Temnas I KOMPARASI: Tujuh Konsep Mengaqilkan Anak Belum Balig yang Pengasuh Asrama Harus Tahu!

Temnas I KOMPARASI: Tujuh Konsep Mengaqilkan Anak Belum Balig yang Pengasuh Asrama Harus Tahu!

 

 

Bogor – Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temnas I KOMPARASI ajak 230 pengasuh asrama selami fenomena legalitas remaja melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig” bersama Adriano Rusfi, Psikolog,

 

 

Merujuk pada literatur psikologi abad ke-19 tak ada istilah masa remaja (adolescence), karena masa remaja adalah produk abad ke-20 di mana lahir generasi dewasa fisik (balig) namun tak dewasa mental (aqil). Fenomena ini menciptakan fenomena legalitas remaja, seolah-olah anak dibiarkan berlama-lama menjadi anak-anak. Maka, lahirlah generasi yang matang syahwatnya, tetapi tanpa kematangan akal.

 

 

Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI mengajak 230 pengasuh asrama mendalami fenomena ini melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig Namun Belum Aqil” bersama Adriano Rusfi, Psikolog, yang dilaksanakan Minggu (01/12), di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor.

 

 

“Karena masih remaja dan dianggap belum dewasa maka usia remaja dianggap belum matang dan masih belum bisa menentukan sikap hidupnya,” ujar Adriano. Ia menambahkan jika saat ini banyak pemuda sudah balig tapi belum akil. ”Inilah tugas penting seorang pengasuh asrama untuk membimbing siswa binaannya agar mampu berpikir lebih matang, mandiri, dan bisa bertanggung jawab dengan hidupnya,” tegasnya.

 

 

Fenomena legalitas remaja tersebut menimbulkan banyak kerancuan di publik, salah satunya jika pemuda berusia tujuh belas tahun sudah mampu berbuat kejahatan, tetapi karena usianya, status hukumnya masih masuk dalam kategori anak-anak. Menurut Adriano dalam Islam seseorang sudah memasuki tahap balig maka ia dianggap telah dewasa.

 

 

“Ketika pemuda telah balig seharusnya ia dididik sebagai manusia dewasa, sesuai usianya. Hanya saja umat Islam ikut latah dengan pembenaran atas keliru didik yang fatal ini,” ujar Adriano.

 

 

Adriano menjelaskan, pengasuh asrama memiliki tugas besar membawa kehidupan siswa sekolah berasrama dan pondok pesantren kepada situasi ideal. “Pengasuh asrama disarankan tak hanya mencari sumber masalah (trouble shooting), tapi juga sebagai pemecah masalah (problem solving) melalui pendekatan terbaik,” jelasnya.

 

 

Dalam pemaparannya Adriano mengonsep tujuh hal yang dapat dilakukan pengasuh asrama sebagai strategi mengaqilkan anak balig  antara lain

  • Jangan menganggap periode remaja sebagai keniscayaan, karena remaja adalah produk kebudayaan,
  • Didiklah anak-anak menjadi dewasa bukan setengah dewasa, melalui pendekatan diskusi
  • Didik mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka menggunakan pendekatan consequential learning,
  • Libatkan mereka dengan permasalahan hidup; jangan sterilkan mereka dari hidup dan perjuangannya
  • Besarkan mereka di tengah realitas untuk memecahkan masalah
  • Didik mereka belajar untuk mencari nafkah, walaupun hanya sekadar menambah uang jajan,
  • Ajari mereka berorganisasi, berempati terhadap problematika sosial, dan berpikir untuk menemukan solusinya.

 

 

“Anak bukan makhluk bodoh, belajar terpenting bagi mereka ialah belajar menjadi dewasa. Latih mereka dan jadikan asrama tempat berkehidupan,” tutupnya. (AR)