Tobi

13645111_1253525344657720_6303200642392524960_n

Oleh: Dede Iwanah, Guru IPS SMP SMART.

Badannya ramping, mungkin paling di kelas atau bahkan angkatannya. Rona wajahnya suram, entah bakat alam atau sekadar untuk memperdaya para lawan bicara. Bisa swafoto dengan senyumnya adalah sebuah hal langka. Tutur kata dan gesturnya hampir berbanding lurus dengan ekspresinya. Tobi, itulah namanya. Ia adalah salah satu siswa kelas cerdas istimewa di SMART Ekselensia Indonesia. Kini, ia berada di kelas XI program IPS, sesuai pilihannya.

Adapun Icha, tampak kontras dengan Tobi Ifanda Putra. Ia senantiasa memberikan senyuman dan sapaan kepada setiap insan. Pipinya tembam apalagi saat tertawa. Gemas sekali melihatnya. Ia pun tidak sungkan menyapa orang yang baru dilihatnya. Tidak jelas memang ucapannya, namun semua memakluminya. Ya, maklumlah karena Icha hanyalah seorang balita. Tiga tahun usianya.

Tobi adalah anak didik umi*, sedangkan Icha adalah anak kandung umi. Bukan tanpa maksud umi menyandingkan keduanya di pelaminan, eh, di dalam tulisan maksud umi.

Icha, putri bungsu umi, kini tidak bisa jauh dari tempat umi bekerja. Ia kini belajar, bermain, dan beraktivitas di day care Bumi Pengembangan Insani. Ini adalah sebuah program baru yang berada di Bumi Pengembangan Insani, sebuah program yang sangat membantu para karyawan yang memiliki putra atau putri yang masih harus mendapatkan perhatian ekstra.

Icha dan Hira menjadi peserta perdana program tersebut. Dua balita cantik, aktif, cerdas, dan menggemaskan, terutama bagian pipi mereka tentu saja. Icha telah beberapa kali berganti pengasuh sehingga cukup mudah beradaptasi dengan orang-orang baru. Terkadang tidak sulit bagi Icha untuk menunjukkan rasa sayang kepada pengasuhnya. Akan tetapi, beberapa kali Icha pun kesulitan untuk dekat dengan pengasuh lainnya meski sang pengasuh sudah menjaga Icha dalam durasi cukup lama. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada jalan lain selain mencari pengasuh baru. Mungkin benar apa kata orang, anak kecil tidak bisa berbohong, dia bisa merasakan kasih sayang dan ketulusan hati seseorang.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Waktunya Icha pulang belajar dari day care, tempatnya belajar. Akan tetapi, karena sore itu umi harus mengikuti rapat di kantor, Icha pun harus turut serta dalam rapat tersebut. Tak lama berselang, Icha merasa bosan dan memutuskan bermain dengan Hira yang juga turut menunggu bundanya yang sedang rapat. Akhirnya, umi mengantar Icha menemui Hira di Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan. Sesampainya di sana, Icha menemukan Hira sedang bermain dengan Kak Tobi. Melihat wajah Kak Tobi, Icha pun urung mendatangi Hira dan sang lelaki asing.

Tidak lama duduk bersama Umi, lagi-lagi Icha merasa bosan dan keluar ruangan tanpa ucapan. Beberapa waktu kemudian, Bunda Hira menyampaikan bahwa Icha sudah bergabung dengan Hira dan Kak Tobi menjadi tiga sekawan. Awalnya umi heran, namun rasa tersebut terlupakan saat Hira tersenyum menawan. Setelah rapat selesai, akhirnya Icha pamit kepada Hira dan Kak Tobi untuk pulang.

Keesokan harinya, Icha belajar kembali di PSB dan bertemu dengan Kak Tobi untuk kali kedua. Sesekali terlihat Icha berusaha merebut hati Kak Tobi dari Hira. Tampaknya konflik dan intrik akan segera terjadi di antara mereka bertiga. Hira yang telah menganggap Kak Tobi bagaikan kakak kandungnya, tentu tak rela kehilangan kasih sayang sang kakak. Icha, sebagai seorang balita, tentu ingin menunjukkan egonya. Ia ingin juga mendapatkan hati Tobi Ifanda Putra. Sungguh kisah drama yang adiwarna.

Entah dengan ilmu apa, entah dengan teori siapa, Tobi bisa menyatukan hati Hira dan Icha. Kini mereka menjadi trio tak terpisahkan. Trio unik dan nyentrik yang terdiri seorang remaja dan dua orang balita.

Sore itu, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, sudah waktunya Icha dan Hira pulang. Mereka berdua bersiap-siap untuk segera pulang. Dan, di saat itu juga, Icha melihat Kak Tobi dengan kakak lainnya menuju lapangan futsal SMART Ekselensia Indonesia. Drama kembali terjadi. Icha seolah tak ikhlas memalingkan pandangan dari Kak Tobi. Icha ingin menyaksikan bagaimana perjuangan Kak Tobi saat beradu fisik dan strategi di lapangan futsal hingga tiga puluh menit beranjak dari pukul 16.00.

Sampai pukul 16.30, Icha tetap tidak mau beranjak dari duduknya. Berkali-kali umi berhitung memberikan kesempatan Icha menonton permainan futsal, namun usaha itu selalu gagal. Icha tetap tidak mau pulang.

Mulut kecilnya berujar bahwa Icha hanya mau pulang jika diantar Kak Tobi! Seketika itu umi terkaget bukan kepalang. Umi pun kemudian berusaha memberikan pengertian bahwa Kaka Tobi sedang bermain, tidak bisa mengantar Icha pulang. Usaha umi kembali gagal sehingga umi meminta tolong kepada seorang kakak yang berada dekat tempat Icha duduk untuk menyampaikan permintaan Icha kepada Kak Tobi nan cemerlang.

Untuk beberapa saat, Kak Tobi tidak memenuhi permintaan Icha karena sedang asyik bermain futsal. Icha terlihat sedih sekali. Air hangat seolah akan segera meleleh dari mata sayunya. Kekecewaan nyaris saja menghinggapi dirinya. Namun, tidak beberapa lama kemudian, sang pahlawan pun datang. Akhirnya, Kak Tobi keluar lapangan dan memenuhi permintaan dan mengantar Icha pulang. Tidak sampai rumah memang. Sampai parkir motor pun sudah membuat Hira senang. Icha dan Kak Tobi pun harus mengucapkan salam perpisahan di sore hari yang mendung dan cukup kelam.

Sejak hari itu, berbagai pertanyaan timbul di benak saya. Entah mengapa Hira dan Icha begitu nyaman bermain dengan seorang Tobi Ifanda Putra. Bukan karena fisik pastinya. Bukan juga karena harta tentu saja. Mungkin hanya ketulusan hati anak-anak kecil itu yang bisa menjawabnya.

Di balik wajahnya yang (maaf) suram dan kelam itu, ternyata seorang Tobi memiliki hati istimewa. Hati yang mungkin tidak dimiliki orang lain yang berpenampilan lebih wah. Tobi memiliki kekayaan dan ketulusan hati untuk mencintai anak-anak kecil yang manja. Ia tulus, tanpa meminta apa-apa. Sorot mata Tobi menunjukkan betapa ikhlasnya saat ia bersama Hira dan Icha. Pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak peraih beasiswa Dompet Dhuafa. Darinya, kita belajar bahwa penampian fisik bukanlah segalanya, darinya kami belajar keikhlasan. Terima kasih, Tobi Ifanda Putra.

 

*umi merupakan panggilan sayang siswa SMART, anak, dan suami kepada ibu Dede (red.)