,

Tentang Alif, Tentang SMART

The Power of Words

Irani Soraya

 

Bayangkan ditangan anda saat ini ada dua bilah golok. Golok pertama amat indah, rapi, mengkilap lagi terasah dengan baik seolah mencerminkan ketajaman dan kekuatannya. Golok kedua, adalah golok yang terlihat tidak meyakinkan, permukaanya dipenuhi karat, tampak tidak rapi apalagi meyakinkan. Golok yang mana yang akan anda pilih jika anda hendak memotong sebatang bambu? Golok pertama pasti yang terpilih, permukaannya yang halus, mengkilap lagi memperlihatkan ketajamannya. Tapi bagaimana jika golok pertama tidak dihujamkan dengan sekuat tenaga, akan tetapi hanya dipantulkan atau di pukul-pukulkan saja dengan sekenanya pada sepotong bambu, apakah bambu akan terpotong, mungkin tergores atau lecet tapi tidak akan terpotong. Dan bagaimana jika golok kedua yang karatan lagi tak meyakinkan kita hujamkan dengan sekuat tenaga keatas bambu, mungkin butuh waktu lama akan tetapi pasti bambu dapat terpotong oleh golok yang kedua.

 

Kisah tersebut diceritakan oleh salah seorang ustaz dalam kisah negeri lima menara yang ditulis oleh Ahmad Fuadi[1].  Petuah ini diberikan saat sosok Alif diceritakan mulai nyantri di pesantren Madani, proses pendidikan yang dialami Alif kecil ini tidak semulus beberapa teman dekatnya, alif yang masuk ke dunia pesantren dengan “terpaksa” beberapa kali terkena hukuman akibat ketidak disiplinan, diceritakan juga betapa Alif begitu kesulitan untuk menghafal pelajaran-pelajarannya di pesantren madani, dibandingkan dengan Baso tokoh sahabat dekatnya yang begitu jenius.

 

Kisah tentang golok diatas diceritakan oleh salah satu pimpinan pondok Pesantren Madani yang diceritakan oleh Fuadi.  Sebuah semangat untuk bekerja keras dalam mencapai apapun, dan semangat untuk melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, dengan sebuah totalitas.

 

Alif kecil hanyalah seorang anak dari tepi danau Maninjau yang begitu bermimpi untuk masuk SMA untuk kemudian melanjutkan ke Universitas, namun jalan hidupnya berkata lain, ibundanya menitipkan cita-cita baginya untuk belajar agama, sebuah permintaan dari bunda yang ytak mungkin ditolak. Alif kecil akhirnya menjalani harapan dari orang tua yang amat dikasihi serta dihormatinya itu, dan pada akhirnya pendidikan dalam pesantren Madani itulah yang banyak mewarnai segala perjuangan Alif dalam mencapai impiannya untuk bisa menginjakkan kaki ke Amerika. Kekuatan Alif berasal dari 2 kalimat yang dilantunkan berkali-kali di pesantren madani yaitu “Man Jadda Wa Jadda (siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan sampai pada yang dicita-citakan)”dan kalimat yang kedua adalah “Man Shabara, Dzafira(siapa yang bersabar ia akan menang)”. Inilah energi yang banyak menggubah jiwa, energi yang berasal dari kata-kata baik. Energi inilah kiranya yang kita dapat tangkap dalam kisah negeri lima menaranya Fuadi, bahwa dalam memperjuangkan segala impiannya manusia pasti akan mengalami berbagai tantangan dan hambatan, akan tetapi hanya mereka yang mampu tetap totalitas, tetap bekerja keraslah yang akhirnya akan mencapai garis akhir.

 

Begitupula yang guru-guru SMART rasakan, mendidik para pemuda yan berasal dari berbagai daerah, memisahkan mereka dari kampung halaman dan dari kasih sayang keluarga. Proses pendidikan yang dilalui pun bukan setahun dua tahun tapi lima tahun, meliputi tiga tahun pendidikan SMP dan dua tahun tingkat pendidikan SMA, tantangan jadi semakin berat, sebagaimana pesantren madani yang Alif dan kawan-kawannya rasakan, di SMART pun menerapkan sistem asrama dengan aturan ketat soal keluar masuk maupun soal barang elektronik. Bayangkan seorang anak SMP di tahun 2020 bukankah biasanya sedang kerajingan handpone dan PS? namun di SMART mereka harus menghafal Qur’an, giat belajar, dan berjuang demi masa depan. Siswa-siswa SMART adalah harapan bagi dirinya, bagi keluarganya, dan bagi daerahnya.Cinta ilmu, kerja keras, santun, jujur dan bertanggung jawab adala nilai-nilai yang senantiasa kami tanamkan kepada pemuda-pemuda ini.

 

Sebuah pepatah pernah berkata: “seorang jenius selalu bisa dikalahkan oleh seorang yang bekerja keras, dan seorang pekerja keras akan selalu dikalahkan oleh seorang yang mencintai pekerjaannya[2]”, pepatah tua ini berbicara banyak, bahwa manusia tidak boleh hanya berbangga hati dengan kecerdasan yang tinggi, karena kecerdasan yang tinggi tanpa adanya dorongan untuk berbagi dan bermanfaat maka akan seperti pepatah lainnya “ Ilmu tanpa amal maka bagaikan pohon tanpa buah[3]” artinya kemanfaatannya kurang dapat dirasakan oleh orang lain. Begitu pula cerita tentang dua bilah golok diatas, meskipun golok pertama tampak rapi, mengkilap akan tetapi tanpa usaha yang sungguh sungguh dalam menghujamkannya ke bilah bambu maka golok tersebut hanya menyebabkan lecet-lecet saja. Inilah gambaran orang yang merasa cukup dengan kejeniusan dan kecerdasan semata.

 

Pepatah-pepatah dan kisah-kisah telah lama digunakan sebagai pelipur lara dan penghiburan, namun penggunaanya sebagai sebuah motivasi belum banyak tergali. Jika Alif kecil seorang anak dari kampung di tepi danau Maninjau akhirnya mampu menginjakkan kakinya di benua Amerika dengan diantar oleh “kekuatan kata”dari ustaz dan guru-gurunya, kiranya kita dapat memulai untuk mengucapkan kata kata yang memberi inspirasi, kata-kata yang menumbuhkan jiwa orang orang terdekat dan kerabat, kata kata yang mampu menyembuhkan , maka masihkan kita biarkan lisan ini untuk mengeluarkan kekecewaan dan kemarahan?

 

[1]    Ahmad Fuadi, Negeri Lima Menara.Gramedia Pustaka, 2009. Jakarta.

[2]    Kata-kata ini diucapkan dalam Drama Korea”Love and Bread”saat kakek menasehati Kim Tak Gu, Indosiar, 2010.

[3]    Aslinya berbunyi “al ilmu bila ‘amalin kasajari bila tsamarin’ biasanya ditulis didinding -dinding pesantren sebagai motivasi santri