Tahun Tahunku di SMART Ekselensia Indonesia

Oleh: Yudi

Kelas 5 Jurusan IPA

 

10423883_1046184145445609_2216341307783267451_nAku tidak tahu apakah pemikiranku benar atau salah, aku berpikir SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah yang berbeda dengan sekolah berasrama lainnya. Layaknya Taman Mini Indonesia Indah (TMII)  yang merangkum seluruh adat dan budaya setiap provinsi di Nusantara, begitu pun SMART Ekselensia Indonesia. SMART EI adalah miniatur Indonesia yang merangkum ratusan kepribadian serta bermacam cara pandang. Selama lima tahun menjalani masa-masa indah di kampus biru SMART Ekselensia Indonesia banyak pengalaman yang kudapatkan.

Teringat  pada tahun pertama, aku hanyalah seorang bocah yang duduk memikirkan rumah. Mungkin aku akan terus dalam posisi itu apabila seorang Bali tak menyapaku, ia mengajakku berkenalan dengan yang lainnya. Yap itulah pelajaran pertamaku dari anak Bali yang kutemui di hari pertama. Darinya aku belajar bahwa teman itu dicari, didatangi, tak ada orang yang tertarik dengan si pendiam yang membosankan. Di tahun pertama juga aku belajar caranya waspada, terutama waspada ketika bermain bola. Terdengar aneh sih tapi tak mengapa hehe. Pertama kali bermain bola di SMART EI, aku langsung mendapatkan pengalaman tak mengenakkan, tendangan kakak kelas yang super kencang mengenai perutku dan membuatku perutku nyeri. Lalu pernah juga gawang setinggi dua meter menimpa kakiku, mau tahu rasanya? Sakiiit, sakitnya lebih sakit dari sakit hati hahaha. Di tahun yang sama aku akhirnya merasakan hukuman karena aku melanggar aturan, aku dihukum karena aku meladeni seorang lelaki kelahiran Padang yang mudah naik darah dan mudah tersulut amarahnya, namun dari situ aku belajar banyak terutama belajar meladeni orang lain dengan melihat kepribadian mereka.

“Ceritanya di tahun pertama saja nih?” Tentu saja tidak, di tahun kedua bahkan aku belajar lebih banyak lagi di SMART EI.  Sebut saja ia “kesabaran”, aku jadi teringat ketika tak sengaja aku menendang seorang teman yang hendak mengikuti lomba, lagi-lagi aku kena hukum dan membuat temanku kesusahan, kesabaranku diuji karena musibah seperti tak ada habisnya menerpaku.  Belum selesai dengan itu semua sekarang tiba masa di mana aku mulai bosan dengan yang namanya belajar, sehingga nilai-nilaiku buruk di semester pertama. Seperti itulah kehidupan tahun keduaku.

Di tahun ketiga aku dikejutkan dengan banyak hal, salah satunya ketika keunggulan semua siswa SMART EI diuji, di akhir tahun kami harus menghadapi UKK dan UN dan kami harus mengulang materi SMP lalu kembali memperkuat materi kelas 1 SMA, tentu saja tidak mudah, apalagi bagiku yang saat itu sedang bosan. Bahkan nih di semester pertama aku menempati peringkat bawah kelas, fuh mau tak mau aku harus berusaha lagi.  Di akhir tahun nilai UN ku ternyata kurang bagus bahkan bisa dibilang buruk, namun nilai raporku menempati 5 besar di kelas.

Hingga akhirnya tiba di tahun keempat, aku mengikuti tiga organisasi sekaligus saat itu. Dengan berorganisasi banyak hal kudapat, salah banyaknya organisasi mengajarkanku tentang  bagaimana harus –makin- bersabar menghadapi ketidakpatuhan adik kelas dan menghadapi ego kakak kelas di organisasi, memutar otak mencari solusi agar organisasi tetap berjalan baik tanpa masalah, bermusyawarah untuk mufakat, dan memutuskan hal sulit yang kadang dianggap mudah. Selain itu organisasi mengajarkanku membuat acara yang tadinya terlihat musathil menjadi nyata dan prosesnya sungguh menyenangkan, di sinilah hidup terasa benar-benar hidup. Tahun keempatku melelahkan, tapi juga menyenangkan. Mungkin ini tahun terbaik untukku. Mungkin.

Namun diantara semua tahun yang aku jalani di SMART EI, tahun kelima merupakan tahun yang paling melelahkan. Aku dan teman-temanku harus rela meninggalkan organisasi yang kami bina, harus rela meminimalisasi kegiatan yang kurang bermanfaat karena kami harus fokus pada Ujian Nasional (UN), SNMPTN, dan SBMPTN. Hari-hariku dipenuhi dengan belajar, belajar, bimbingan, belajar, bimbingan. Agak monoton dan sedikit membosankan, tapi aku harus melakukannya demi masa depan yang lebih baik. Di tahun kelima ini aku belajar bagaimana belajar bersabar pada level yang lebih tinggi lagi. Lima tahun di SMART EI sungguh merubahku menjadi pribadi yang lebih baik, dan tak terasa ini adalah tahun terakhirku, waktuku di sini tinggal sebentar lagi. Sedih? Jelas namun aku juga harus terus maju.

Buatku SMART EI bukan sekadar hanya sekolah, pulang ke asrama, tidur, makan, shalat. Bahkan di sini akan ada waktu ketika kami tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan bahkan tidak kembali ke asrama dari sekolah yang hanya berjarak sangat dekat. Namun semua kenangan di SMART EI tak akan pernah aku lupakan. Semua kebahagiaan, kesedihan, kebersamaan, persaudaraan, bahkan rasa kesal akan tetap kusimpan sampai kapan pun. Setiap tahun di sini mengandung makna dan pelajaran yang kelak akan berguna saat aku pergi meninggalkan kampus tercinta ini.

 

11 Mei 2016

Pusing memikirkan SBMPTN, doakan aku ya