The Power of Nyinyir

Oleh: Susilowati, S.Pd

Anggota Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) Makmal Pendidikan sekaligus Aktivis Komunitas Guru Menulis (KAGUM)

Nyinyir dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung kata kerja sekaligus kata sifat. Nyinyir adalah kata kerja yang artinya mengulang-ngulang pembicaraan sambil membebek, ngenye, atau mencibir. Bisa kita simpulkan bahwa nyinyi\r adalah kata atau kalimat-kalimat yang memiliki kesan nada sinis dan merendahkan lawan bicara kita baik secara individu maupun kelompok.  Fenomena bahasa nyinyir ini sedang hangat, mengeliat, dan membaur dalam setiap space kalimat yang dipos oleh teman-teman kita di media sosial. Biasanya tulisan bernada nyinyir ini betah membenam di saat kejadian-kejadian terhangat yang terjadi di negeri ini. Sebagai contoh nyata adalah gelombang aksi damai yang telah terjadi di tiga putaran yang diselenggarakan di ibu kota negara. Aksi damai yang dilakukan jutaan ummat Islam dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Ada pro ada kontra itu sudah pasti. Dari pro dan kontra inilah undangan kata –kata nyinyir menghambur keluar begitu saja. Tak peduli norma atau etika. Yang terpenting melalui kalimat-kalimat tersebut terekspresikan syahwat bicara (syahwatu qoola) untuk melemahkan lawan bicara baik dari pihak yang pro maupun yang kontra. Dapat dipastikan bahwa kalimat nyinyir menjadi kendaraan terkuat dalam perang opini di tengah problematika ummat saat ini, tanpa terkecuali.

Bagaimana Islam memandang fenomena ini?  Mari kita renungkan kembali beberapa hadis berikut ini:

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklan bicara yang baik-baik atau diam (HR. Bukhari)”

“Seorang mukmim bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk (Hr. Bukhari dan Al Hakim).”

“Kebanyakan dosa dari anak Adam karena lidahnya (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bihaqi)”

“Yang paling aku takutkan dari ummatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah (HR. Abu Ya’la)”

Risalah Islam memerintahkan kaum muslim agar menjaga lisan (lidah), gunakan lisan untuk berbicara hal-hal yang baik saja atau lebih baik diam, tidak mengumpat, tidak menyakiti , bahkan berkata keji. Atau bicara dalam kepura-puraan.

Islam memberi perhatian khusus tentang lisan. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh seorang muslim baik yang menyangkut urusan pribadi maupun orang banyak hendaknya berasaskan  sumber atau ajaran Islam yang benar. Karena lengkapnya ajaran Islam meliputi seluruh persoalan hidup ummatnya. Jangan berbicara atau jangan mengikuti jika kita tidak mengetahui tentangnya atau janganlah bertaqlid (mengekor) buta tanpa risalah yang benar baik sumber maupun asalnya. Kelak apa-apa yang kita lisankan akan mengundang pertanggungjawaban dihadapan-Nya. Nasihat dan seruan dalam Islam tidaklah menyakiti. Nasihat atau kata dalam Islam yang bersumber dari ajaran Islam mengandung kebenaran sejati yang dapat memuaskan akal dan menentramkan hati karena bersumber dari pemikiran yang cerdas dan cemerlang (Fikrul mustaniir).

Kita kembali ke kalimat-kalimat nyinyir tadi, apakah kalimat-kalimat tersebut bisa dipertanggungjawabkan? Atau malah memicu pertengkaran antar pribadi atau kelompok. Kita sudah bisa menilai dan bila itu terjadi tentunya menjadi pertanggungjawaban masing-masing baik di hadapan manusia maupun di hadapan Sang Khalik. Kalimat atau pernyataan baik itu muncul dari pribadi cerdas, cerdas karena isi kepalanya memiliki sumber perkataan yang berasal dari kajian ilmu yang ia miliki. Ia tidak membebek atau pun nyinyir bahkan sekadar ikut-ikutan. Mulutmu harimaumu itu adalah benar. Bagaimana jika kita ingin memiliki harimau yang jinak? Maka carilah ilmu untuk menjinakan harimau tersebut. Begitu pula dengan kata. Jika kita ingin memiliki kata atau kalimat yang baik, menentramkan, menunjukan kebaikan kepada orang lain berdasarkan pandangan agama, maka carilah ilmunya.
Mari bijak dalam berkata, karena kekuatan sebuah kata adalah ilmu. The power of  the speech is  knowledge. Mari kita berikan setiap kata adalah inspirasi, bukan menyakiti. Berkatalah dengan ilmu. Wallahu’alam.