Tentang Memilih Pemimpin

Oleh: Syafei Al Bantanie, GM Sekolah Model

Siang hari yang cerah, seorang lelaki bernama Jundub bin Junadah Al-Ghifari mendatangi Baginda Rasulullah. Ia adalah salah seorang sahabat dekat Baginda Rasul. Asalnya dari Bani Ghifar. Sebuah komunitas suku badui di pegunungan yang jauh dari peradaban kota. Sahabat mulia ini mengajukan diri menjadi gubernur kepada Baginda Rasul.

Pengajuan diri lelaki ini sangat wajar. Saat keislamannya, dengan gagah berani ia proklamirkan keimanannya di depan tokoh-tokoh Quraisy. Meski risikonya ia babak belur dihajar tokoh-tokoh Quraisy. Lelaki inilah yang sangat berjasa meng-Islam-kan nyaris sebagian besar Bani Ghifar.

Sebelah kaki lelaki ini disebut oleh Baginda Rasul jauh lebih berat daripada gunung Uhud karena kesalehannya. Ya, tak ada yang ragukan bobot kesalehan dan ketakwaan lelaki ini.

Namun, Baginda Rasul tak mengabulkan pengajuan diri lelaki ini untuk menjadi gubernur. Baginda Rasul sampaikan dengan lembut, “Sesungguhnya engkau ini lemah dalam kepemimpinan. Sejatinya, jabatan itu amanah. Jabatan akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan benar dan menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula” (Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3: 164).

Lelaki ini lebih dikenal dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari.

Ternyata, tidak setiap orang saleh layak menjadi pemimpin. Apalah lagi seseorang yang sama sekali tidak saleh, bahkan berbeda akidah. Tentu saja jauh lebih tidak layak lagi menjadi pemimpin. Karena syarat utama menjadi pemimpin adalah kesalehan dan ketakwaan, baru kemudian kompetensi kepemimpinan.