kalau tahun ini kami kembali merayakan Hari Raya Idul Adha di SMART, namun hal tersebut tak membuat kami sedih karena kami merupakan keluarga besar yang selalu ada untuk satu sama lain. Nah, agar Idul Adha tahun ini lebih berkesan kami bersatu padu mempersiapkan berbagai hal supaya perayaan dan pelaksanaan Shalat Ied esok berjalan dengan baik.

“Yang paling saya suka di SMART itu kekeluargaan dan gotong royongnya, bahagia rasanya bersama-sama menyiapkan banyak hal untuk shalat esok hari,” ujar Ibnu, Kelas XII IPA.

Bukan hanya Ibnu Sob, semua siswa SMART pasti merasakan hal yang sama, merasakan ikatan yang kuat walau kami berasal dari daerah dan keluarga yang berbeda. Ah sudah larut, saatnya tidur, esok akan menjadi hari yang indah untuk kami.

 

foto-2

 

Senin (12/09) – Hari Raya Idul Adha 1437 Hijriah yang kami nanti akhirnya tiba. Walau semalam hujan ternyata pagi ini cuaca begitu cerah, udara begitu segar, kami sudah rapi jali; wangi dan siap melaksanakan Shalat Ied. Oh iya kamu sudah tahu belum sejarah Idul Adha? Hmmm kalau belum akan kami ceritakan sedikit ya.

Semua dimulai dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Nabi Ibrahim menanti lama untuk mendapatkan momongan, ia membutuhkan waktu 96 tahun hingga akhirnya diberi keturunan. Selama kurun waktu tersebut ia tak berputus asa dan terus berikhtiar hingga akhirnya lahirlah Ismail.

Setelah Ismail besar, Allah SWT memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail.  Ibrahim jelas kaget, namun sebagai hamba yang taat maka ia mengikuti perintah Allah SWT. Lalu ia meminta pendapat Ismail: “Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail pun menjawab: “Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, Insha Allah engkau akan menemuiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Mendengar perkataan Ismail, hati Ibrahim terenyuh. Dengan keikhlasan, ketaqwaan, dan keimanan, Ibrahim akhirnya menyembelih Ismail. Tetapi saat pisau telah bersarang di leher Ismail, pisau tersebut malah tak mampu melaksanakan tugasnya, lalu Allah berfirman: “Wahai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata” (Ash Shoffat: 104-106).

Kemudian Allah berfirman dalam Surat Ash Shoffat: 107
“Dan Kami tebus (ganti) anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. Malaikat Jibril pun datang dengan membawa seekor domba yang besar

 

Itulah sepenggal sejarah dibalik Hari Raya Idul Adha Sob, semoga kisah di atas makin memperkuat ketaatan kita pada Allah ya.

Oke kembali lagi ke perayaan Hari Raya Idul Adha di SMART ya. Shalat Ied di SMART dimulai pukul 06.30 WIB, suasana begitu khidmat dan tak satu pun dari kami yang berbicara, semua fokus untuk beribadah sebaik-baiknya. Sekitar pukul 07.30 WIB Shalat Ied selesai dilaksanakan dan kami segera berhamburan ke asrama untuk berbenah, berganti pakaian, lalu segera meluncur ke lapangan untuk melihat prosesi pemotongan hewan kurban.

 

foton-3

 

Di lapangan teman-teman kami sudah berkumpul. Ada yang sedang memberi makan hewan kurban, ada yang –berusaha- membantu panitia, ada yang bermain dengan adik kelas, ada juga yang membaca buku. Iya kamu tak salah baca, siswa SMART memang gemar sekali membaca buku di mana pun Sob.

 

Photo Courtesy Dompet Dhuafa

Photo Courtesy Dompet Dhuafa

 

Nah agar tak terjadi kesemrawutan karena banyaknya siswa SMART di lapangan, maka Panitia Kurban mengumpulkan kami dan membagi kami ke dalam beberapa kelompok. Ada yang terpilih membantu panitia ketika penyembelihan, ada yang bertugas membantu menguliti hewan kurban, dan ada yang betugas membantu membungkus; menimbang serta mendistribusikan hewan kurban pada warga. Semua tugas kami kerjakan dengan baik, kami senang sekali, lagi-lagi pengalaman baru kembali kami dapatkan. Oh dan kami juga mendapatkan beberapa kantong daging Sob, Alhamdulillah.

 

Photo Courtesy Dompet Dhuafa

Photo Courtesy Dompet Dhuafa

 

Photo Courtesy Dompet Dhuafa

Photo Courtesy Dompet Dhuafa

 

Setelah semua selesai kami berkumpul lagi untuk nyate, semua angkatan tumplek blek menikmati hasil kerja keras yang telah kami lakukan. Berhari raya di SMART selalu menyenangkan, setiap tahunnya banyak hal baru menyapa kami dan kami tak bosan dibuatnya. (AR)