Tak Perlu Takut, Itu Hanya Lomba

Tak Perlu Takut, Itu Hanya Lomba

 

Ini adalah kisahku sewaktu masih mengenyam pendidikan di SMART, saat ini aku telah berkuliah di Universitas Gajam Mada (UGM), aku harap cerita ini bisa membuatmu lebih semangat untuk belajar.

 

Oleh: Muhammad Fatihkur Rafi, alumni SMART Angkatan 9 Berkuliah di UGM

 

di suatu siang kami para siswa tangguh SMART Ekselensia Indonesia dan beberapa ustaz pergi ke Masjid Raya Kahuripan. Kami semua sangat bersemangat walaupun harus berjalan kaki. Setelah berjalan akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Di sana ustazah yang pergi dengan naik kendaraan masing-masing telah menunggu kedatangan kami.

Sebelum Salat Zuhur dan makan siang, para siswa diminta ke lantai dua masjid. Inilah saat untuk asyik-asyikan. Ustaz Ahmad sudah mempersiapkan beberapa permainan yang akan kami mainkan per kelas. Kunci dari permainan-permainan ini adalah kerja sama tim yang baik. Permainan ini dimulai dari memindahkan bola kecil dengan menggunakan paha. Cara bermainnya adalah seluruh siswa duduk berjejer, lalu cara memindahkan bolanya dengan mengoperkannya dari satu paha ke paha yang lainnya.

Permainan selanjutnya tidak kalah seru, yaitu satu siswa dengan siswa yang lainnya per kelas harus menduduki paha temanya, dan temanya itu juga harus menduduki teman yang lainnya lagi. Permainan pun dimulai, kami saling menduduki paha teman satu dan yang lainnya. Awalnya sih biasa saja, tetapi, selang beberapa menit rasa pegal mulai merambat. Satu per satu kelompok mulai berjatuhan. Akhirnya permainan pun dihentikan dan menyisakan empat kelompok sebagai pemenangnya.

Setelah semua permainan selesai, kami melaksanakan salat berjamaah.  Lalu kami diminta mengambil nasi kotak yang telah disediakan untuk makan siang. Setelah membuka boks makanan, yang kulihat adalah… hati. Oh tidak! Dari kecil aku memang kurang menyukai jeroan. Untunglah di dalam boks masih ada buah kesukaanku, semangka. Yes, Alhamdulillah. Ternyata dibalik kekurangan ada kelebihan.

Selesai makan siang kami menunggu jemputan pulang. Sambil menunggu, aku bermain dengan teman-teman. Karena capek berdiri terus, aku pun duduk di teras dan kebetulan di samping kiriku ada Ustazah Dina dan Ustazah Iif. Saya mengobrol dengan teman di samping kanan.

Beberapa saat kemudian Ustazah Iif baru menyadari kehadiranku. “Eh ada Opick.”

“Bukannya Opick itu nama panggilan Ade Mustopic?” tanya Ustazah Dina kepada Ustadzah Iif.

“Iya, tapi Rafi di rumahnya juga dipanggil Opick,” jawab Ustazah Iif.

Ustazah Dina berseru tanda paham. Kemudian mereka mengobrol, entah membicarakan apa.

Beberapa saat kemudian obrolan kedua guruku berakhir. “Pick, siap-siap lomba ya!” Tiba-tiba Ustazah Iif berkata. “Lomba Zah?” tanyaku. “Iya,” jawab Ustazah Iif beberapa saat kemudian. Aku pun berkata dalam hati, “Yes, akhirnya lomba juga!”

Aku begitu riang. Maklumlah, dari kelas 1 sampai saat itu aku belum pernah mengikuti lomba resmi.

Beberapa hari kemudian aku diberikan contoh soal Olimpiade Matematika oleh Kak Afdhal Firman. Soalnya susah-susah juga, batinku. Ternyata yang mengikuti lomba bukan hanya aku. Ada lima orang lainnya, yaitu teman seangkatanku Ade Mustopic, dan sisanya siswa Angkatan 8, yaitu Kak Fatih, KaK Afdhal, Kak Muhib, dan Kak Dion. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Kak Fatih, Kak Afdhal; sisanya tergabung dalam kelompok kedua.

Inilah hari pertama kami mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Bogor. Sekitar pukul 06.30 kami sudah siap untuk berangkat ke MAN 2 Bogor, tempat dilaksanakannya lomba. Menunggu dimulai, kami melaksanakan Salat Dhuha terlebih dahulu di Masjid Raya Bogor, kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam mengikuti lomba.

Kami kembali ke MAN 2 Bogor untuk mengikuti acara pembukaan. Setelah selesai pembukaan, para peserta  memasuki ruangan lomba yang sudah disediakan. Ruangannya cukup sederhana dengan kursi dan meja terbuat dari kayu. Juga ada kreasi siswa yang menghiasi dinding ruangan itu.

Para pengawas, yang merupakan kakak mahasiswa, mulai membagikan soal olimpiade dan juga kertas buram untuk corat-coret. Beberapa menit kemudian kami mulai membuka soal dan mengisi biodata. Berikutnya kami mulai mengerjakan soal.

Menit demi menit berlalu. Akhirnya waktu habis dan kami berhasil menjawab 14 soal dari 25 soal. Setelah itu kami langsung keluar kelas lalu melaksanakan Salat Zuhur. Setelah salat kami langsung makan di rumah makan padang sebelum akhirnya kami pulang.

Beberapa saat kemudian, kami mendapatkan informasi bahwa kami lolos ke babak selanjutnya, yaitu olimpiade tingkat provinsi di Bandung. Alhamdulillah, kelompokku lolos, namun ternyata kelompok Ade Mustopic belum berhasil lolos.

Dalam perlombaan tingkat provinsi kami menghadapi dua sekolah yang dikenal tangguh. Kami sudah berusaha keras, dan hasilnya kami meraih juara ketiga. Meskipun belum berhasil menjadi juara pertama, aku senang sekali memberikan piala untuk SMART. Itulah piala pertamaku dan piala pertama di Angkatan 9. Piala tersebut bukanlah piala pertama sekaligus piala terakhirku.