Pengalaman TRASHIC BRISHIC

1403698_512119908884459_1634055705_o

Oleh: M. Iqbal Rifqi Ardianto,

Alumni SMART E I Angkatan 7, personil tim TRASHIC BRISHIC.
Mahasiswa Ekonomi Islam FEB Universitas Airlangga

 

Di SMART Ekselensia Indonesia banyak ekstrakulikuler yang bisa kami pilih, salah satunya Trashic alias Trash Music.  Di Trashic kami mencoba memanfaatkan barang-barang bekas untuk dijadikan serangkaian alat musik.

Setiap kali manggung kami harus menyewa angkot untuk mengangkut barang-barang yang diperlukan karena jika menggunakan mobil pribadi khawatir mobilnya akan lecet tergores “barang rongsokan” yang kami bawa. Maka tak heran ketika kami memasuki kawasan elit seperti mall, banyak orang yang melihat kami dengan tatapan penuh curiga kadang cenderung sinis, seakan-akan kami merusak pemandangan di mall tersebut.

Ada satu pengalaman menarik ketika kami tampil di salah satu mall di daerah Serpong, kala itu kami diundang untuk mengisi acara disebuah ajang pencarian bakat.  Kami turun dari angkot dan membawa satu per satu peralatan “perang” kami. Ketika sampai di depan pintu utama mall, satpam menghentikan kami dengan tegas, “Kalian mau ngapain?!”
“Maaf pak, kami pengisi acara di dalam, kami diundang oleh panitia,” sahut kami bersamaan.

Pak satpam sedikit keheranan, “Oh, tidak bisa, kalian tidak boleh lewat sini, harus lewat samping, ini mengganggu pengunjung,” lanjutnya.

Malas ribut, kami pun mengalah. Akhirnya kami masuk lewat pintu samping walau jaraknya agak lebih jauh. Kami letakkan semua perlengkapan kami di belakang panggung. Perlengkapan Trashic kami lumayan banyak, sebut saja panci, ember, botol kaca, jerigen, gentong plastik, dan lain-lain.

Setelah menaruh semua perlengkapan kami di tempatnya, tiba-tiba seorang panitia menghampiri dan menyampaikan kalau waktu tampil kami masih sekitar dua jam lagi alias masih lama. Sebagai anak asrama yang jarang ke mana-mana, maka kesempatan ini tak kami sia-siakan begitu saja, saatnya menjelajah dan berkeliling mall.

Dua jam berlalu, kami kembali ke belakang panggung. Alangkah terkejutnya kami ketika mendapati peralatan kami terisi banyak sekali sampah di dalamnya. Kemudian kami melihat seorang pengunjung melintas sembari membuang sampahnya di perlengkapan kami. Ooh kami paham, ternyata perlengkapan manggung kami dikira tong sampah oleh mereka. Emosi? Jelas, but whatever, sebentar lagi mereka akan melihat penampilan kami.

Kami lumayan terkejut karena panggung tempat kami tampil berada di tengah-tengah mall. Akhirnya waktu kami tampil tiba, awalnya deg-degan, namun karena kami sangat percaya diri maka hilang semua deg-degan yang menghinggapi diri ini. Tak dinyana banyak pengunjung yang menghentikan langkah mereka untuk menyaksikan kami, sekarang kami  menjadi pusat perhatian. Dengan senyum sangat merekah kami tampil dengan penuh semangat membara. Bidikan kamera hape tak henti-hentinya mengarah pada kami, tepuk tangan meriah seperti tak putus diberikan untuk kami, benar-benar pengalaman yang menyenangkan.

Penampilan kami pun selesai. Setelah berbenah, kami lambaikan tangan pada pak satpam yang pagi tadi menghentikkan langkah kami.